Jangan Jadikan Prabowo sebagai Berhala

COWASJP.COM – Sejak beberapa waktu belakangan ini, saya sudah males nulis soal politik tanah air. “Suuuebeeel dan mpeeet” sampai ke ubun-ubun. Tapi melihat beberapa perkembangan terakhir, rasanya saya gak tahan juga. Karena kita sudah terpecah belah. Dan semakin terpecah belah. 

Bukan hanya terpecah belah antar anak bangsa. Akibat munculnya dikotomi Cebong dan Kampret. Tapi juga terpecah belah antara sebagian umat Islam dan sebagian yang lain. 

Lalu, perkembangan terakhir, tercerai-berai semakin kecil lagi. Tak bisa dipungkiri, kini para pendukung kubu 02 itu terpecah lagi. Akibat pertemuan Presiden Jokowi (Jkw) dan Capres 02 Prabowo Subianto (PS) di atas MRT beberapa hari lalu. Sebab sebagian orang memandang pertemuan itu sebagai strategi pintar Jenderal PS. Demi menjaga kesatuan dan persatuan bangsa. Untuk kepentingan NKRI. Dan untuk bla...bla...bla. Entah apa lagi. 

Kubu pendukung PS yang siap menerima pertemuan ini begitu semangat. Saking semangatnya, ada yang mengartikan keputusan PS menemui Jkw sama dengan keputusan Rasulullah Muhammad SAW., saat menerima butir-butir perjanjian Hudaibiyah. Luar biasa. Keputusan untuk mengalah. Tapi demi kemenangan di masa depan. Satu tahun sebelum Fathu Makkah.  

Sementara sebagian yang lain memandang pertemuan itu sebagai langkah yang keliru. Bahkan ada yang mengartikannya sebagai “pengkhianatan”. Mengingat semangat emak-emak garis keras yang tak pernah kendor. Yang lantas kecewa. Mengingat pengorbanan para pendukung 02. Yang bukan hanya berkorban harta, waktu, tenaga dan airmata. Bahkan juga berkorban nyawa. Wallahu a’lam. 

BACA JUGA: Laporan Akhir Zaman​

Pembelahan cara berpikir ini tentu terjadi karena perbedaan sudut pandang. Toh, suatu keniscayaan, tidak semua orang melihat setiap persoalan dari sudut pandang yang sama. 

Kemarin malam, Presiden dan Wakil Presiden terpilih telah memaparkan visi dan misinya. Disiarkan secara gegap gempita oleh media-media yang sejak awal memang lebih condong mendukung Capres-Cawapres Kubu 01 ini. Para cebong berpesta pora menyambut kemenangan ini. Sementara para kampret terpaku membisu menyaksikan peristiwa itu. Terutama mereka yang tidak bisa terima adanya pertemuan itu. 

Semua itu adalah sesuatu yang lumrah. Itulah inti demokrasi. Ketika semua orang bebas mengeluarkan pendapat. Yang tidak selalu harus sama. Sehingga satu pihak tidak usah menggurui: Harus begini. Harus begitu. Harus menerima keputusan PS untuk bertemu itu apa adanya tanpa protes. Tidak perlu juga ada yang “baper” dan mutung. 

Semua tentu harus melihat persoalan secara dewasa. Dengan menggunakan nalar. Biar intelek sedikit, gitulah. 

*

DENGAN memotret kehidupan bangsa saat ini, sebagian dari kita tentu berduka. Pesta demokrasi kita begitu luar biasa. Gegap gempita tiada tara. Menghabiskan anggaran yang begitu besar. Tapi hasilnya adalah perpecahan di antara anak bangsa. 

Pada pemilu 2019, dihabiskan anggaran sebesar Rp 25,6 triliun. Itu baru anggaran penyelenggaraan Pemilu. Belum termasuk anggaran untuk pengawasan sebesar Rp 4,85 triliun. Yang naik sebesar Rp 3,67 triliun dibanding 2014. Anggaran keamanan sebesar Rp 3,29 triliun. Bandingkan dengan anggaran 2014, yang hanya Rp1,7 triliun. 

Sebagai salah satu negara demokrasi terbesar di dunia, tentu lumrah mengeluarkan biaya yang sangat besar pula. Apalagi Pemilihan Presiden (Pilpres) kali ini disatukan penyelenggaraannya dengan pemilihan anggota legislatif (Pileg). 

Persoalannya, apakah dengan anggaran yang begitu besar kita telah sukses menghasilkan pemilu yang jujur dan adil? Melahirkan calon pemegang tampuk kekuasaan tertinggi negara yang “legitimate”? Kenapa harus muncul tuduhan adanya kecurangan yang Terstruktur, Sistematis dan Massif (TSM)? Lalu, kemudian, kenapa kita harus terpecah belah lagi, lagi dan lagi?

Di luar persoalan-persoalan di atas, yang patut dikoreksi sejatinya adalah sikap sebagian dari kita melihat persoalan anak bangsa saat ini. Sebab tidak sedikit yang melihat persoalan pemilu ini dari soal kalah menang. Antara Jokowi-Amin dan Prabowo-Sandi. Soal sosok yang menjadi idola masing-masing orang. Dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Karenanya, apa pun sikap dan langkah mereka harus didukung tanpa tedeng aling-aling. Tanpa reserve. Taqlid buta, istilahnya.

Tidak salah memang ada yang begitu tergila-gila mendukung Prabowo-Sandi. Begitu juga yang mendukung Jakowi-Amin. Persoalannya, keputusan KPU, Bawaslu bahkan sampai MK ternyata mengecewakan sebagian orang. Dengan sejumlah bukti di lapangan, ada yang menganggap kemenangan Kubu 01 itu sebagai kemenangan dari pemilu yang curang. 

Tentu saja anggapan itu membuat Kubu 01 tidak nyaman. Sehingga mereka berusaha melakukan rekonsiliasi. Dengan berbagai cara, tentu saja. Agar kemenangan yang telah mereka raih mendapatkan legitimacy. Tapi para pendukung Kubu 02 tidak sudi memberikan legitimacy, karena masih berpegang pada dugaan adanya kecurangan. Karena itu, lumrah mereka tidak sudi PS bertemu Jkw. Apa pun alasannya. 

Tapi ketika PS memutuskan bertemu dengan Jkw, mereka harus bagaimana? Yang jelas, ada dorongan agar semua harus menerima hal itu sebagai suatu keharusan. PS digambarkan sebagai ahli strategi yang “can do no wrong”. Dengan kesediaan menerima Jkw di dalam gerbong MRT, dia dianggap telah mampu membuat Jkw menjatuhkan martabatnya sendiri sebagai seorang presiden. 

Lho, apa pentingnya menjatuhkan martabat presiden? Apakah ini lebih penting dari pada upaya pencapaian tujuan utama, untuk mensejahterakan kehidupan bangsa dan melahirkan masyarakat yang adil dan makmur? Cara berpikir seperti ini adalah bagian dari upaya pengkultusan seseorang. Dengan begitu kita sudah menjadikan PS sebagai Tuhan atau berhala. 

Padahal memenangkan Prabowo-Sandi dalam pemilu lalu semestinya bukanlah tujuan utama. Bagi bangsa yang sekarang berkubang begitu banyak masalah ini. Di era kepemimpinan seorang presiden yang membuat sebagian orang gerah. Sehingga mendorong mereka untuk berjuang mengganti presiden. Sehingga melahirkan tagar #Ganti Presiden yang marak. Yang belakangan ini mendapatkan perhatian yang begitu luas. 

Dengan demikian, sejatinya Prabowo-Sandi hanyalah sebuah jalan. Untuk sebuah perubahan. Guna mencapai tujuan yang lebih mulia. Yaitu masyarakat yang sejahtera, adil dan makmur. 

*

BAGI para pendukung Presiden Jokowi, junjungannya telah melakukan begitu banyak keberhasilan. Terutama kaitannya dengan pembangunan infrastruktur. Langkah ini gencar dilakukan, meskipun tidak segencar pemberitaannya. 

Tapi bagi para pendukung tagar #Ganti Presiden – untuk tidak mengatakan pendukung Prabowo-Sandi – bangsa ini sekarang menghadapi persoalan-persoalan yang begitu rumit. Di antaranya, persoalan perbaikan kondisi ekonomi rakyat, yang jauh panggang dari api. Dalam hal ini, termasuk melambungnya harga barang-barang kebutuhan pokok rakyat. Persoalan pembukaan lapangan kerja yang hanya tinggal janji. Padahal PHK terjadi di berbagai tempat. Sementara serbuan tenaga kerja Cina juga bukan lagi berita isapan jempol. 

Pembangunan infrastruktur, yang jadi obyek pencitraan pemerintah, sepertinya tidak dilakukan untuk kepentingan rakyat banyak. Tersebarnya pidato Presiden Jokowi soal kebijakan penjualan sejumlah proyek yang sudah selesai dibangun menunjukkan bahwa pembangunan proyek-proyek itu bukan untuk kepentingan rakyat banyak. Sebab, bila dijual, si pembeli tentu akan menaikkan harga layanannya. Kalau jalan tol, misalnya, dijual, maka pengelolaannya akan diambil alih pembeli. Dan pembeli tentu akan menaikkan harga layanannya. Sebelum dijual saja sudah mahal. Apalagi kalau sudah dijual. Itulah beban yang mesti dipikulkan ke pundak rakyat.  

Sementara itu, kebijakan yang tidak bersahabat terhadap Islam, umatnya dan kalangan ulama juga menjadi sorotan sejumlah pihak. Di bawah rejim ini, kalangan ulama dengan berbagai kasus seperti selalu dilecehkan. Lalu, pendidikan agama Islam di sekolah-sekolah berulangkali diserukan untuk dihapuskan. Padahal pendidikan agama lain – seperti agama Kristen, Katholik, Hindu, Budha – tidak pernah disebut akan dihapuskan. 

Bersamaan dengan itu, berhembus pula persoalan bangkitnya ideologi komunis. Suatu isu yang bagi umat Islam dianggap isu yang sangat sensitif. Dan banyak lagi persoalan yang membuat anak bangsa – terutama sebagian umat Islam – menginginkan agar kebijakan pemerintah berganti. Dan karena pilihan satu-satunya untuk mengatasi semua masalah di atas hanyalah Prabowo-Sandi, maka mereka pun memberikan dukungan tanpa batas kepada keduanya. Dengan tujuan, untuk mencapai kehidupan rakyat yang sejahtera, adil dan makmur.

Karena itu, fokus dukungan hendaknya bukan kepada Prabowo-Sandi, tetapi kepada upaya untuk mengatasi berbagai macam persoalan yang menghantui sebagian anak bangsa. Jangan sampai Prabowo dijadikan sebagai berhala yang mesti disembah. (*)

Penulis: Nasmay L. Anas, wartawan senior, sekarang menetap di Bandung, Jawa Barat.

Pewarta : Nasmay L. Anas
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda