Tol Termahal, 50 Meter Bayar Rp 120 Ribu

Rieke "Oneng" Dyah Pitaloka Intan Purnamasari dan Erwan Widyarto (penulis). (FOTO: Erwan Widyarto)

COWASJP.COM – Hari Sabtu (27/7) ini bener-bener hari penuh drama. Sejak berangkat ke Bandara Halim (HLP). Hingga saat mendarat di Adisucipto (JOG).

Biasanya, saya selalu ngecek jadwal keberangkatan. Memastikan betul jamnya. Maskapainya. Juga bandaranya. Sehingga saat berangkat semuanya begitu pasti.

Tol-Termahal-2.jpg

Tapi, Sabtu tadi. Saya sepertinya menjadi Kudatuli. Sebagaimana tanggal 27 Juli biasa diperingati. Saya yakin saja kalau pesawat saya berangkat jam 07.55 dari HLP. Maka begitu bangun Subuh, saya sudah siap-siap. Sudah mandi juga. "Pesawat jam segitu, dari rumah jam 05.30 aman. Sabtu jalanan sepi." Begitu kakakku berkata malam sebelumnya.

Saat sudah siap, saya sempat membuka aplikasi taksi online. Tidak enak membangunkan kakak untuk mengantar ke Bandara. Eh, begitu driver taksol siap, harus cancel karena yang antar juga sudah siap. 

Akhirnya berangkatlah ke HLP. Jalanan sepi. Di jalan baru saya buka jadwal tiket yang dibelikan oleh Bos Genpi.co. Lhah, ternyata tiketnya HLP-JOG jam 09.10. Padahal sampai Bandara Halim masih jam 06.00. 

Kakak sempat bilang, pulang dulu lagi aja po? "Nggak ah. Sy nunggu di Bandara saja. Apalagi, tiket BatikAir saya memang kelas bisnis. 

Setiba di HLP langsung check in. "Lounge Batik ada di sebelah kanan setelah pemeriksaan X-ray Pak," kata petugas counter. Sepertinya tidak yakin saya bisa mengenali lounge yang dulu sering saya singgahi. Ciee somse. 

Tol-Termahal-3.jpgPemandang di luar jendela pesawat Batik Air. (FOTO: Erwan Widyarto)

Di lounge hanya ada lima orang. Mereka pasti bukan jurusan yang sama dengan saya. Karena saya kepagian salah jadwal. Benar saja. Mereka segera dipanggil untuk penerbangan jurusan Medan. 

Sepi. Saya buka HP. Nyambung ke fasilitas WiFi gratis. Bikin tulisan. Tak lupa menikmati kudapan yang disediakan. Hingga nasi goreng hangat untuk mengisi perut. 

Baru kemudian berdatangan penumpang-penumpang lain. Mereka duduk di kursi di kiri depan saya. Belakang saya. Dan sisi lainnya. Lumayan banyak. 

Lalu ada yang di kanan depan saya. Perempuan yang belakangan mengadvokasi Nurul Baiq. "Mau ke Jogja juga Mbak Rieke?" 
Pertanyaan saya dijawab. Ternyata Oneng, "isteri Bajuri" itu, mau lanjut S3. Ke Jogja mau konsultasi dengan promotornya. Hebat ya? 

Lho S3-nya di UGM? Sebagai alumni kampus yang tidak nolak #gaji8juta untuk fresh graduate-nya, saya siap bangga. Oneng ternyata S3 di almamater. Bisa sama-sama jadi anggota Kagama. Bedanya saya Ra Pati Pinter tapi Kagama.... 

Lamunan saya hilang. "Saya S3-nya di UI Mas. Mau nulis disertasi seputar Komunikasi Politik. Ini mau ketemu Promotor yang kebetulan tinggal di Jogja tapi ngajar di UI." Wow ternyata dia di kubu yang nolak #gaji8juta

Pewarta :
Editor : Erwan Widyarto
Sumber :

Komentar Anda