Tujuan Wisata di Jatim

Candi Jolotundo, Petilasan Zaman Airlangga

Penulis (Rudi Setyo Widodo) di Pemandian Candi Jolotundo. (FOTO: istimewa)

COWASJP.COM – Candi Jolotundo salah satu candi di Jawa Timur dan salah satu candi di Mojokerto, tepatnya di Dukuh Balekambang, Desa Seloliman, Kecamatan Trawas. Lokasi candi dapat ditempuh kurang lebih 55 kilometer dari Surabaya. Akses jalan menuju candi bisa lewat Trawas dengan menyusuri lereng Gunung Penanggungan dengan jalan yang berkelok-kelok. Bisa juga lewat Mojosari, Ngoro dengan jalan dengan kanan-kiri hutan dengan berbagai  tanaman dan rumah penduduk. Bahkan saat ini di sekitar Candi Jolotundo sudah ada penginapan yang disediakan oleh penduduk sekitar.

Secara geografis, Candi Jolutundo berada pada ketinggian kurang lebih 800 meter di atas permukaan laut (Mdpl) dan berada di bukit Bekel, lereng barat Gunung Penanggungan. Sehingga sesampainya di Candi Jolotundo, wisatawan dimanjakan dengan pemandangan alam yang hijau dan udara khas pegunungan yang sejuk. Harga tiket masuk situs bersejarah ini Rp 10.000 untuk dewasa dan Rp 7.500 untuk anak-anak.

Rudi-Setyo-Widodo-2.jpg

Candi Jolotundo dibuat oleh Raja Udayana yang merupakan raja dari Kerajaan Bedahulu dari Wangsa Warmadewa, Bali. Raja Udayana menikah dengan seorang putri Wangsa Isyana dari kerajaan Medang yaitu Putri Gunapriya Dharmapatni. 

Pada masanya, kerajaan Medang merupakan kerajaan yang cukup kuat di tanah Jawa. Bahkan kerajaan Medang melakukan penaklukan di Bali dan melakukan serangan ke Kerajaan Sriwijaya. Pada tahun 991 masehi, Raja Udayana dan Putri Gunapriya Dharmapatni memiliki seorang anak yang bernama Airlangga. Pemberian nama Airlangga memiliki arti air yang melompat.

Candi Jolotundo dibuat atas rasa cinta Raja Udayana menyambut kelahiran Airlangga. Tahun 997 masehi, dibangunlah Candi Jolotundo. Tapi, ada sumber lain yang menyebutkan,  Candi Jolotundo merupakan tempat pertapaan Airlangga setelah mengundurkan diri dari singgasana kerajaan Kahuripan dan digantikan oleh anaknya.

RudiSetyoWidodo-3.jpg

Kerajaan Kahuripan adalah kerajaan yang didirikan oleh Airlangga pada tahun 1009 masehi. Kerajaan Kahuripan itu pengganti kerjaaan Medang yang telah runtuh pada 1006 masehi. Sumber lainnya juga mengatakan,  ketika masih muda, Airlangga mengunjungi daerah Jolotundo dalam rangka menenangkan jiwanya. Airlangga mandi di sumber mata air tersebut dan setelah mandi Airlangga merasakan ketenteraman jiwa.

Candi Jolotundo terkenal dengan pemandian. Konon keberadaan pemandian itu menjelaskan bahwa air yang keluar dari pemandian itu adalah amerta yang seolah-olah keluar dari tubuh Mahameru. Air amerta adalah air yang digunakan dalam kehidupan manusia dan juga para dewa yang berfungsi sebagai air kebaikan untuk umat manusia.

Pada malam satu Suro atau satu Muharam tepat bersinarnya bulan purnama, banyak warga yang mengunjungi Candi Jolotundo, khususnya masyarakat Bali. Mereka datang untuk melaksanakan ritual dengan tujuan ngalap berkah, mensucikan diri, bahkan sampai memandikan pusakanya.

Candi Jolotundo atau juga sering disebut dengan Candi Jalatunda memiliki aritektur dan bangunan yang sangat megah. Pada bagian dinding kanan candi terdapat pahatan yang bertuliskan angka 997 masehi, lalu pada bagian dinding kiri candi  terdapat pahatan yang bertuliskan tahun 899 saka atau 977 masehi, dan di bagian dinding kiri belakang candi terdapat tulisan Gempeng. Menurut tafsiran para ahli, tulisan Gempeng tersebut memiliki arti lebur. Jika dilihat dari arsitektur keseluruhan Candi Jolotundo, maka kata Gempeng dapat diartikan sebagai melebur atau memotong. Hal ini memiliki arti, candi yang juga merupakan pemandian ini dibangun dengan memotong lereng Gunung Penanggungan, sehingga situs bersejarah ini seolah-olah melebur menjadi satu kesatuan dengan Gunung Penanggungan.

Rudi-Setyo-Widodo-4.jpg

Candi Jolotundo berukuran panjang 16,85 meter dan lebar 13,52 meter. Candi Jolotundo disusun dari batu andesit yang dipahat halus. Candi Jolotundo memiliki dua sendang (tempat pemandian) yang berdindingkan batu di sisi kiri dan sisi kanan. Dua sendang tersebut berukuran 2 x 2 meter menghadap ke barat. Sumber air atau mata air berada di sisi timur dan keluar dari lubang yang berada di tengah batu dinding. Jumlah pancuran air pada candi ini adalah 52 pancuran air, dan pancuran ini selalu mengalirkan air disepanjang musim. Kemudian di bagian tengah terdapat kolam bertingkat dan di bawahnya juga terdapat kolam berukuran 6 x 8 meter yang berisikan ikan-ikan dengan ukuran yang besar. Konon jika mengambil ikan tersebut, maka yang mengambil akan terkena musibah.

Dari keterangan salah satu pengelola Candi Jolotundo, dua sendang yang ada pada Candi Jolotundo merupakan tempat pemandian para petinggi dan kerabat kerajaan untuk mensucikan diri. Kolam di sisi kiri candi digunakan sebagai tempat mandi laki-laki, sedangkan kolam di sisi kanan candi digunakan sebagai tempat mandi wanita. Dulunya kolam di sisi kiri candi  digunakan oleh sang raja untuk mandi atau berendam, dan kolam di sisi kanan candi digunakan oleh sang ratu untuk mandi atau berendam. Kolam pemandian yang ada pada Candi Jolotundo memiliki kedalaman 5,2 meter.

Di sekitar Candi Jolotundo, terdapat pendopo dan gazebo untuk bersantai menikmati suasana tenang dan sejuknya udara di lereng pegunungan. Kawasan Jolotundo juga dijadikan titik awal menuju 17 candi lainnya yang tersebar di sepanjang jalur pendakian Gunung Penanggungan. Sekitar 1 kilometer sebelum Candi Jolotundo terdapat Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH), Seloliman.(*)

Penulis: Rudi Setyo Widodo, Cowaser.

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda