Duka Menjelang Idul Fitri 1440 H

Saat operasi kelima mas Rudy menunggu 5 jam sampai selesai operasi

COWASJP.COM – Kehidupanku biasa-biasa saja seperti pekerja lain. Hanya saja aku pekerja malam di Harian Jawa Pos yang setiap hari dihadapkan jam deadline. Yaitu pukul 00.00. Saat deadline setiap malam ada nasi ransum bungkusan yang siap diserbu. 

Nah pada saat-saat itulah semua ketegangan mencair. Semua karyawan redaksi dan nonredaksi menikmati nasi bungkus bersama. Tak terkecuali para redaktur pelaksana, pemimpin redaksi. Termasuk direktur yang belum beranjak pulang karena sesuatu hal.

Misalnya ada rapat tengah malam atau karena berita telat, yang menyebabkan deadline mundur. Bisa jadi karena sebagian berita harus diganti berita terbaru. Sebab ada berita yang terjadi tengah malam yang nggak boleh lewat.

Dari ransum-ransum tengah malam itulah terbentuk pola hidup yang sudah tidak sehat. Termasuk saya yang nggak pernah lagi berolahraga. Akibatnya gampang banget segala penyakit masuk. Lima belas tahun berlalu dengan tidak terasa, tubuh ini makin lama makin lemah. Walaupun saat itu masih kelihatan bugar, karena memang masih usia muda.

mansyur3.jpg

Ditambah lagi hiruk pikuknya kehidupan malam, membuat kita menikmati malam-malam yang lebih panjang. Nongkrong di pinggir jalan bersama teman-teman sambil menikmati batang demi batang Dji Sam Soe kretek yang selalu terselip di dua jari.

Namun, bukan kisah ini yang akan aku sajikan dalam tulisanku. Ini baru awal sahabat-sahabat. 

Tahun 2001 saya undur diri dari Jawa Pos. Menikmati hidup yang benar-benar mandiri, jadi agen JP (Jawa Pos) dan agen iklan JP. Walau oplah tak seberapa, tapi cukup untuk hiburan sehari-hari. Apalagi sudah hampir 4 tahun ini terbentuk Perkumpulan Mantan Karyawan Jawa Pos yang bernama Konco Lawas Jawa Pos Group (CoWas JP). Menambah maraknya persaudaraan di antara mantan karyawan. 

mansyur1.jpg

Akur, rukun, guyub, silaturrahim ke sana kemari tiada henti, walau kadang masih ada batas-batas antara mantan pimpinan dan mantan anak buah. Saya anggap wajarlah dan manusiawi.

Sahabat-sahabatku Cowas JP dan para pembaca yang terhormat. Inilah kisah yang akan saya awali. Barangkali bisa menjadi pelajaran, walau sederhana. 

Aku mulai tahun 2000 sudah mengidap penyakit DM (diabetes mellitus). Saat itu kadar gulanya 400 lebih. 

dirman.jpgPak Mansyur (kiri) saat dibesuk cowaser JP K Sudirman

Memang ada obat yang rutin harus diminum. Saat itu aku pakai Daoniil buatan India. Tapi berjalan satu tahun terakhir mulai jarang aku minum. 

Inilah awal penderitaan. Saat itulah, ketika saya tidak disiplin minum obat, tanpa saya sadari jaringan-jaringan urat di kaki kanan saya mengalami kerusakan. Ibarat sebidang tanah, pengairannya tidak merata. Darah tidak mengalir merata di kaki kanan saya. Pembuluh darah tersumbat akibat diabetes mellitus.

mansyur4.jpg

Awal Februari 2018 saya ke RSU Airlangga di MERR (Middle East Ring Road) Surabaya. Periksa ke bagian penyakit dalam lewat BPJS. Untuk periksa sakit di jari kelingking kaki kanan yang mulai ada luka. Dua minggu dari periksa pertama, hanya diberi obat diabet untuk satu bulan. Akan tetapi, di luar perkiraan, dalam waktu dua minggu itulah jari kaki sudah mulai menghitam. Langsung saya ke RS Al Irsyad pukul 09 lewat jalur umum. Tanpa BPJS agar layanannya cepat. 

Pada hari-hari berikutnya saya benar-benar putus asa untuk kesembuhan kaki saya. Mental saya benar-benar drop. Dua minggu berikutnya penanganan kaki saya diserahkan ke dokter bedah TKV (torak kardiolog vaskuler). 

Setelah melalui USG, foto Kardiologi, CT ANNIO, dokter bedah TKV, Niko Ashari Hidayat, yang istrinya kebetulan teman anak saya mengambil alih operasi kaki saya berikutnya.  

Setelah negosiasi jadilah keputusan antara saya, isteri, dan anak-anak untuk mengamputasi dua jari: jempol dan jari sebelah jempol. Ini operasi ketiga. Operasi pertama cuma kelingking, operasi kedua dua jari kaki sebelah jari kelingking. Operasi ketiga dua jari (jempol dan sebelah jempol) sampai separo telapak kaki. 

mansyur2.jpg

Sore hari masuk rawat inap, dan esok harinya sekitar pukul 15.00 jadilah saya masuk kamar operasi untuk dibius separo badan. Kemudian  menjalani operasi ke-4 untuk dieksekusi separo telapak kaki.

Allahu Akbar. Operasi sukses. Tapi hari-hari kulalui dengan  was-was. Apakah masih ada lagi operasi berikutnya?? Akankah benar-benar selesai penderitaan ini. 

PENDERITAAN BELUM SELESAI

Ternyata penderitaan belum selesai. Dari rangkaian perawatan yang berjalan 3 hari sekali, keadaan benar-benar telah memburuk. Karena jaringan-jaringan pembuluh darahnya sudah banyak yang buntu.

Rencana akan di-by pass waktunya udah nggak ada, karena libur panjang Hari Raya Idul Fitri. 

masnyur5.jpg

Begitu perawatan ketiga, saya sekeluarga berdiskusi lagi bagaimana sebaiknya dengan kaki saya. Agak lama. Dokter memutuskan yang terbaik untuk amputasi 15 cm dari lutut. Aku hanya bengong nggak tahu harus ngomong apalagi? Air mata? Hemmm sudah nggak mau keluar lagi. Yang aku rasa hanya satu. Aku akan menjadi orang cacat seumur hidup. Nggak pikir panjang lagi aku hanya mengangguk mengiyakan keputusan dokter yang teraman dan terbaik. 

Aku harus masuk bius ketiga dan operasi kelima. Dua hari menjelang takbir Idul Fitri yang seharusnya aku lusa ke masjid untuk mengumandangkan takbir dan sholat Idul Fitri, justru aku harus menghadapi pisau eksekusi untuk mengamputasi kaki saya. 

Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar. Walillahilhamdu. (*)

Pewarta : Mansyur Efendi
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda