Buku "Revolusi 212" Sengaja Diedarkan Jelang Pilpres?

Nasmay L. Anas dan bukunya "Revolusi 212." (FOTO: Istimewa)

COWASJP.COM – Penulis buku berjudul 'Revolusi 212', H. Nasmay L. Anas, membantah isu, bahwa buku yang diterbitkan oleh Pustaka Ali Imron (Bandar Lampung) tersebut sengaja disiapkan untuk menyambut pemilihan presiden (Pilpres) 17 April mendatang.

"Sebagai penulis, saya tidak tahu persis proyeksi jadwal penerbitannya. Yang menentukan, ya penerbitnya sendiri," kata Nasmay.

Namun, Nasmay mengaku butuh waktu 3 tahun untuk menyelesaikan buku tersebut. Sebab, buku itu merupakan kumpulan tulisan mengenai peristiwa-peristiwa penting sejak munculnya kasus penistaan agama yang dilakukan oleh mantan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja  Purnama (Ahok).  

"Untuk prolognya  sendiri yang saya tulis agak panjang, menghabiskan waktu 2 bulan,"  jelas lelaki kelahiran Payakumbuh, (Sumatera Barat) ini.

BELAJAR SEJARAH

Bagi Nasmay --yang sudah menulis 10 judul buku itu-- 'Revolusi 212' tidak ubahnya sebuah catatan lepas yang menggambarkan pergolakan dan perjuangan umat Islam di Indonesia selama 3 tahun terakhir ini 

Umat Islam sebagai entitas kelompok mayoritas,  justru kepentingannya seolah-olah  berseberangan dengan sikap dan kebijakan penguasa. Mereka mayoritas dalam hitungan, namun minoritas dalam perhitungan. Tepatnya, menjadi kelompok yang seakan-akan tidak pernah diperhitungkan.

Dengan kata lain, 'Revolusi 212' merupakan  catatan Nasmay soal berbagai peristiwa penting yang terkait dengan perjuangan umat Islam dalam memperlihatkan eksistensi diri.

"Ini juga dapat dipandang sebagai kaleidoskop perjuangan umat . Paling tidak selama paruh kedua masa pemerintahan Presiden Jokowi-Kalla. Era pemerintahan paling dramatis dan tragis dalam terkait eksistensi ajaran Islam dan pemeluknya," jelas mantan redaktur berita internasional Harian Jawa Pos itu.

Nasmay --yang melejit namanya lewat buku berjudul 'Gadis Pulau' (2017)-- berpendapat 'Revolusi 212' mencoba menyadarkan umat Islam agar banyak belajar dari sejarah bangsa, dan menyatukan sikap dan pemikiran. 

Dengan demikian, lanjut dia,  kebersamaan umat Islam di Indonesia tidak dapat dipandang dengan sebelah mata oleh penguasa. Lebih-lebih oleh rezim yang jelas-jelas tidak berpihak kepada umat Islam.

"Di mata saya, umat Islam di Indonesia sangat pemaaf, tidak pendendam dan murah hati. Mereka cenderung mudah melupakan suatu peristiwa yang sesungguhnya sangat merusak keislaman," ujar Nasmay. 

Dalam bukunya, Nasmay memaparkan bahwa meskipun 'revolusi' yang digemakan oleh beberapa pemuka Islam di Indonesia masih dalam batas wacana, namun jika benar-benar terjadi --karena sikon yang memaksa-- tentu akan menjadi catatan buruk dalam sejarah Indonesia. (*)

Pewarta : Moch Taufiq
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda