Yayasan Bubar

COWASJP.COM – Suatu yayasan terlihat mulai suram. Para pengurus dan pembina mulai tidak sevisi dalam mengembangkan yayasan.

Mereka eker-ekeran (bercekcok) sendiri, dan berdampak buruk pada sekolah yang bernaung di bawah yayasan tersebut. 

Akhirnya mereka sepakat untuk menjual atau membubarkan yayasan. Bisakah yayasan dijual, bisakah yayasan  bubar?

Tentang seluk beluk aturan Yayasan di diatur dalam UU No. 16 Tahun 2001 tentang Yayasan (“UU 16/2001”),  dan telah diubah dengan UU No. 28 Tahun 2004 tentang Perubahan Atas UU No. 16 Tahun 2001 tentang Yayasan (“UU 28/2004”). 

Menurut Pasal 62 UU 16/2001, suatu Yayasan  menjadi bubar karena:

a.  Jangka waktu yang ditetapkan dalam Anggaran Dasar berakhir;

b.  Tujuan Yayasan yang ditetapkan dalam Anggaran Dasar telah tercapai atau tidak tercapai;

c. Putusan Pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap berdasarkan alasan:

1) Yayasan melanggar ketertiban umum dan kesusilaan;

2) Tidak mampu membayar utangnya setelah dinyatakan pailit; atau

3)  Harta kekayaan Yayasan tidak cukup untuk melunasi utangnya setelah pernyataan pailit dicabut.

Dalam hal yayasan bubar karena alasan jangka waktu berakhir dan tercapai dan tidak tercapai maksud dan tujuan yayasan,  maka Pembina Yayasan  menunjuk LIKUIDATOR, untuk membereskan sisa harta kekayaan yayasan (Pasal 63 ayat [1] UU 16/2001). 

arini.jpg

Bila Pembina tidak menunjuk Likuidator, maka Pengurus Yayasan yang akan menjadi likuidator (Pasal 63 ayat (2). 

Apakah tugas likuidator?

a. Likuidator berwenang melakukan pemberesan hak dan kewajiban terhadap harta kekayaan yayasan yang bubar (Pasal 65).  

b. Likuidator wajib mengumumkan pembubaran yayasan, proses likuidasi, dan hasil likuidasi dalam surat kabar harian berbahasa Indonesia (Pasal 65 dan Pasal 66).

 c. Likuidator melaporkan hasil likuidasi kepada Pembina Yayasan (Pasal 67 ayat [1]. 

d.  Apabila setelah proses likuidasi ternyata masih terdapat sisa harta kekayaan,   setelah likuidasi tidak untuk dibagikan kepada pembina, pengurus, atau pengawas yayasan, namun berdasarkan Pasal 68 UU 28/2004:

(1) Kekayaan sisa hasil likuidasi diserahkan kepada Yayasan lain yang mempunyai kesamaan kegiatan dengan Yayasan yang bubar.

Misal maksud dan tujuan di bidang pendidikan, maka  harus sama,  diserahkan di yayasan yang bergerak bidang pendidikan.

(2) Kekayaan sisa hasil likuidasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dapat diserahkan kepada badan hukum lain yang mempunyai kesamaan kegiatan dengan Yayasan yang bubar, apabila hal tersebut diatur dalam undang-undang mengenai badan hukum tersebut.

(3) Dalam hal kekayaan sisa hasil likuidasi tidak diserahkan kepada Yayasan lain atau kepada badan hukum lain sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2), kekayaan tersebut diserahkan kepada Negara dan penggunaannya dilakukan sesuai dengan kegiatan Yayasan yang bubar.

Tidak hanya sampai segitu,

 menurut penjelasan Pasal 2 ayat (3) PP No. 63 Tahun 2008 tentang Pelaksanaan Undang-Undang tentang Yayasan, Yayasan yang telah selesai likuidasinya, diberitahukan kepada Menteri oleh likuidator

APAKAH YAYASAN BISA DIJUAL?

Yayasan tidak boleh dijual. Tidak ada jual beli yayasan.

Itu istilah awam saja. Jika tak ingin lagi berkecimpung di yayasan, tinggal pergantian organ yayasan. Mulai dari pembina, ketua, sekretaris, bendahara dan pengawas yayasan.(*)

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda