Umroh The Power of Silaturahim III (27)

Yang Emosi, Yang Mengaji di Jalur Taman Surga Masjid Nabawi

COWASJP.COM – Dini hari. Mendekati pukul 01.00. Halaman Masjid Nabawi, Madinah, Arab Saudi, masih diguyur cahaya. Sorot lampu halogen di leher payung besar yang menutupi hampir seluruh halaman menerangi lantai marmer. Memantulkan cahaya ke daun-daun payung, menciptakan nuansa eksotis nan syahdu.

Lalu lalang manusia keluar masuk masjid belum padat. Sedikit sepi. Kehidupan justru lebih terasa di dalam masjid. Mereka mengaji, berzikir, sholat, i’tikaf atau berdiam diri berkontemplasi di dalam masjid, atau sekadar merenung. Beberapa orang tampak tidur meringkuk menahan dingin bertelekan tangan. Berserakan di antara yang mengaji dan berzikir.

Konsentrasi orang di masjid tersebut berada di bagian depan. Ada  dua jalur antrean panjang dari sisi masjid ke sisi yang lain. Padat berdesakan. Jalur antrean itu dibatasi tabir di sisi kiri dan kanan, depan dan belakang. Diikat tali yang ditautkan di pilar-pilar masjid. Antrean tidak bisa langsung menerobos ke depan karena jalur disekat menjadi tiga petak. Masing-masing petak dipisahkan dengan tabir yang dibuka-tutup oleh asykar, tentara Kerajaan Arab Saudi.

Asykar akan membuka tabir jika petak di depannya telah kosong. Ketika tabir dibuka, para pengantre berebut masuk ke petak kosong itu. Jika sudah penuh, tabir ditutup lagi. Demikian seterusnya. Sampai mereka tiba di sisi yang dituju, yakni Roudhoh, sepetak Taman Surga, bersebelahan dengan makam Rasulullah Muhammad SAW, Abu Bakar, dan Umar bin Khottob. Posisi Roudhoh berada di antara kediaman Rasulullah dan mimbar beliau SAW yang luasnya kurang lebih 330 meter persegi atau 22x15m. 

cak-fu.jpgJumadi A. Jais, anggota POS III asal Solok, Sumatera Barat di jalur Roudhoh. Tampak Cakfu (penulis) terhimpit di tengah. (Foto: Cak Fu/CoWasJP)

Butuh perjuangan keras untuk bisa sholat dan berdoa di Roudhoh. Setidaknya harus rela antre berjam-jam. Berdesakan, dorong-dorongan, benturan badan. Tak jarang kaki terinjak jamaah lain.
Saat paling krusial ialah ketika tabir pembatas menuju Roudhoh dibuka. Kontan pengantre berlomba menyerbu masuk petak kosong dan berebut tempat paling depan. Saling tabrak kadang terjadi. Kadang ada yang tersulut emosi. Adu mulut, bersitegang di dalam masjid. 

Tapi, tak sedikit juga yang menikmati antrean dengan membaca Al-Quran, menyenandungkan shalawat Nabi atau terus bertasbih di tengah himpitan orang. Menuju Taman Surga Roudhoh, tidak saja harus rela mengantre. Tapi, perlu kesabaran tinggi dan toleransi. 

cak-fu1.jpg

Sholat dan berdoa di Roudhoh tidak bisa berlama-lama. Asykar akan mengusir keluar jika dirasa waktunya cukup. Kurang lebih 15-30 menit bergantung banyak sedikitnya antrean. 

Terbawa Arus di Pusaran Tepian Surga

Semua jamaah umroh the Power of Silaturahim (POS) III yang diprakarsai sekaligus didanai pakar komunikasi Dr Aqua Dwipayana, alhamdulillah bisa ke Roudhoh. Bahkan, Mayor Mujiono –yang lebih popular dipanggil Kapten Muji-- langsung antre setelah sholat Subuh. Tetapi, rombongan besar pria baru masuk Roudhoh sekitar pukul 07.00 yang dipimpin kepala rombongan, Ustad Nurcholis MA Basyari. Sedangkan rombongan perempuan setelah Mahgrib.

Roudhoh memang merupakan daya tarik Masjid Nabawi. Tempat sakral yang diyakini mustajab untuk berdoa. Karena itu, ‘’jalur'' ke Roudhoh selalu padat 24 jam penuh. Antrean panjang itu juga menarik perhatian Andi Muhammad Hartawan, anggota Jamaah POS III asal Makassar. 

cak-fu2.jpgPelataran Masjid Nabawi kala sepi.

Polisi santri itu selalu menunggu waktu duha di masjid seusai jamaah Subuh. Demikian juga ketika POS III baru tiba di Madinah. Wawan –begitu biasa kami memanggil—menunggu waktu duha di Nabawi. Dia melihat antrean itu. Sebagai polisi yang biasa melakukan orientasi medan, dia masuk antrean. 

Ketika tabir dibuka, dia terdorong ke depan. Terjebak di tengah, Wawan berniat keluar antrean. Dia tidak bisa balik ke belakang karena terhalang tabir yang dijaga asykar. 

’’Saya tanya sama orang di sekitar saya, ini tempat apa? Roudhoh. Haahh…Ya sudah saya terus saja ikut antre. Tak sengaja saya sampai ke Roudhoh,’’ katanya. 

Jika sejak awal memang berniat ingin ke Roudhoh, kata Ustad Nurcholis, pasti Allah akan memberi jalan. Insya Allah.

cak-fu-3.jpg

Hari kedua POS III di Madinah. Beberapa orang kembali ke Roudhoh dipandu Ustad Nurcholis. Sedangkan saya pribadi lebih memilih tahajud. Ketika rombongan masuk jalur antrean, saya sholat tak jauh dari mulut jalur tersebut.

Dari detik ke detik jalur itu terus terisi. Orang datang bergelombang. Bahkan luberan pengantre memadati tempat saya sholat. Saya pun harus bersujud di sela-sela kaki atau rukuk dengan telinga menempel perut orang. Saya tenangkan diri saja menikmati suasana seperti itu. Toh para pengunjung semuanya sama-sama datang untuk beribadah.

cak-fu4.jpgAntrean di belakang tabir.

Usai sholat, saya mundur menjauhi jalur antrean. Mencari tempat aman sampai selesai tahajud dan mengaji. Tanpa terasa sekeliling tempat saya mengaji ternyata juga sudah terkepung kaki-kaki yang hendak menuju antrean. Saya tetap mengaji. Saya mulai khawatir ketika tubuh-tubuh berbobot mulai mendesak. ‘’Waduh…ini kalau ada dorongan sedikit saja, orang-orang ini bisa jatuh menimpa saya,’’ pikir saya.

Belum sempat saya beranjak, semua tabir ke Roudhoh dibuka karena menjelang subuh. Tak pelak semua pengantre berebut tempat paling dekat Roudhoh atau shaf (barisan) sholat paling depan. Saya kelabakan. Tak bisa berdiri, harus rela tertendang, tertubruk, kena dengkul. Dalam situasi seperti itu, ada tangan mengangkat tubuh saya dari belakang. Entah siapa. 

cak-fu5.jpgKapten Mujiono, anggota POS III, di jalur antrean ke Roudhoh.

Saya langsung larut dalam gemruduk rebutan shaf sholat. Dan, terdampar beberapa meter dari mihrab muazin. Dari barisan itu terlihat ornamen tempat imam sholat, makam Rasulullah, mimbar khotbah, dan lain-lain. Dari tempat itu pula, saya juga bisa melihat muazin melantunkan adzan subuh yang mengalun anggun, syahdu terdengar menyentuh kalbu. (*)

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda