Serba-Serbi Ramadhan (2)

Desa Berdikari

Kukusan mini, produk andalan para perajin bambu di Dusun Ciburial, yang sangat digemari penikmat kopi. (FOTO: Joko Intarto)

COWASJP.COM – Saya selalu merasa sedih setiap akan menulis buku ini: ‘Desa Berdikari’. Buku ini dipesan khusus oleh Departemen Ekonomi dan Keuangan Syariah (DEKS) Bank Indonesia.

Bukan bukunya yang bikin saya sedih. Tetapi kisah warga Dusun Ciburial itu yang membuat miris. Bagaimana tidak? Lebih dari 90 persen warga dusun di Kabupaten Bandung Barat itu terjerat rentenir. 

Celakanya, warga  tidak hanya utang ke satu rentenir. Kebanyakan malah punya utang ke beberapa rentenir berbeda sekaligus. 

BACA JUGA: Juragan Nasi Kuning Milenial​

Ada 11 rentenir yang beroperasi di desa tersebut. Para rentenir itu menggoda warga dengan kemudahan utang antara Rp 1 juta – Rp 5 juta. Tentu dengan bunga yang mencekik leher.

Dalam situasi seperti itulah, DEKS BI meluncurkan program Desa Berdikari. Di Dusun Ciburial itu. Sebuah program yang akan menjadi model pemberdayaan warga miskin pedesaan berbasis dana syariah masyarakat. 

jeto.jpgProgram Desa Berdikari di Dukuh  Ciburial. (FOTO: storgram.com)

Model ini akan diduplikasi dan dikembangkan di seluruh wilayah kerja BI. Karena itu, DEKS BI perlu mendokumentasikan model itu dalam sebuah buku. 

Saya sudah mengikuti program Desa Berdikari itu sejak 2017. Saat itu saya diminta mengevaluasi konsep program itu. Setelah melakukan observasi dua hari, saya rekomendasikan agar bekerjasama dengan lembaga amil zakat yang punya kredibilitas dalam pemberdayaan sosial serta sanggup menempatkan leader di desa itu.

Rekomendasi saya diterima. Tahun lalu, dimulailah program Desa Berdikari. Menggunakan konsep yang disusun Lembaga Amil Zakat Al-Azhar. Lembaga ini pula yang dipilih sebagai pelaksana program. 

jto2.jpgProgram Desa Berdikari di Dukuh Ciburial, Desa Jatimekar,  Bandung Barat. (FOTO: webstagram.one)

Saat ini, sudah hampir setahun program Desa Berdikari diimplementasikan. Sudah ada beberapa program pemberdayaan ekonomi yang berjalan. Di kelompok perajin bambu, sudah ada produk baru yang dihasilkan: kukusan mini untuk menyeduh kopi.

Untuk kelompok petani, sudah dimulai program pertanian padi organik dan kandang kambing komunal. Dengan kandang bersama, warga bisa mengumpulkan pupuk cair dan pupuk padat lebih mudah dan efisien. Untuk menyuburkan sawah organik.

Di lingkungan warga, sudah pula berjalan program optimalisasi pekarangan dengan penanaman sayuran serta tanaman bumbu dapur, khususnya cabai. 

Sudah banyak perubahan yang terjadi di Dusun Ciburial. Tetapi cengkeraman para rentenir masih kuat. Utang-utang lama belum semuanya bisa lunas. Masih beranak-pinak. Bunga berbunga.

Menghapus riba di desa-desa ternyata tidak cukup hanya dengan fatwa. Inilah bagian yang paling sulit sekaligus paling menantang buat saya.

Pewarta : Joko Intarto
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda