Dunia Ini Bukan Panggung Sandiwara

Pertemuan para wartawan DKI Jaya. (FOTO: istimewa)

COWASJP.COM – Iqbal Irsyad membuat beberapa catatan hasil pertemuan sore itu. Teman-teman memang memintanya menuliskan resume dari apa yang sudah kami bahas selama hampir dua jam sebelumnya. Rabu petang yang menyenangkan. Namun, jujur saja jika aku yang paling banyak bertanya. Baik kala pertemuan atau setelahnya, saat pegiat di sebuah stasiun televisi itu tengah menyibukkan diri di depan mesin kerjanya untuk meramu berbagai keputusan yang disepakati.

"Coba jelaskan lagi lebih rinci tentang SKPI dan implementasinya," kataku setengah mendesak. Aku baru bergabung dalam pertemuan sore kemarin, ketika topik tentang SKPI untuk kesekian kalinya dibahas. Iqbal Irsyad hanyalah salah satu dari anak-anak muda cerdas di kepengurusan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) DKI Jaya yang berada dalam tim untuk menyusun modul atau silabus dari SKPI yang akan diterapkan dalam waktu dekat dengan Universitas Bakrie. Wajar jika ia menjadi 'mentor' dari orang baru seperti aku yang wawasannya dangkal dan minim pengetahuan.

Iqbal menjelaskan dengan sabar. SKPI adalah akronim dari Surat Keterangan Pendamping Ijazah. Ini adalah dokumen resmi yang dikeluarkan oleh institusi perguruan tinggi. Surat ini berisi pencapaian akademik serta capaian pembelajaran dan kualifikasi lulusan perguruan tinggi. Secara sederhana bisa dikatakan bahwa SKPI adalah rekam jejak mahasiswa/i ketika menjalani perkuliahan. SKPI menjadi dokumen pendukung semua prestasi dan sertifikasi yang dicantumkan di curriculum vitae (CV). Dalam kaitannya dengan PWI, penerapan SKPI dikhususkan kepada mahasiswa/i dari Fakultas Ilmu Komunikasi atau Jurnalistik.

Iqbal juga mengingatkan, landasan hukum SKPI adalah Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 81 Tahun 2014 tentang ijazah, sertifikat kompetensi dan sertifikat profesi pendidikan tinggi. 

Diingatkan pula jika Permendikbud itu sendiri merupakan turunan Undang-Undang (UU) Nomor 12 tahun 2012 tentang perguruan tinggi dan Peraturan Pemerintah Nomor 4 tahun 2014 tentang Penyelenggaraan Perguruan Tinggi dan Pengelolaan Perguruan Tinggi. Dalam Pasal 44 ayat 1 hingga ayat 3, UU Nomor 12 mewajibkan setiap perguruan tinggi memberikan sertifikat kompetensi bagi setiap lulusannya.

Dalam hubungannya dengan PWI, sekali lagi, SKPI ini diberikan kepada lulusan perguruan tinggi dari jurusan komunikasi/jurnalistik. Tanggung-jawab yang diberikan kepada PWI sendiri karena PWI dinilai sebagai organisasi profesi kewartawanan yang paling kredibel. Cukup panjang waktu yang diperlukan, lebih dari empat tahun, pasca dikeluarkannya kebijakan mengenai SKPI, dan mulai diterapkannya sekarang ini.

Penerapan SKPI di Universitas Bakrie sendiri menjadi 'pilot project'. PWI DKI Jakarta sekaligus menjadi yang pertama menjalankan SKPI di Universitas Bakrie tersebut, mengemban amanah dari PWI Pusat.

"Setelah Universitas Bakrie sudah banyak perguruan tinggi lainnya yang menunggu. Jadi, kita harus benar-benar serius. Ini tantangan besar buat kita, PWI Jaya," Iqbal menerangkan dengan mimik yang mengesankan betapa kepercayaan itu tak boleh dianggap main-main.

Menyikapi tantangan besar ini PWI Jaya mempersiapkan sebanyak 35 calon pengajar. Sebagian besar wartawan senior dengan sertifikasi Wartawan Utama dari Dewan Pers, yang berarti juga sudah mengikuti Uji Kompetensi Wartawan (UKW) level Utama dari PWI Pusat. Kendati begitu, mata ujian dari SKPI itu mengadopsi UKW level Madya.

Iqbal, serta jajaran wartawan senior seperti Kamsul Hasan, Firdaus Baderi, Theo M.Yusuf, Aat Surya Safaat, Djunaidi Tjunti Agus, sudah terbiasa menjadi pengajar atau tampil pada berbagai forum diskusi, seminar atau kegiatan lain yang mengedepankan aspek jurnalistik. Merekalah, antara lain, yang akan menjadi andalan PWI Jaya dalam penerapan SKPI dengan Universitas Bakrie dan lainnya nanti. 

Ya, nantinya memang PWI Pusat yang akan menentukan belasan nama dari ke-35 nama tersebut untuk menjadi penguji SKPI di Universitas Bakrie. Seleksi atau penjaringan oleh PWI Pusat termasuk melalui psikotes dan jenjang pendidikan.

Menyinggung soal pendidikan, aku tersenyum. Aku hanya berbekal pembelajaran dari jenjang 3S, bukan dari strata S2 atau S3 seperti sebagian besar teman-teman. 

3S berarti SD, SMP dan SMA. Bukan S1, sarjana, S2 yang pascasarjana, atau bahkan S3 yang Doktor. Sementara, tak sedetik pun aku berkesempatan duduk di perguruan tinggi...

"Jangan berkecil hati. Level abangda itu sudah identik dengan Doktor." Sayid Iskandarsyah, ketua PWI Jaya yang usianya memang di bawahku, seperti memahami senyum masamku. Dia mencoba menghibur. 

Aku tak pernah menyesali ketidak-beruntunganku merasakan kesenangan menjadi mahasiswa. Sudah sekian lama aku bisa berdamai dengan diriku sendiri. Untuk benar-benar menjalani, menikmati dan mensyukuri apa yang sudah diperoleh. Bagiku, dunia ini bukan panggung sandiwara. Maka bersikaplah seadanya..

Apa yang kupelajari dalam perjalanan keseharianku selama ini rasa-rasanya lebih dari sepadan. Seperti kata teman-teman, pengalaman adalah guru yang paling baik...

Menjadi bagian dari keluarga besar PWI Jaya sendiri, seperti sekarang ini, tentunya juga patut disyukuri. Apalagi, aku tak pernah meminta. Sebuah kehormatan diakui Tanah air.

Kami akan menghadapi SKPI yang menantang. Kami mencoba presisi dengan rapat kerja pada Jumat dan Sabtu ini di Cisarua. Sepekan setelah itu, menggelar Uji Kompetensi Wartawan (UKW) adalah kerja bersama untuk disukseskan, sebagaimana pelaksanaan program Orientasi Wartawan Muda Anggota PWI Jaya I/2019, minggu lalu.

pwi.jpgTubagus Adhi (tengah, penulis).

Dalam pemahamanku, berorganisasi harus dilandasi dengan sikap senang. Kesenangan bersama menjadi tuntutan. Menghindari sikap jemawa. Semua bergerak seirama. 

Mungkin memang ada saja ganjalan. Mungkin langkah kita terantuk kerikil, suatu saat nanti. 

Teringat satu pesan dari Dr. Aqua Dwipayana, pakar komunikasi dan motivator terkemuka itu. Sikap atau perilaku kita tidak akan bisa memuaskan semua orang, walaupun tidak salah. Tetapi hendaknya itu tidak membuat kita putus asa. Teruslah berjalan dengan keyakinan dan kebenaran. 

Aqua Dwipayana pernah satu 'perguruan' di Jawa Pos, meski dalam masa bakti yang berbeda. Aku lebih awal, Aqua belakangan. Kami dipertemukan oleh 'Cowas JP', yakni Konco Lawas Jawa Pos, wadah yang menghimpun mantan-mantan karyawan Jawa Pos. Aku mengagumi filosofi wadah ini: Nulis Sampek Tuwek, Seduluran Sampai Matek!

Kesan penuh rasa persaudaraan sudah terasa kental pada pertemuan pertama kami. Usia Aqua Dwipayana jauh di bawah aku. Baru akan setengah abad, 23 Januari 2020 nanti. Namun, Aqua Dwipayana luar biasa ramahnya.

Meninggalkan dunia kewartawanan pada 1994, Aqua Dwipayana sempat 'banting stir' sebagai profesional dan bekerja di PT Semen Cibinong. Hingga 2005. Tiga bulan menganggur, ia seperti memperoleh hidayah untuk menjadi konsultan komunikasi. Belakangan juga sebagai motivator. Dalam hitungan waktu yang singkat, ia telah menulis lima buah buku: "Komunikasi Jari Tangan jilid 1", "Komunikasi Jari Tangan jilid 2", "Berhenti Kerja Dunia Tidak Kiamat", "Berhenti Kerja Semakin Kaya", dan "The Power of Silaturahim, Rahasia Sukses Menjalin Komunikasi".

Kekaguman banyak orang atas ayah dari Alira Vania Putri Dwipayana (Ara) dan Savero Karamiveta Dwipayana (Ero) ini tidaklah mengherankan. Ia telah memberikan pencerahan kepada ratusan ribu orang dari berbagai kalangan, baik pengusaha, karyawan pemerintah, serta jajaran kepolisian dan TNI. Rabu kemarin, di Malang, ia memberikan 'sharing' komunikasi dan motivasi kepada ribuan prajurit yang bertugas di Divisi Infanteri 2 Kostrad, dan kemudian kepada sekitar 700 prajurit di Yon Bekang 2 Kostrad.

'Sharing' komunikasi dan motivasi yang diberikan Aqua Dwipayana tidak terbatas di dalam negeri. Aqua Dwipayana adalah juga motivator internasional. Namanya menjulang di banyak negara Eropa dan Asia.

aqua.jpgDr Aqua Dwipayana (kanan) bersama Pangdiv 2 Kostrad Mayjen TNI Tri Yuniarto.

Aku mengagumi Aqua Dwipayana karena ia selalu menyisihkan rezekinya dengan memberikan hadiah umroh. Tiga tahun terakhir ini Aqua Dwipayana sudah memberangkatkan hampir seratusan jamaah umroh. Rombongan umroh The Power of Silaturahim 4 direncanakan diberangkatkan 2020, dipimpin Nurcholis MA Basyari...

Mungkin tak perlu diperdebatkan bahwa kuasa Tuhan senantiasa bekerja ketika kau tapaki terus jalan kebaikan yang membentang. Begitu yang sering kudengar.

Mungkin juga tak elok jika meragukan adanya keajaiban atau mukjizat yang kerap diberikan Tuhan. Sebagian dari kita menyebutnya karunia.

Kita hanya harus meyakini bahwa kadang itu tak terduga datangnya...(*)

Pewarta : Tubagus Adhi
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda