Karena Takut Kutukan Sesepuh Blambangan

Dhian Permata Sari dan Gus 'Sulee' Sulaiman. (FOTO: istimewa)

COWASJP.COM – Saat ini makin kuat tekad  Jajulaidik, SPd untuk lebih serius mengelola sanggar seni 'Sayu Wiwit' di Desa Aliyan, Kecamatan Rogojampi, Kabupaten Banyuwangi. Pasca pertemuannya 2 pekan yang lalu dengan spiritualis  asal Semarang, Dhian Permata Sari.

"Mbak Dhian telah membukakan hati saya untuk lebih mencintai dan mengembangkan seni khas Blambangan, khususnya di desa Aliyan," kata Kang Jul, panggilan akrab Jajulaidik, SPd.

Sayu Wiwit didirikan Kang Jul pada 12 Februari 2006. Walaupun pernah manggung di Arab Saudi dan Istana Bogor, namun selama ini Kang Jul sering menemui kendala dalam mengembangkan talenta seni 40 orang anggota Sayu Wiwit.

"Kami merasa sudah siap go international untuk lebih mempopulerkan seni tari dan musik khas Blambangan. Namun,  lemahnya jaringan entertainment yang membuat kami sampai sekarang merasa jalan di tempat saja," tuturnya, setengah mengeluh.

"Sejatinya karya seni tari dan musik Blambangan yang sudah kami olah sedemikian rupa, telah pantas ditampilkan di panggung berskala internasional," alasan Kang Jul. Belum lagi dukungan penuh istrinya --akrab dipanggil Mbak Ida-- yang kebagian tugas sebagai penata rias di Sayu Wiwit.

Jika dibutuhkan untuk sebuah perhelatan besar pun, Kang Jul tidak akan menampiknya. Maklum saja, dia juga punya anak didik yang menjadi murid privat menari. "Secara talenta, kami benar-benar siap," jelasnya.

Mudik Lebaran

Pertemuannya dengan Dhian Permata Sari sesungguhnya berlangsung secara kebetulan. Dhian --yang kelahiran Rogojampi-- kebetulan sedang mudik Lebaran di kampung halamannya tersebut  Nah, pada saat itulah Kang Jul menemui Dhian, sekaligus menceritakan pusaka berupa selembar selendang  ungu dan sebilah keris luk 9 milik leluhur Desa Aliyan, yang dimiliki Kang Jul.

Kang-Jul.jpgKang Jul - sapaan Jajulaidik SPd. (FOTO: Gus 'Sulee' Sulaiman)

Dalam dialog khususnya dengan Dhian, Kang Jul akhirnya mendapatkan suntikan moral agar makin berkomitmen dalam mengembangkan Sayu Wiwit. "Selendang dan keris pusaka Desa Aliyan diberikan kepada saya sebagai simbol kepercayaan para leluhur agar saya mengembangkan kesenian Blambangan," jelas guru seni tari di sebuah SMP ini. Pesan leluhur tersebut disampaikan lewat dialog gaib yang dilakukan Dhian. 

Selama ini Dhian memang dikenal sebagai spiritualis muda yang mampu berkomunikasi dengan leluhur yang sudah tiada. Termasuk dengan tokoh-tokoh gaib yang menjadi legenda di dunia metafisika Indonesia.

"Saya tidak sembarangan menerima permintaan untuk menjadi mediator dalam dialog gaib. Jika tujuannya memang baik dan terkait dengan pengungkapan sejarah, insya Allah saya tak akan menolak permintaan sebagai mediator dialog gaib, atau sebagai pawangnya," jelas Dhian didampingi Gus 'Sulee' Sulaiman, aktivis Padepokan Rumasa (Surabaya).

Dibutuhkan lelaku khusus oleh Kang Jul sebelum selendang ungu dan keris luk 9 itu berada dalam genggamannya. Dia harus tidak tidur selama 3 hari 3 malam selama 3 bulan purnama.

Sepanjang lelaki itu, Kang Jul dilarang duduk di atas kayu dan batu, diharamkan makan pisang emas, dan melewati jemuran.

keris.jpgSelendang ungu dan keris luk 9. (FOTO: Gus 'Sulee' Sulaiman).

Pada awalnya Kang Jul mengalami kegagalan. Namun, dia tak patah arang. Dia kemudian mengulang lagi tirakatnya. Dan, kali ini berhasil.

Penjemputan gaib kedua pusaka itu dilakukan pada tengah malam Jumat di Bukit Mayit, sesuai petunjuk khusus dari leluhur Desa Aliyan. 

"Sembilan tahun yang lalu saya bermimpi didatangi 2 ekor perkutut. Seekor perkututnya masuk ke dalam sangkar, sedangkan seekor ya bertengger di atas sangkar," kenang Kang Jul.

Dia pun menceritakan mimpinya tersebut ke salah seorang tokoh Desa Aliyan. Kang Jul mendapatkan pencerahan khusus dari tokoh tersebut, bahwa kelak dia akan mendapat 2 pusaka desa. Menariknya, pasca merawat kedua pusaka itu Kang Jul sering menerima 'kiriman gaib' pusaka lain, di antaranya keris dan cincin. "Saya pribadi juga tidak habis pikir, karena pusaka-pusaka itu datang sendiri ke saya untuk ikut dirawat," papar ayah 2 orang anak ini.

Meskipun sekarang kebagian tugas merawat banyak pusaka sesepuh Blambangan, namun Kang Jul tidak pernah mengeluh. "Saya tak pernah meminta pusaka-pusaka itu mengikuti saya. Jadi, kalau benda-benda itu minta dirawat, tentu saya akan memenuhi harapan tersebut," kata Kang Jul.

Dia tak ingin kutukan sesepuh Blambangan mengenai diri dan keluarganya, lantaran mengabaikan permintaan khusus tersebut. "Insya Allah saya memahami, apa yang harus saya lakukan," ujar Kang Jul. (*)

Pewarta : Moch Taufiq
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda