Kenali Modus Pemerasan Online

Grafis: MakeUseOf

COWASJP.COM – Tiba-tiba saya di-invite seseorang bernama Naomi. Namanya ditulis dengan huruf Kanji, Jepang. Di Facebook, tertulis ia berkawan dengan beberapa teman saya. Salah satunya, teman saya yang menjadi direktur di pabrik semen.

Beberapa saat sebelumnya, teman saya di Malang menghubungi saya. Dia sedang bingung karena diancam oleh seseorang bernama Naomi. Dari gambar yang ia kirim, Naomi yang dimaksud ternyata sama dengan Naomi yang mengundang saya untuk berkawan. Naomi yang namanya ditulis dengan huruf Kanji.

Teman saya yang ketiban sial itu orang Surabaya. Sekarang tinggal di Malang. Menjadi petani anggrek. Namanya: sebut saja HS. Alumni Ponpes Gontor.

Kisahnya begini:
HS teman baik saya. Tionghoa, muallaf, yang profesinya petani anggrek kecil-kecilan. Suatu hari HS dimention seseorang bernama Naomi. 

naomi.jpgFoto (palsu) pemeras yang mengaku bernama Naomi.(FOTO: Facebook)

Karena HS ini hanya update soal anggrek, maka ia mengira Naomi penggemar anggrek.

Dari chat via messenger FB, Naomi mengajak chat via Line. HS mengikuti.

Dari chatt di Line ini, Namoni mengajak video call. HS kembali mengikuti.

Ternyata, saat di video call itu, Naomi tiba-tiba menyetel video porno. 

Tak lama kemudian video dimatikan. Naomi tiba-tiba mengirim video bokep jepang itu plus video entah dari mana berisi video laki-laki sedang masturbasi. Kedua video itu tampak berjejeran.

Naomi lalu mengancam HS. Naomi akan menyebarkan video tersebut ke medsos, kecuali HS mau bayar tebusan Rp 30 juta.

jto1.jpgWaspadai setiap orang yang minta pertemanan di Facebook. Jangan hiraukan yang tidak jelas.(Grafis: irishtimes.com)

HS bingung, bagaimana mengatasi pemerasan begitu. Saya sarankan agar lapor polisi saja, ke unit cyber crime di Polda Jatim.

Teknik menampilkan dua video berdampingan itu sebenarnya mudah. Dalam dunia broadcasting disebut picture to picture atau p to p. Banyak software yang bisa digunakan untuk membuat tampilan seperti itu. Bagi yang pernah bekerja di stasiun TV pasti paham.

Software tersebut juga bisa merekam secara otomatis. Menggunakan teknologi live video record atau LVR. Saat video ditayangkan, saat itu pula dilakukan perekaman.

Jadi, hati-hati menerima permintaan perkawanan di media sosial. Kenali betul profil orang yang mengajak berkawan. Bila tidak cukup alasan untuk menerima ajakan, lebih baik hapus dari daftar permintaan. (*)

Pewarta : Joko Intarto
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda