Berkah 'Tausyiah Bisnis'

Joko Intarto (kanan) saat memberikan tausyiah bisnis. (FOTO: istimewa)

COWASJP.COM – ​Buka puasa bersama anggota ISMEA (Indonesia Small and Medium Enterprises) sore tadi berlangsung meriah. 

Yang hadir di Mal Pelayanan Publik Pemkot Jakarta Selatan itu beragam. Ada pengusaha, mahasiswa, motivator, business coach dan dosen kewirausahaan.

Sebagai praktisi webinar, saya memberi ‘tausyiah bisnis’ dengan tema ‘’Webinar for Business’’. Memaparkan beberapa konsep kreatif yang sudah dijalankan para pengusaha untuk mengatasi dua penyebab inefisiensi komunikasi: jarak dan waktu.

Lambang Saribuana yang hadir sebagai peserta, saya undang untuk memberi testimoni. CEO CSM Cargo itu sudah sekitar 3 bulan memanfaatkan webinar dalam menjalankan aktivitas bisnisnya. ‘’Dengan webinar, kami bisa melakukan rapat dengan semua kantor cabang seminggu sekali. Pelanggan dan mitra juga lebih puas dengan pelayanan kami, karena sekarang bisa berkomunikasi dengan audio visual,’’ jelasnya.

Yang lebih menarik, lanjutnya, biaya telepon di kantornya sekarang turun drastis. Dulu rata-rata Rp 10 juta per bulan. Sejak menggunakan webinar, tagihan teleponnya menjadi Rp 2 juta per bulan. Sedangkan biaya paket internet tidak bertambah. Walau ada pemakaian webinar. ‘’Terima kasih kepada Jagaters yang telah membantu kami dalam meningkatkan keberhasilan komunikasi perusahaan kami dengan jaringan, mitra dan pelanggan,’’ kata Lambang.

jto1.jpg

Indra Uno, co founder OK Oce, yang juga Pembina ISMEA, menanggapi dengan antusias pemaparan Lambang. Terutama, setelah tahu aplikasi webinar bisa mengakomodasi hingga ribuan orang di lokasi berbeda. ‘’Kami memang butuh vendor yang bisa menyediakan sistem untuk menghubungkan 527 kantor OK Oce di seluruh Indonesia yang bisa diandalkan dan berbiaya murah,’’ jelas Indra di sela-sela paparannya.

Selain mendapat peluang bisnis dari OK Oce, saya juga bertemu Mulle. Staf OK Oce yang menangani program training. Mulle-lah yang mula-mula menyapa saya. ‘’Pak Joko, masih ingat saya? Saya Mulle. Dulu peserta training Bapak di Green Leafe,’’ katanya.

Green Leafe adalah lembaga training wirausaha dengan target pengusaha pemula, khususnya yang masih berstatus mahasiswa. Dulu, kantornya di Blok M Plaza. Saya pernah menjadi trainer di Green Leafe selama dua tahun. Antara tahun 2003 – 2004.

Di lembaga inilah saya berkenalan dengan Dr Ir H Wahyu Saidi MSc. Pengusaha kuliner yang sempat membuka 420 restoran bakmi di dalam dan luar negeri. Sebelum akhirnya bangkrut dan saya beri gelar ‘’Raja Bangkrut Indonesia’’. Yang tadi pagi menerbitkan buku ke-39.

Green Leafe sudah tidak terdengar lagi gaungnya sejak lama. Tapi alumninya banyak. Tersebar di mana-mana. Beberapa di antaranya masih ingat dengan saya. Salah satunya: Mulle itu.

Terima kasih Bu Endang Rudiatin, dosen Universitas Muhammadiyah Jakarta, yang telah memberi kesempatan kepada saya untuk mengisi ‘’tausyiah bisnis’’ kali ini. Sukses untuk semua pengusaha anggota ISMEA. (*)

Pewarta : Joko Intarto
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda