Selamat Jalan Wartawan Pejuang

Jenazah Jacky dipandangi anak-isteri. Dijenguk temannya, Umar Fauzi dan jurnalis lainnya.

COWASJP.COMDimakamkan di Tanah Kusir, Jakarta Selatan,16.00 sore ini. Sabtu 6 April 2019. Itulah Jacky Kussoy sahabatku, jurnalis asal Surabaya. "Setelah kebaktian di gereja," ujar anak lelakinya.

************************************************************************************************

Jacky setamat STM di Surabaya, kuliah di AWS (Akademi Wartawan Surabaya) tahun 1970-an. Trus, jadi wartawan Harian Memorandum. Trus, wartawan Surabaya Post.

Karirnya paling lama di Tabloid Nyata (anak perusahaan Jawa Pos). Hampir separo usianya berkarir di situ.

Berapa usianya?

"Waktu Suroboyo udan awu (hujan abu) aku kelas 3 SD," cerita Jacky padaku, suatu hari.

Hujan abu di Surabaya, akibat meletusnya Gunung Agung di Bali. Itu fenomenal. Sepanjang siang langit 'peteng dhedet' (gelap gulita). Tahun 1963.

Berarti Jacky lahir 1954. Berkarir di Nyata hampir 30 tahun.

Tabloid Nyata, awalnya bernama Dharma Nyata milik Sakdani Dharmopamudjo, terbit di Solo, Jawa Tengah.

1 Januari 1991 Nyata diambil-alih Jawa Pos. Lalu, Pemimpin Redaksi Jawa Pos Dahlan Iskan mempercayakan Nany Wijaya memimpin Nyata.

Tenaga ahli redaksi pertama yang direkrut Nyata adalah Jacky. Sebelumnya, Jacky adalah wartawan Surabaya Post.

Tenaga ahli redaksi berikutnya, Syahran, wartawan Jawa Pos di Jakarta. Terjadilah kerja duet Jacky-Syahran di pucuk pimpinan.

Tentu, dibantu tim redaksi di bawahnya. Juga tim pemasaran. Juga tim iklan.

Dalam lima tahun, Nyata berkembang pesat. Dahlan selalu mengatakan, anak Jawa Pos paling banyak labanya adalah Nyata. Dibanding anak perusahaan Jawa Pos lain.

Berapa laba Nyata? Jawabnya ada di owner. Sebab, baik Jawa Pos maupun Nyata bukan perusahaan yang listing di bursa efek (perusahaan publik). Tidak wajib publikasi laba.

Berapa kontribusi Nyata ke induknya? Juga hanya owner yang tahu.

Tapi, beberapa media massa online, baru-baru ini memberitakan pendapatan Jawa Pos begini:

Tahun 2013 pendapatan Jawa Pos Rp 686,56 miliar. Tahun 2014 turun jadi Rp 653,57 miliar. Pada 2015 dan 2016, terus turun jadi rata-rata Rp 520,40 miliar.

Tahun 2017 merosot tajam. Hingga Oktober Rp 345,57 miliar.

Itu pendapatan Jawa Pos. Bukan Nyata. Katakanlah, kontribusi Nyata ke Jawa Pos 5 persen.

Atau gampangnya, Gedung Graha Pena yang megah berdinding kaca, di Surabaya, Jakarta, dan kota-kota lain, sekitar 5 persennya sumbangan Nyata.

Paling tidak, dinding kacanya saja. Atau tulisan neon-box raksasa: DBL. Di Graha Pena Surabaya yang tiap malam selalu menyala itu. Sumbangan Nyata.

Trus, apa hubungannya itu dengan Jacky? Yang sampai 2016 ngantor di Nyata Jakarta, naik motor butut?

Tidak ada hubungan finansial Nyata dengan Jacky. Tidak ada. Jacky pekerja yang sudah digaji.

Kalau mau kaya, jadilah pemiliknya. Seperti Dahlan Iskan, dicatat sebagai orang terkaya Indonesia urutan ke-90.

Jacky sudah pensiun dari Nyata. Semangat kerjanya (di luar Nyata) masih menyala. Karena anaknya 4 harus dinafkahi. Si bungsu masih SMA.

Buktinya, 2017 Jacky dan aku menggarap majalah bulanan internal KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi). Nama majalahnya: Integrito.

Waktu deadline, dia dua malam menginap di kantor bersamaku. Menggarap finishing isi Integrito.

Akhir Maret 2019 beredar kabar, Jacky sakit keras. Stroke. Seluruh badan bagian kanan lumpuh. Juga paru paru rusak, meski dia bukan perokok.

Dia dirawat di RSUD Pasar Minggu Jakarta dengan BPJS. Sebagian teman wartawan menjenguk. Tapi, Selasa 2 April 2019 dia dipaksa pulang oleh pihak RSUD.

Teman Jacky, Puji Raharjo, mengatakan: "Karena jatah pasien BPJS cuman segitu. Harus pulang dulu, trus boleh masuk lagi dengan jatah baru yang juga seminggu."

Jumat, 5 April 2019 Jacky akan dibawa ke RS lagi. Berbekal BPJS lagi. Biar gratis lagi. Tapi dia keburu meninggal.

Malamnya, aku dan mantan anak buah Jacky di Nyata, jurnalis Esa Tjatur dan Titin, bertakziah.

Rumah duka 'mbulet' minta ampun. Kami mencari berputar-putar. Di jalan-jalan kecil di kawasan Bintaro. Ketemulah rumah duka yang sederhana.

Sesuai adatnya, Jacky terbaring di peti kotak kayu. Ditutupi kelambu. Dia mengenakan stelan jas warna hitam. Kaos kaki putih kegedean.

Dalam perjalanan pulang, aku masih terbayang kaos kaki itu. Masak, kaos kaki pun milik anaknya? Semoga bukan.

Selamat jalan, Jacky...

Caption foto: Jenazah Jacky dipandangi anak-isteri. Dijenguk temannya, Umar Fauzi dan jurnalis lainnya. (*) 

Penulis: Djono W. Oesman, mantan wartawan senior Jawa Pos Group.

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda