Kepancal Sepur

Joko Intarto (penulis, paling kanan) bersama Dahlan Iskan (kedua dari kanan). (FOTO: jokointarto.blogspot.com)

COWASJP.COM – Lagi-lagi saya ketinggalan kereta. Kata orang Jawa: kepancal sepur. Entah untuk yang keberapa kalinya. 

Harusnya saya naik KA Gumarang pukul 18:56. Dari Stasiun Ngrombo (NBO) menuju Stasiun Pasar Senen. 

Stasiun Ngrombo adalah stasiun kereta api di Desa Dhepok, Kecamatan Toroh, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah.

Tapi entah mengapa, sejak beli tiket, jadwal yang nempel di ingatan saya adalah pukul 20:05. Karena itu walau sudah selesai buka puasa, saya masih tenang-tenang saja.  

Saya baru berangkat dari rumah ibu saya seusai salat isya di masjid. Diantar Dani, adik saya. Toh hanya 2 Km dari stasiun. Hanya butuh 10 menit naik sepeda motor.

Tiba di stasiun masih pukul 19:30. Sambil menunggu kereta, saya pesan segelas kopi. Adik saya juga.

joko1.jpg

Belum habis setengah gelas, tiba-tiba lonceng stasiun berbunyi. Tanda akan ada sepur yang lewat. "Cepat amat keretanya?" kata saya dalam hati sambil menarik tiket dari dalam dompet.

Antara percaya dan tidak, saya lihat samar-samar dalam temaram lampu warung: berangkat pukul 18:56. "Wah kepancal sepur nih," komentar adik saya sambil terkekeh.

Tak mau buang-buang waktu, saya segera lari ke loket penjualan tiket. Mencari kereta api lain menuju Jakarta. "Ada pukul 01:00," petugas.

Ups! Tidak mungkin saya naik kereta itu. Saya harus sampai Jakarta sepagi mungkin. Karena pukul 10:00 harus sampai di kantor PT Sharp Indonesia. Ada pekerjaan yang tidak bisa ditunda di sana.

"Saya naik kereta yang datang ini saja," kata saya sambil menyerahkan tiket eksekutif seharga Rp 450.000 itu.

"KA Harina tidak ke Jakarta, tapi Bandung," jawab petugas.

joko2.jpg

"Tidak apa-apa. Saya turun di Cirebon," kata saya sambil membayar tiket baru, ekonomi seharga Rp 220.000.

Berkejaran dengan waktu transit, akhirnya saya berhasil masuk gerbong 30 detik sebelum kereta melanjutkan perjalanan. Alhamdulillah.

Saking 'kesusunya', sampai lupa belum membayar kopi! Penyakit saya zaman mahasiswa, rupanya masih sering kambuh: marung ora mbayar.

Ada Untungnya

Ada untungnya kepancal sepur di Stasiun Ngrombo sore tadi. Menumpang KA Harina jurusan Bandung, saya turun di Stasiun Cirebon. Tepat pukul 00:00.

joko3.jpg

Waktu masih cukup panjang. Pilihan kereta sambungan ke Jakarta juga banyak. Ada KA Sembrani, KA Raksasa dan KA Gajayana yang akan singgah dalam waktu 1,5 jam. Tiket pun masih tersedia cukup banyak di ketiga kereta api tersebut.

Saya pilih KA Gajayana. Sesuai rekomendasi petugas penjualan tiket. Katanya, kondisi keretanya paling bagus dibanding dua kereta lainnya. Tapi berangkat paling akhir. Tiba di Jakarta sudah lepas subuh. Berarti harus cari makan sahur di Cirebon.

Di depan stasiun ternyata banyak warung makan yang masih buka. Saya pilih mampir ke warung Kopi Kardus. Ternyata warung ini punya 4 jenis kopi saja: Malabar, Kerinci, Mandailing dan satu house blend.

joko4.jpg

Sambil menunggu barista selesai meracik kopi Kerinci, saya habiskan waktu untuk memotret bangunan Stasiun Cirebon yang sangat indah itu.

Stasiun Cirebon sama dengan stasiun kereta lain yang dibangun pada masa penjajahan Belanda. Statusnya bangunan cagar budaya. Bedanya, stasiun ini justru dipertahankan gaya antiknya. Tidak menjadi korban vandalisme seperti Stasiun Poncol Semarang.

Teman-teman yang menyukai fotografi saya rekomendasikan untuk mampir di Stasiun Cirebon pada waktu malam. Tentu tanpa harus kepancal sepur seperti saya. (*)

Pewarta : Joko Intarto
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda