Lebih Dekat dengan Dhimam Abror (1)

Berani Mengkritisi Dahlan Iskan

Dhimam Abror Djuraid. (FOTO: CowasJP)

COWASJP.COM – Ketua Cowas JP (Konco Lawas Jawa Pos), Dhimam Abror Djuraid, maju dalam pencalegan DPR RI Dapil Jatim 1 (Surabaya & Sidoarjo) nomor urut 2 dari Partai Amanat Nasional (PAN). 

Salah satu sisi kehidupan mantan Pemimpin Redaksi Jawa Pos itu diungkap oleh Bahari, mantan wartawan senior Jawa Pos, dengan gaya bertutur berikut ini:

Mengkritisi-Dahlan-Iskan-3.jpg

Saya kenal Cak Abror --demikian saya biasa memanggil Dhimam Abror -- pada 1996. Ketika itu dia menjabat Redaktur Pelaksana Jawa Pos. Saya masih bertugas di JPNN yang sama-sama berkantor di Jalan Karah Agung, Surabaya.

Di mata saya, Cak Abror adalah pemimpin yang berani memperjuangkan nasib anak buahnya. Ketika 1996 ada peluang masuk ke Jawa Pos, saya meminta ke Cak Abror untuk memperjuangkan nasib saya. 

Alhamdulillah, saya akhirnya diterima di Jawa Pos. Sebenarnya bukan hanya saya saja yang diperjuangkannya. Ada pula Udi' (Syamsuddin Adlawi) yang terancam dipecat oleh Jawa Pos, namun berhasil diselamatkan oleh Cak Abror. Setahu saya, banyak pegawai yang diangkat sebagai karyawan tetap pada zaman kepemimpinan Cak Abror. Bagi saya, hal itu luar-biasa.

Saya menilai Cak Abror juga mempunyai feeling sangat bagus atas perjalanan bisnis Jawa Pos. Kesan tersebut saya tangkap, ketika mewawancarainya untuk materi buku saya yang berjudul 'Azrul Ananda Dipuja dan Dicibir, Kontroversi Penguasa Baru Jawa Pos Ahli Waris Dahlan Iskan', pada  pertengahan Januari 2017 yang lalu.

Sejak Azrul masih di bangku SMP, Cak Abror  sudah memprediksi bahwa Azrul bakal menggantikan kedudukan ayahnya sebagai penguasa Jawa Pos. Dan, 15 tahun kemudian --tepatnya pada 2005 --  ramalan Cak Abror pun menjadi kenyataan. Azrul diangkat sebagai Pemimpin Redaksi Jawa Pos. Kemudian karier Azrul makin memuncak, karena diangkat sebagai Komisaris Utama Jawa Pos Grup, sekaligus Direktur Utama PT Koran JP.

Kepada saya, Cak Abror bercerita bahwa dia mengawali kariernya di Jawa Pos pada 1986 sebagai wartawan kriminal. Liputannya tentang pembantu rumahtangga bernama Ira yang disiksa lahir-batin oleh majikannya yang tinggal di kawasan Kapasan, Surabaya berhasil melambungkan nama Cak Abror. Konon, karena itulah Pak Dahlan mulai serius melirik talenta Cak Abror.

Pada 1988, Cak Abror mendirikan Biro Jawa Pos di Jogjakarta. Pada saat inilah banyak cendikiawan dan intelektual di Kota Gudeg itu yang meroket namanya ke tingkat nasional, atas 'sentuhan' Jawa Pos. Mereka kerap diwawancarai atau menuliskan opininya di Jawa Pos. Pada 1990-1995 Cak Abror dipercaya menjadi Kepala Biro Jawa Pos di Sidney. Selanjutnya dia ditugaskan di Jakarta.

Kritisi Dahlan

Meskipun merasa dibesarkan oleh Jawa Pos dan sangat menghormati Pak Dahlan, tetapi Cak Abror tetap mengkritisi sikap bos besarnya itu.

Dalam sebuah rapat pimpinan Jawa Pos di Hyatt Bumi Regency Surabaya -- kini berubah nama menjadi Hotel Bumi di Jalan Basuki Rachmad -- Cak Abror sempat mengomentari gaya kepemimpinan Pak Dahlan yang dinilai Cak Abror cenderung menyalahkan stafnya. Di mata, Cak Abror, tidak ada anak-buah yang bersalah. Sebab kesalahan hanya pantas ditanggung oleh komandan atau pimpinannya, sebagaimana sikap yang dimiliki oleh sosok pejuang Prancis, Napoleon Bonaparte.

Di luar dugaan, Pak Dahlan secara spontan langsung menanggapi ucapan Cak Abror. "Hari gini masih ada anak-buah Napoleon di Jogjakarta," sindir Pak Dahlan, sambil tertawa kecil.

Ketika itu Cak Abror memang masih mengendalikan Biro Jawa Pos di Jogjakarta.

Kepada saya, Cak Abror juga menyoroti kesalahan besar Pak Dahlan dengan menempatkan Azrul sebagai penguasa Jawa Pos. Menurut hemat Cak Abror, Azrul tidak pas memegang jabatan itu. Perusahaan pers harus sangat kuat di keredaksionalannya, sementara Azrul belum teruji bekerja sebagai jurnalis. Lebih-lebih dalam mengelola perusahaan sebesar Jawa Pos. 

Cak Abror berpendapat, Pak Dahlan sesungguhnya sudah jauh-jauh hari mempersiapkan Azrul sebagai penggantinya. Dan, ramalan Cak Abror pun tidak meleset!

Caleg Kompeten

Mengkritisi-Dahlan-Iskan-2.jpg

Bagi saya, memotret perjalanan hidup Cak Abror yang hobi main bola dan bersepeda itu, adalah hal yang sangat menarik. Ketika saya mendengar Cak Abror maju sebagai Caleg nomor urut 2 dari Partai Amanat Nasional (PAN) untuk DPR RI Dapil Jatim 1 (Surabaya dan Sidoarjo), saya ikut merasa bangga. Sebab, saya sangat yakin Cak Abror telah mempertimbangkannya secara matang. 

Di sisi lain, saya sangat berharap Cak Abror benar-benar dipilih oleh warga Surabaya dan Sidoarjo. Tokoh yang satu ini benar-benar pantas untuk dicoblos. Pengalamannya sudah teruji. Cak Abror juga luwes dalam bergaul. Tidak pilih-pilih dalam berteman, asalkan tetap berada di jalur yang lurus.

Insya Allah Cak Abror sudah mempunyai visi-misi khusus untuk Jawa Timur, khususnya Surabaya dan Sidoarjo, jika lolos ke Senayan.(*)

Pewarta : Bahari
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda