KBRI Riyadh Pulangkan WNI Asal Cirebon

Hilang 21 Tahun, Ditemukan 400 KM dari Ibukota Saudi

Turini saat diterima Dubes Agus Maftuh dan Atase Pertahanan Brigjen TNI Drajat B Yoga di KBRI Riyadh.

COWASJP.COM – Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Riyadh kembali membuktikan jargon 'menghadirkan Negara di tengah-tengah para WNI di Saudi.'  Setelah berhasil menyelamatkan Eti bt Tayib dari hukuman mati dengan tebusan 15 miliar, KBRI Riyadh berhasil menyelamatkan WNI yang hilang kontak selama 21 tahun.

WNI asal Cirebon ini telah bekerja di Arab Saudi sejak 1998 dan hilang kontak dengan keluarga. WNI tersebut bernama Turini Bt Mashari Tarsina yang berasal dari Kedawung, Cirebon. Turini berangkat ke Arab Saudi sejak 24 Oktober 1998. Dia bekerja di keluarga Aun Niyaf Aun Alotaibi.

Laporan mengenai Turini mulai muncul sejak pertengahan tahun 2013. Namun karena data-data yang minim menyulitkan KBRI Riyadh melakukan pencarian.

Titik balik pencarian Turini terjadi pada Maret 2019. “KBRI saat itu menerima informasi dari anak Turini di Indonesia bahwa ibunya baru saja menghubunginya melalui nomor telepon WN Filipina.” Demikian disampaikan Duta Besar Indonesia untuk Arab Saudi, Agus Maftuh Abegebriel melalui telepon.

Informasi berharga dari anak Turini direspons KBRI Riyadh. KBRI bergerak cepat menghubungi nomor HP warga negara Filipina tersebut. Dan diketahui bahwa WN Filipina itu bekerja pada majikan yang masih bersaudara dengan majikan Turini. 

Melalui komunikasi tersebut, KBRI berhasil mendapatkan kontak majikan Turini, yang kemudian diketahui bernama Feihan Mamduh Alotaibi. Feihan merupakan menantu dari majikan lama, Aun Niyaf Aun Alotaibi. Majikan lama sendiri sudah meninggal sepuluh tahun yang lalu.

Duta Besar RI untuk Saudi, Agus Maftuh Abegebriel menjelaskan selama bekerja dalam kurun waktu 21 tahun, Turini belum pernah menerima gaji, dan tidak memiliki akses komunikasi dengan keluarga di Indonesia. KBRI kemudian melakukan negosiasi dengan majikan. 

Pada tanggal 2 April 2019, dengan bantuan Kantor Polisi Dawadmi, Tim KBRI Riyadh dapat bertemu dengan Turini dan bernegosiasi langsung dengan Feihan Mamduh Al-Otaibi di rumah majikan, di Kampung di pedalaman Saudi, 387 KM dari Riyadh.

erwan1.jpg  
Duta Besar RI menambahkan bahwa proses negosiasi dengan majikan berlangsung cukup alot. “Namun dengan pendekatan ala santri, taqdimul adab, mengedepankan pendekatan sosial antropologis, Alhamdulillah majikan luluh hatinya dan bersedia membayarkan hak-hak gaji Turini sebesar 150.000 Riyal. (Setara Rp 550 juta rupiah)," urai dosen UIN Sunan Kalijaga Yogya ini.

Agus Maftuh juga meyakinkan bahwa KBRI Riyadh akan selalu menghadirkan Negara di tengah-tengah para WNI di Saudi. KBRI harus harus melayani dengan hati semua WNI yang ada di Saudi.

Mengenai denda overstay Turini selama 21 tahun, lanjut Dubes Agus, akan dibebankan kepada Kafil /majikan. Kafil juga harus menanggung tiket Turini yang akan terbang ke Indonesia pada hari Ahad (21/7). Turini pulang ke Indonesia dengan didampingi oleh staf KBRI berwarga negara Saudi, Muhammad al-Qarni yang terlibat langsung dalam penyelamatan Turini. (wan

Pewarta : Erwan Widyarto
Editor : Erwan Widyarto
Sumber :

Komentar Anda