Sang Begawan Media

Radikal Shofa

Rudalku program yang diciptakan Shofa Ikhsan untuk deradikalisasi yang murah apa adanya. (FOTO: Instagram @rudalku_jihadis_literasi - edura.unj.ac.id)

COWASJP.COM – "BANYAK membaca, pikiran terbuka. Banyak bacaan, jadi toleran".

Yang merumuskan kalimat bagus itu putra Blora. Rumahnya penuh buku. Sejak SMP sudah gila membaca.

Kini ia punya kegiatan mulia: bersahabat dengan mantan teroris. Bukan hanya bersahabat. Ia punya program bersama. Namanya: Rudalku. Singkatan dari Rumahku, Daulahku, Bukuku. 

Nama aktivis kita ini: Shofa Ikhsan. Itu nama di cover buku. Nama aslinya Muhammad Mushofa. Diambil Shofa-nya. Lalu ditambah nama bapaknya: Ikhsan.

Ia berusia 49 tahun. Anaknya dua orang. Istrinya lulusan mekanisasi pertanian IPB, kini bekerja di bank asing. 

Shofa sendiri dosen agama Islam di Universitas Indonesia. Dosen tidak tetap. Ia sarjana filsafat dari Universitas Gadjah Mada. Lalu ambil master bidang pemikiran Islam di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Ditambah lagi master bidang hukum ekonomi di Universitas Nasional. 

Setamat SMP di Blora, Shofa masuk SMA pondok Tebuireng Jombang. Selama kuliah di UGM ia juga mondok di pesantren Krapyak.

Shofa kali pertama kenal mantan teroris tahun 2011. Waktu itu ia menjadi anggota tim penelitian radikaliame. Ia pergi ke Palu, Bima, Palembang, dan daerah-daerah ''merah'' lainnya.

Dari penelitian itu Shofa tidak hanya tahu, tapi juga gundah-gulana. Terutama ketika melihat upaya deradikalisasi yang mahal dan formal. 

Ia memilih bergaul dan banyak bicara dengan para mantan teroris itu. Mereka itu, ternyata, merasa bosan dengan cara-cara ceramah selama ini. "Ada yang bilang membosankan lalu pilih tidur saja," ujar Shofa mengutip kata-kata mereka. Bahkan ada yang mengaku: kalau didatangkan ke suatu acara, lalu diberi buku, bukunya dibuang waktu tiba kembali di bandara.

Dari banyak mantan teroris yang ia kenal salah seorang mengesankannya: Ki Agus M. Toni. Toni orang dari Ogan Komering Ulu, Sumsel. Anaknya 3 orang. Pekerjaannya: penderes getah karet.

Gus Shofi sampai datang ke rumah Toni. Di tengah hutan karet. Di perbatasan antara OKU (Sumsel) dan Mesuji (Lampung). Di situ rumah penduduk berjauhan. Kanan kiri rumah Toni adalah kebun karet. Rumahnya rumah lama, rumah batu. Lantainya plester. Ada musala kecil dekat rumah itu. Toni rupanya ustad di kampung tersebut.

Toni terlibat penembakan pendeta di Palembang. Pendeta itu ia tembak dengan pistol. Dari jarak 1 meter. Tewas. Setelah itu ia ingin meledakkan bom di sebuah kafe di Sumbar. Yakni kafe yang banyak didatangi orang bule. 

Toni sudah membawa bom ke kafe tersebut. Ia sudah siap meledakkannya. Tiba-tiba ia lihat ada wanita berjilbab masuk kafe itu. Ia urungkan tindakan meledakkan bom tersebut.

Toni dijatuhi hukuman 11 tahun. Perilakunya baik. Ia cepat keluar. Lalu kembali ke kampungnya di perbatasan OKU-Mesuji. "Saya perlu perjalanan lima jam dari Palembang ke rumahnya," ujar Shofa.

Toni punya grup 3 orang. Semua dari OKU. Ia sendiri jadi teroris karena terpengaruh jaringan yang lebih besar.

Kini rumah Toni yang sederhana merangkap jadi perpustakaan. Anak-anak sekitar membaca buku di situ. Banyak buku cerita anak-anak kiriman Shofa. Juga buku-buku ilmu sosial. Hanya sedikit buku agama. "Kalau banyak membaca buku agama malah gaduh," ujar Shofa

Shofa punya kegiatan yang sama di Palembang. Juga di Cirebon. Di Jateng. Total ada 42 mantan teroris yang kini tergabung dalam Rudalku. Di banyak daerah. 

Dengan perpustakaan rumah itu, Shofa ingin mengikatkan para mantan teroris ke ikatan rumahnya. Agar kerasan di rumah. Homing. "Begitu banyak ajaran hadis yang menyebutkan perlunya kembali ke rumah," katanya.

Bagaimana para mantan teroris itu bisa percaya pada Shofa? "Mungkin karena mereka melihat saya tidak punya agenda tersembunyi apa-apa," ujar Shofa. "Pasti mereka sudah mengecek latar belakang saya. Dan saya bukan jenis orang yang dipakai," tambahnya.

Tentu awalnya mereka mencurigai Shofa sebagai intel. Lama-lama mereka tahu Shofa itu murni peneliti. Ketika ke Jakarta mereka juga mampir ke rumah Shofa. Di bilangan Pasar Minggu. Yakni di rumah berukuran 230 m2 yang dibeli istrinya secara cicil. "Sekarang hampir lunas," katanya lantas tersenyum.

Mereka pun tahu di rumah Shofa penuh buku. Penuh sekali. Itulah, katanya, harta paling berharga di rumahnya. Komplet. Buku-buku agama, buku filsafat, hukum, dan ilmu sosial.

Shofa ingin seminggu sekali ada review buku dari para mantan teroris itu. Dibuatkan videonya. Satu orang sudah mengirimkan review itu ke Shofa. Lalu Shofa mengunggahnya ke YouTube. Ada juga yang membuat video tentang Rumahku Bukuku. Lalu dikirim ke Shofa.

Untuk mengirim buku ke mereka, Shofa mendapat bantuan buku. Tapi untuk perjalanan menemui mereka Shofa menggunakan uangnya sendiri.

Langkah baru Shofa lainnya adalah: kajian buku. Ia memilih kajian ushul fikih. Bukan tafsir Quran, bukan hadis, dan bukan pula tauhid. 

Dalam bahasannya itu Shofi malah tidak menyinggung sama sekali ayat-ayat terkait radikalisme. "Mereka justru akan bilang, 'itu kan tafsir Anda' begitu," ujar Shofa.

Dengan kajian buku ushul fikih, mereka menjadi tahu bahwa untuk menafsirkan satu ajaran itu tidak mudah. Perlu banyak bacaan. Perlu banyak ilmu pendukung. Perlu nahwu dan shorof. 

Dengan demikian mereka tidak mudah lagi menafsirkan Quran sesuai dengan pikirannya. Terserah mereka mau menafsirkan apa saja asal sudah tahu syaratnya. Dengan demikian mereka tidak mudah disodori tafsir tertentu.

Kini kajian ushul fikih itu dilakukan secara online. "Mereka tertarik. Ternyata mereka tidak pernah belajar ilmu ushul fikih," ujar Shofa.

Shofa sudah menulis banyak buku. Tapi ia lagi menyiapkan satu buku lagi. Tebal. Penting. 700 halaman lebih. Ia buat buku terbarunya itu nanti sebagai monumen hidupnya. Itu akan menjadi karya ''master peace'' dalam hidupnya. Ia sudah punya judulnya: Risalah Jihadis.

Belakangan Shofa mulai aktif di NU wilayah DKI Jakarta. Ia jadi pengurus lembaga bahtsul masail. Yakni forum yang membicarakan posisi kasus-kasus masa kini dalam hukum Islam.

Para mantan teroris itu umumnya bukan dari NU. Sejauh ini tidak ada yang menolak Shofa. Memang Shofa tidak dipanggil ustad seperti kebiasaan mereka memanggil ustad mereka. Tapi itu bukan pertanda penolakan. Justru Shofa sendiri yang jadi terbiasa memanggil mereka sebagai ikhwan dan antum (kamu). Shofa juga terbiasa menyebut dirinya sendiri dengan panggilan ana (saya). Itulah istilah-istilah yang selalu digunakan di antara para penganut wahabi. 

"Saya yang akhirnya justru terbiasa menggunakan istilah mereka itu. Nggak masalah. Bisa akrab," ujarnya.

Rupanya di antara mereka akhirnya tahu kalau Shofa itu NU. Buktinya mulai ada yang memanggil Shofa dengan Gus. Bahkan mulai ada yang memanggilnya kiai.

Ayah Shofa memang kiai di Blora. Sang ayah juga ketua syuriah NU cabang Blora.

Usaha yang dilakukan Shofa ini tentu jauh dari tepuk tangan dan publikasi. Tidak pernah Shofa mengundang mereka ke hotel bintang lima. Atau ke kafe yang mahal. Tidak pernah pula memberikan uang.

Begitu mahal upaya deradikalisasi mantan teroris. Shofa memilih jalan murah apa adanya. (*)

Komentar Pilihan Dahlan Iskan

Edisi 16 Desember 2022: Marah Dewi

thamrindahlan

Gunung kawi tempat sembahyang/ Berharap pinta mendapatkan uang/ Marah dewi bukti marah sayang/ Tanda cinta bukan kepalang/

Leong putu

Hmmmmmm.... Mas LbS gitu aja kok gak sensitip. Yang marah itu sang maha dewi alias Bu Dahlan. Nah kronologinya kira kira seperti ini : Pertama yang harus di ingat : Abah kalau pas lagi pergi-pergi, pasti cuci-cuci sendiri. Naaah saat pergi Magelang kok ya pas hujan sepanjang hari. CD terjanjur dicuci, kalau strategi set A set B dijalankan, maha dewi pasti ngomel." aja nggilani Bah, aja kemproh² ". Begitu kira² omelan maha dewi..... Akhiiiirnya Abah pinjam punya maha dewi yg warna pink mangkak... wkwkwk... Ndilalah dapat gratisan suntikan... Lupa kalau CD pinjaman, langsung plorot... Jreeng..warna pink...terlanjur, mau nundur gak bisa.. Nah, kejadian inilah yang membuat maha dewi marah... Wkwkwk #rousting tipis²

Jokosp Sp

Duwidmu duwidku. Duwidku duwidku. Aku gag perlu bunga, harumnya cuma sebentar dan cepet layu. Aku perlu kasih sayangmu yang asli, yang lama mewanginya.......BUNGA BANK. Wah dasar mbelgedes, samimawon.

ary hana

Tentu saja drh yudha tidak menjawab, karena sekarang semakin banyak 'musuh'-nya dan ingin menjatuhkannya efek tulisan pak dis. Drh Yudha dapat sistem pemisahan 'protein-sel' itu saat bekerja di lab selama berbulan2 bahkan sering tidak tidur. Di masa kuliah di korsel, dia mengajukan diri sebagai peneliti di lab agar dapat uang saku tambahan. Di lab sana dia bebas mengamati dan mengembangkan ilmunya. Jadi kisahnya mirip drh indro yang bisa mengamati perilaku virus di lab juga. Kenapa dr biasa ga bisa menemukan hal2 baru seperti ini? Karena dr biasa lebih disibukkan dg urusan menyembuhkan manusia, bukan di lab. 

Fa Za

"kalau ke drh Yuda jangan minta diagnosis. Juga jangan minta diperiksa. Beliau tidak mau melakukan itu. Beliau tahu dirinya bukan dokter.  Maka beliau juga tidak akan bertanya Anda sakit apa. Beliau tidak praktik sebagai dokter. Hanya saja drh Yuda punya protein-sel. Bikinannya sendiri. Ia bisa dan mau menyuntik Anda dengan suntikan protein-sel tersebut." Kalimat ini menjawab soal SIP yg diperdebatkan kemarin. Dalam artian, drh Yuda tidak perlu SIP karena tidak prakrek sebagai dokter.

No Name

Abah kok tahu ya kalo "full keriting"? Saya yakin yg bisa njawab hanya Bli Leong

Leong putu

Wkwkwk.... Mungkin tebakan Abah begitu, atasnya keriting otomatis yang bawah juga. Abah gak tau kalau yang bawah sudah di rebounding... Hahahaha

Jimmy Marta

Karina bahkan pernah meneliti sekratom untuk pengobatan covid-19. Belum tuntas sudah heboh besar. Jadi heran, kok penelitian bisa heboh..!. Penelitian lab itu mestinya kegiatan sunyi senyap. Ditempat sepi tanpa publikasi. Kalau penelitian model survey2 an itu layaklah jk bikin heboh. Respondennya gk jelas, selalu dirahasiakan- hanya disebut sekian orang-. Pertanyaannya kadang rancu -membingungkan responden- . Tahu2 dah diumumkan saja si A, si B dan si C dipilih sekian persen...hehe. Saya punya saran ke DR Karina. Tiru cara di film. Lab nya dibikin tersembunyi di bawah tanah. Akses nya dibuat terbatas. Pake remote, kartu gesek, sidik jari, pemindai mata, wajah dan rambut. Dijamin gk akan heboh...

Wahyudi Kando

Kalau Mau Posting Komentar seperti pesawat mau landing landasan ketutupan awan, lagi baca tiba tiba iklan nongol, baca komentar separoh ketutup iklan. SAYA SEJAK AWAL SUDAH ALAMI INI SAAT MULAI BACA CHD. Santuy ajaaa....kita bukan lagi baca kitap suci yg arti dan makna tak boleh salah baca dan salah arti Saya sejak awal sudah anggap kayak org berbisnis baca CHD....Berbisnis kadang jelas sekali jalan dan jalurnya, kadang terpaksa meraba - raba. Mau ke arah mana. Seng penting kesimpulan dari tulisan dipahami Jangan buat pusing kalau masih gratis, kalau berbayar kita datangi kantor Dato' DI RAME RAME hihiiihii

Leonardus Nana

Ada drh Nidom, drh Indro dan drh Yuda lalu drm Terawan dan drm Karina. Mereka telah tampil dengan penemuan hebat, paling kurang hebat menurut pengakuan para pengguna jasa mereka. Namun, lewat publikasi CHD, public tahu ternyata mereka tidak dapat leluasa melayani masyarakat umum karena ada kelompok tertentu yang merasa lebih berhak. Memperhatikan masalah "merasa berhak dan tidak berhak" diatas, Pemerintah yang memiliki kedua kelompok diatas sebaiknya segera bertindak sebagai juri. Bagaimana caranya? Perintahkan kelompok yang merasa lebih berhak melayani Kesehatan masyarakat untuk melakukan: 1.Penelitian tandingan guna menemukan cara lebih ampuh dan murah untuk menyehatkan masyarakat. 

2. Melakukan pengujian dan pembuktian jika penemuan drh Nidom, drh Indro, drh Yuda serta drm Terawan dan drm Karina tidak bermanfaat bahkan menyengsarakan masyarakat pengguna. Selanjutnya tanpa mengabaikan protest dari kelompok yang berhak melayani masyarakat, Pemerintah sebaiknya harus mewadahi dan mendampingi kelompok ilmuan yang telah hadir dengan terobosan mereka. Bagaimana menurut Anda

Zaenol Abidin

Kmrn, Kamis, 15 Des, saya 'nekad' mendatangi tempat 'praktek' drh Yuda di Magelang. Setelah berkendara 6 jam persis, akhirnya dapat menemukan rumah tempat praktek beliau. Tahunya tempat prakteknya dari google search. Benar sekali, banyak 'pasien' yang nampaknya orang yang punya kemampuan ekonomi. Ini karena juga untuk sekali suntik, yaitu 2 ampul, tidak lah murah. Drh Yuda sangat ramah, orangnya santai sekali. Beliau 'praktek' didampingi istrinya, yang mengatur flow pasien. Sepertinya tidak cukup datang hanya sekali. Harus sampai 5 - 6 kali. Yang domisili di pulau Jawa, ampul berikut alat suntik bisa di-'beli', dibawa pulang. Proses penyuntikan selanjutnya dilakukan sendiri. 

Johannes Kitono

Wow P ZA, dengan tarif begitu tinggi yang tadinya pengin perkasa bisa susut lagi. Seperti rumput Puteri Malu tersentuh. Anyway semoga kenekadkan P ZA membawa manfaat bagi kesehatan. Thx jk 

Sistop Tanjung

Andai saja drh Yuda Kerjasama dgn dr Karina saya antri pertama untuk mlorotin celana 

Sistop Tanjung

sepintar2 nya laki-laki kalau bini yg marah bisa langsung goblok mendadak

Leong putu

Dari Jakarta pergi Manado / Antar anak STM magang / Istri suka cita diberi kado / Apa daya ATM saya tak pegang / ... #curhat

Yuli Triyono

Libur kerja pergi ke Jakarta / Jangan lupa mencoba naik bemo / Sesenang senangnya istri diberi kado / Lebih senang diberi bunga deposito.

Erik Tapan

Banyak terima kasih Pak Dahlan sudah membantu mempopulerkan Terapi Sel di masyarakat. Menjawab pertanyaan Bpk, "Harus, diapakan orang seperti Yuda ini?" Ijinkan kami menyumbang saran. Mudah-mudahan berkenan. Kami tidak meng_under-estimate_ kepakaran kolega Drh Yuda soal utak-atik sel & protein. Hanya jika Pak Dahlan dalam tulisannya, bertanya, "Harus diapakan orang seperti Yuda ini? ' Ijinkan kami menyumbang saran. Semoga bisa didiskusikan dan ditindaklanjuti. Biar bagaimana pun, Drh Yuda adalah salah satu aset bangsa yang sangat berharga. Agar bisa berpraktik sesuai aturan yang ada di Indonesia, Drh Yuda perlu membentuk tim. Di mana dalam tim tersebut ada dokter spesialis sesuai dengan penyakit yang bisa disembuhkan, seperti Penyakit Dalam, Saraf, dll. Hal ini umum di dunia terapi sel. Ada dokter operator/klinisi (dokter manusia) dan ada periset (bisa dari disiplin ilmu life science apa saja, tidak harus dokter). Ini juga bisa melindungi Drh Yuda kalau-kalau suatu saat suntikannya mengakibatkan alergi, dll. Kenapa disebut periset, karena sampai saat ini, terapi sel di Indonesia masih digolongkan sebagai terapi yang sedang dalam penelitian. Setiap terapi, perlu selalu di-evaluasi dan dilaporkan. Yang kedua, laboratorium tempat pengolahan produk Drh Yuda, harus bisa di- approved oleh Instansi terkait, seperti Kemenkes/BPOM. Hal ini tentu mencegah hal-hal yang tidak diinginkan yang bisa saja terjadi. Misalnya produk tercemar bahan ... lengkapnya bisa di-search Kom

Johannes Kitono

CHD menampilkan foto DR.dr Karina yang cantik dengan rambut ikalnya.Bisa jadi ikal itu memang original dan bertambah keriting lagi berkat terapi PRP. Pengalaman 5 tahun lalu terapi PRP dan ternyata bagus hasilnya.Jadi pengin coba juga terapi Protein- Sel nya drh Yuda. Siapa tahu bertambah lincah dan gesit. Dan beruntung bisa dapat injeksi protein sel sebelum diundang Agro Wisata di Agrinex, Banten. Jadi bisa sedikit riya dan dengan lahap memakan buah buahan disana. Terutama buah Maprang ( mango plum, Bouea macrophylla Griff, gandaria ) yang enaknya aduhai. Buah eksotik itu bisa dimakan sama kulitnya. Sayang, tidak selalu tersedia di Week End Market CHATUCAK, Bangkok. Kepada manteman yang masih ragu ragu dengan Terapi PRP. Bisa baca di Kompasiana : Terapi PRP di Klinik NMW, Jakarta. Biaya terapi PRP di setiap rumah sakit umumnya berbeda.Jadi pandai pandai lah cek harganya. Dan sampai hari ini biaya Terapi PRP belum dicover oleh industri asuransi. Dianggap masih merupakan pengobatan experimental. Kalau PRP saja tidak dicover asuransi tentu Injeksi Protein sel juga sama. Memang, kalau mau sehat dan tambah perkasa pasti ada harganya.

Haruntri Purnomo

Setelah Dr.Purwati dari Surabaya,Drh.Yuda dari Magelang,Dr Karina dari Jakarta ada juga Dr.Indah Yulianto dari Surakarta. Empat kali anak saya yang Cerebral Palsy suntik di klinik InYu,Solo.Setelah Suntik pertama,anak saya bisa minum pakai sedotan dari susu kotak.Hasil yang luar biasa untuk anak saya yang sebelumnya susah minum. Waktu mau suntik yang kelima terhalang 'lock down' karena pandemi.Selanjutnya 'terhalang'karena biaya yang belum terkumpul kembali. Biaya sekali suntik seharusnya Rp 7,5 juta.Anak saya dapat keringanan jadi 6 juta. Terimakasih Dr.Indah,semoga semakin memberi manfaat kepada masyarakat terutama yang benar benar membutuhkan tetapi terhalang biaya .

Mirza Mirwan

Untuk Mbak Fiona. Maaf baru sempat baca. Tentang Dr. dr. Karina, SpBP, pernah ditulis dalam CHD (seingat saya) tiga kali -- judul yang saya ingat hanya "Cobaan Karina" -- di tahun 2021. Tentang "sekratom". Saya yakin Pak DI salah dengar. Yang dimaksud Dr. Karina adalah "sekretom" (secretome). Istilah sekretom itu diciptakan oleh Harold Tjalsma dari Institut Ilmu Biomolekuler dan Bioteknologi Universitas Groningen, tahun 2004. Sekretom adalah "all factors secreted by the cell along with the constituents of the secretory pathway" -- semua faktor yang disekresikan oleh sel bersama dengan konstituen dari jalur sekresi. Tetapi definisi sekratom itu lantas direvisi tahun 2010 menjadi lebih spesifik: "the proteins which are secreted into the extracellular space" -- protein yang disekresikan ke dalam ruang ektraselular. Pengertian "sekresi" sediri adalah proses membuat dan melepaskan substansi kimiawi dalam bentuk lendir (mucus) yang dilakukan oleh sel tubuh dan kelenjar. Hanya itu yang saya tahu. Saya tak berani menjelaskan, karena saya tak punya kompetensi dalam bidang sainstek, termasuk kedokteran. Dari membaca, saya sedikit tahu. Tetapi tak punya kompetensi untuk memberi penjelasan. Takut menyesatkan.

yohanes hansi

Regulasi kalah cepat dengan penelitian. Saya pikir pemerintah yang harus menyediakan payung hukum agar inovasi bangsa tidak terhambat. Khan lucu, mau memajukan bangsa tapi kena masalah hukum. Jika demikian, buat apa inovasi? Akhirnya impor melulu. Seandainya masyarakat dipancing untuk berinovasi, diberi payung hukum, dibantu pendanaan, saya yakin Indonesia mampu bersaing dengan negara maju. Sepertinya lembaga riset nasional dan pemerintah wajib baca Disway dari judul hingga komen para perusuh.

Leong putu

"Mengapa tidak pernah memberi istri bunga" tulis Pak DI. Hmmmmm.... Ini jelas pernyataan merendah di atas gunung Semeru. Mungkin maksud Pak Bos tidak pernah memberi kembang ke Bu DI. Bagi saya, perusuh ini, hanya mampu memberi kembang. Kembang Mawar saat ultah pernikahan. Kalau bunga ? Hmmmm...saya yakin belum. Lhaaa wong bunga Rp.1.726,- tapi admin Bank Rp.15.000,-. Jadi saya belum pernah memberikan bunga ke istri. Kalau Pak DI ? yaaa pasti sudah lah... Berdasar LHKPN 2010 saat menjadi sesuatu dulu, harta Pak Bos sekitar Rp. XX, X miliar.. Jadi bunganya bisa dikira-kiralah berapa ? Pasti diantara sekian itu ada yang mengasilkan bunga....Wkwkwk.. Jadi saya yakin Bu DI sudah menerima bunga...hahaha... Sekarang, saya tantang Pak Bos kalau berani. Membawakan bu DI kembang. Apa lagi yang sarat dan ketentuan berlakunya telah dilalui. 4 bulan 10 hari. Wkwkwkwk... Wani ?

Kliwon

Dari testimoni para pasien, suntikan protein sel drh. Yuda itu bisa menyembuhkan diabetes, stroke, saraf, dll. Semacam stemcell, konon suntikan itu menyuburkan regenerasi/meremajaan sel² di tubuh dengan cepat. Jadi pengin suntik kesana. Kalau boleh suntik nya bukan di bokong. Tapi di bagian otong aja (bukan Otong Sutisna). Biar kembali punya spare part ala ABG. 'Keras bagai kentongan, tegak menjulang bagai tugu Pancoran.'

Leong putu

Om@Klowon... Kalau cuma ingin keras bagai kentongan dan tegak bagai tugu pancoran, coba Om Kliwon pergi jalan Tidar, beli Formalin satu liter aja. Rendam itunya 24 jam non stop. Nti lihat hasilnya. .. #selamat mencoba.

MZ.ARIFIN UMAR ZAIN.

Barangkali konflik antara IDI dg peneliti & praktisi unggul, karena ada rahasia peneliti? peneliti tak mau terbuka?

Erik Tapan

Ini bukan adanya support atau tidak, tapi lebih belum pahamnya perbedaan antara peneliti & klinisi. Suatu hal yg familiar dg Penelitian Terapi Sel termasuk Stemcell. Peneliti bisa berasal dari dokter & non dokter. Saat objek penelitiannya manusia, sang peneliti harus merelakan kerjaannya diserahkan ke praktisi (yang harus seorang dokter dg SIP). Semua aturan sdh jelas koq. Sudah ada, tinggal ikuti saja Dokter Hewan yang melakukan penelitian Terapi Sel juga sudah banyak. Maju terus untuk kita semua. 

*) Dari komentar pembaca http://disway.id

Pewarta : -
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber : Disway.id

Komentar Anda