Sambut Geopark Belitung Masuk UGG

Eforia Itu Tercemari Kekeringan Ekstrem

FOTO: Istimewa

COWASJP.COM – Saat ini masyarakat Belitung sedang euforia menyambut rencana penetapan Geosite Geopark Belitung menjadi UNESCO Global Geopark. Namun pada saat yang sama, sedang berlangsung perusakan lingkungan secara terang-terangan yang potensial memusnahkan mega-biodiversity sungai Lenggang dan Geosite Tebat Rasau.

Masyarakat dan aktivis lingkungan di Belitung Timur pun mendesak penyelamatan geosite Geosite Tebat Rasau dan Sungai Lenggang. Mereka menuntut pemerintah daerah dan pemerintah pusat untuk bertindak cepat mencegah bencana ekologi yang saat ini serius mengancam geosite tersebut.

Mereka meyakini, bencana ekologi itu dipicu oleh aktivitas penambangan timah di badan sungai dan pembukaan pintu air Bendungan Pice. Pembukaan pintu air bendungan ini menyebabkan terjadinya kekeringan ekstrem.

Kekeringan-Ekstrem-2.jpg

Ketua Yayasan Tarsius Center Indonesia, Budi Setiawan yang menyaksikan sendiri fenomena itu menceritakan. Sampai dengan Juni 2019, kondisi air di sungai Lenggang dan Tebat Rasau masih normal. Ketinggian air berada di kisaran 1,5 meter. Namun, terhitung sejak 15 Juli 2019, terjadi kekeringan ekstrem dan berlangsung sangat cepat. Melanda sungai Lenggang, khususnya di bagian hulu, termasuk di dalamnya Geosite Tebat Rasau.

Budi dengan lembaganya, selama ini menjadi pendamping pengembangan Komunitas Tebat Rasau di Desa Lintang, Kecamatan Simpang Renggiang, Belitung Timur. 
Budi menceritakan, kekeringan ekstrem tersebut, menurut pengakuan masyarakat,  hanya biasa terjadi pada musim kemarau yang panjang. 

”Kekeringan yang meliputi seluruh kawasan, termasuk tempat pemijahan alami ikan, juga belum pernah terjadi sebelumnya,” tuturnya.  

Budi melanjutkan, cepat surutnya air, merupakan akibat dari dibukanya pintu air Bendungan Pice. Hal itu yang kemudian menyebabkan banyak ikan, udang, dan berbagai biota air lainnya tidak sempat bermigrasi atau berpindah. Mereka terjebak dan mati mengering.

Fakta lain menunjukkan, muasal dari bencana ini adalah adanya penambangan timah di badan sungai. Tambang ini mengotori sungai dan air baku PDAM. Untuk menghindari limpahan air sungai ke air baku serta mengurangi kejenuhan air akibat pencemaran itulah pintu air bendungan kemudian dibuka. 

Langkah tersebut berdampak serius. Ketahanan air di atas Bendungan Pice hingga hulu sungai terbuang dengan sangat cepat.

Budi menambahkan, jika ulah dari segelintir orang ini dibiarkan, maka tidak hanya lingkungan yang hancur. Kehidupan ribuan orang di sepanjang sungai juga terdampak. ”Demikian pula mega-biodiversity sungai Lenggang hingga Geosite Tebat Rasau, yang baru mau menuju Geopark Dunia, terancam hilang dan punah,” jelasnya. (*)

Pewarta :
Editor : Erwan Widyarto
Sumber :

Komentar Anda