Masjid dan Politik

Desain grafis: youtube.com

COWASJP.COM – Saya dari dulu hidup di lingkungan Takeran, daerah kental pesantren, di mana dulu PKI membabi buta menyingkirkan para alim ulama. Oleh sebab itu kehidupan di masjid tidak asing, bahkan hingga saya menjadi mahasiswa UGM pun, saya selalu berkecimpung dengan masjid. 

Sewaktu pulang kampung, katanya saya terlalu militan. 

Mari kita lihat masjid-masjid yang ada di Indonesia, rata-rata berada di pusat kota, di alun-alun kota. Sidoarjo, Pekalongan, Semarang, dan banyak kota lain yang memang berada di tengah-tengah kota. Saya membaca sejarah, bukan alun-alunnya dulu yang dibentuk, tapi karena ada masjidlah kemudian muncul alun-alun. Masjid bukan hanya tempat muamalah ma’allah, tapi juga ma’annas.

misbahul-huda.jpgProduktif menulis dan dibukukan. Foto: josstoday.com

Masjid kita didisain para wali. Mengikuti sunnah Rasul yang mendisain masjid sebagai pusat kegiatan masyarakat. Maka sejak dulu, masjid selalu lahir dengan nama daerah. Tidak Al Al Al. Masjid Quba, karena nama tempatnya juga di Quba. Indonesia pun sebenarnya demikian, Masjid Agung Demak, Masjid Agung Semarang, Masjid Jogokarian, semua nama daerah. Artinya masjid lebih dekat ke masyarakat.

Entah sejak kapan tiba-tiba banyak tersiar larangan ini dan itu di masjid. Dilarang berbicara tentang orang kafir, dilarang berbicara tentang politik, dilarang ini dan itu. Masjid disuruh duduk manis untuk sujud saja. Tidak untuk yang lain.

Jika dilarang kampanye, sah-sah saja. Kebijakan masing-masing masjid. 
Tapi jika ternyata berbicara tentang politik dilarang, padahal al Quran dan hadist pun banyak membicarakan tentang itu, maka kita sebenarnya sudah melupakan sejarah masjid di Indonesia itu sendiri.

Permulaan semua ini menurut saya dari sekularisme. Membelah antara kegiatan ibadah, dengan kegiatan muamalah. Jangan bicara muamalah di masjid. Jangan bicara dagang di masjid. Di masjid hanya boleh bicara shalat, puasa, zakat, dan haji saja. Ah, Islam tidak sesempit itu. (*)

Penulis: Ir Misbahul Huda, mantan Direktur Temprina Grup Jawa Pos.

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda