Perubahan dan Cara Pandang Kita

COWASJP.COM – Guruku berkata "Anda sudah berada di jalan yang benar, tetapi kalau tidak bergerak melakukan perubahan anda akan terlindas oleh yang lain". Karena di dunia ini ada hukum perubahan, dinamis, menggerakan siapa saja sebagai warga bumi.

Betapa para aparatur pemerintahan (birokrat) agak kedodoran  merespon perubahan yang sangat cepat dengan majunya teknologi informasi dan komunikasi. Saat ini konon kita memasuki era revolusi industri 4.0, yang berkonsekuensi pada respon kita untuk menjadikannya sebagai peluang dan tantangan bukan ancaman.

Agamawan juga mengalami problem serius, betapa umat mengalami perubahan yang sangat cepat. Media sosial buah dari pesatnya teknologi informasi, berlari kencang menyampaikan pesan-pesan dakwah. Sementara para da'i dan juru dakwah (missionaris), kadang lamban melakukan sesuatu perubahan. Literasi agama yang berkembang, konon bukan berasal dari para da'i yang konvensional yang menguasai pelbagai literatur klasik dan faqih agamanya, tetapi lahir dan diproduksi oleh para da'i baru ala media sosial.

Para juru dakwah yang menguasai media sosial, menggunakan hukum-hukum media sosial, dengan langgam, cara berfikir, dan gaya bahasa medsos agar mudah dipahami oleh para netizen. Dengan keterbatasan durasi tayang, tentu saja membutuhkan keterampilan dan kepiawaian mengemas pesan-pesan agama secara sistematis dan mudah. Dibutuhkan cara pandang memahami perubahan model dan karakter dakwah komtemporer.

Pun di profesi dan sektor kehidupan yang lain, juga terkena dampak perubahan dari implikasi medsos. Di dunia pendidikan, ekonomi dan bisnis, transportasi, hukum dan juga perpolitikan. Muncul pelbagai layanan online dan automatisasi. Para guru dan dosen saat ini sudah tidak lagi menjadi sumber belajar utama, karena telah tergantikan oleh teknologi informasi. Dibutuhkan profesionalisme guru yang adaptif dan ramah merespon perkembangan IT dan laju media sosial.

Budaya Oral-Budaya Tulis

Di era medsos yang kebanyakan dihuni oleh generasi millenial, membutuhkan paradigma (cara pandang) baru menghadapi perubahan, terutama yang dipicu oleh teknologi informasi. Islam telah mengajarkan, betapa pentingnya memahami perubahan. Perubahan bukan ditangan orang lain tetapi tergantung oleh diri kita sendiri. “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.”(Q.S. 13:11).

Di era digital para aktivis penggerak masyarakat, agamawan, birokrat, politisi dan pelbagai jabatan publik lainnya, harus pandai menulis untuk menajamkan literasi. Tidak boleh hanya mempertahankan budaya bicara (oral), tetapi berubah dengan budaya tulis. Pramodeya Ananta Toer seorang budayawan dan novelis pernah berkata: “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”

Untuk bisa menulis pra syarat utamanya adalah membaca dalam pengertiannya yang luas. Membaca ayat-ayat Tuhan yang kauniyah (alam semesta) dan ayat-ayat yang qauliyah termaktub dalam Al-Quran, Hadits dan hasil ijtihad para ulama. Tanpa membaca, maka sulit rasanya untuk menulis apalagi miskin dengan membaca fenomena alam, sejarah, sosial yang berkembang. 

Dengan demikian, perubahan juga mempersyaratkan cara berfikir kita tentang Tuhan, manusia dan alam. Di sinilah letak pentingnya membaca dan menulis sebagai pesan al-Quran. "Iqra bisi rabbika al-ladzii al-khalaq".

Jika memahami perubahan dengan kaca mata yang positif maka akan lahir kesediaan menerima dan ikhtiar untuk mempersiapkan diri. Di samping menata pola pikir juga menyiapkan berbagai kapasitas yang harus dimiliki menghadapi era revolusi industri 4.0 dengan pelbagai varian penyertanya. 

Para ahli menyebutkan beberapa kompetensi yang dibutuhkan untuk mempersiapkan era Industri 4.0, di antaranya, kemampuan memecahkan masalah (problem solving), beradaptasi (adaptability), kolaborasi (collaboration), kepemimpinan (leadership), dan kreatifitas serta inovasi (creativity and innovation).

Puasa ramadlon hakikatnya juga mendidik kita agar mencapai derajat dan kualitas paripurna (taqwa). Untuk mencapai kualitas, dibutuhkan perubahan pikir, laku dan sikap setelah dalam madrasah ramadlon. Apakah kita akan lulus menghadapi perubahan? tergantung pada sejauh mana kita memberdayakan akal kita dan kapasitas kita sebuah ujian pasca ramadlon. 

Makna ramadlon dengan demikian tidak sekedar ritus-ritus agama yang kering akan spirit perubahan, namun nilai yang tak terhingga melandasi mentalitas kita menjadi manusia pembelajar. Wallahu a'lam bi al-shawab. (*)

Penulis: Ruchman Basori, Ketua Pimpinan Pusat GP Ansor dan Kasi Kemahasiswaan Ditjen Pendis Kemenag RI.

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda