Piknik Backpacker Keluarga Hemat Malaysia (1)

Tiket Pesawat PP dan Hotel 4 Orang Hanya Rp 4,5 Juta

Mohammad Makruf, isteri dan dua anaknya. (Foto: CowasJP)

COWASJP.COM – Perjalanan kami ke Malaysia mulai 5 sampai 8 Februari 2019 kali ini terkesan mendadak. Kami merencanakannya selama 18 hari. Itu semua karena kami tertantang untuk berpiknik keluarga backpacker dan biayanya harus di bawah  Rp 2,55 juta per person dengan 13 tujuan.  Bisakah? 

Sekitar awal Januari 2019, saya menerima pesan WA dari seorang teman agen wisata. Pesannya wisata Malaysia, 13 tujuan, tiga hari dua malam. Biaya  Rp 2, 4 juta per pax/person. Biaya tersebut tidak termasuk lunch and dinner, keperluan pribadi, bagasi tambahan, tips guide Rp 150 ribu per orang harus lunas sebelum keberangkatan, dan tourist tax 10 Ringgit Malaysia (RM). Kurs 10 Februari 2019, 1 RM = Rp 3.400. 

Jadi, termasuk ongkos guide totalnya Rp  2,550.000 per pax.

BACA JUGA: Naik Grab dan Carter Taxi Lebih Murah

Dari pesan WA tersebut, saya, istri dan dua anak saya tertantang untuk berpiknik backpacker ke Malaysia, tanpa melalui travel agent.  Saya juga sebelumnya pernah ke Malaysia. Dan tidak ada keraguan melakukannya.  

Piknik tersebut juga bertujuan agar dua anak saya harus tahu luar negeri ketika usia muda. Kebetulan juga istri dan dua anak saya itu pemegang paspor baru. Mereka baru memperolehnya akhir Januari ini. Nganyari paspor. 

Saya pribadi tahu luar negeri ketika semester 3 di FS Inggris Unitomo. Karena saya kebetulan terpilih di Australia-Indonesia Youth Exchange Program (AIYEP) 1993-1994. Program ini disponsori Australia Indonesia Institute (AII) dan Kementerian Pemuda dan Olahraga. Sampai saat ini, program pertukaran pemuda tersebut masih ada. 

Bagaimana perencanaan piknik? Pertama, anak saya yang sulung Valiant, mencari tiket murah pesawat di traveloka. Setelah searching, dia memperolehnya. Ternyata beruntung, pada Februari 2019, Citilink ada promo tiket murah ke Malaysia. 

Bagaimana untuk mengetahuinya? Klik saja traveloka dan pilih Surabaya tujuan Kuala Lumpur. Saat di klik akan muncul kalender yang berisi  harga promosi tiket penerbangan berwarna hijau. Bila tidak muncul harga, berarti tiket normal price.

Semula tiket yang promo tanggal 1 dan 4 Februari. Harganya Rp 210 ribu per person. Tapi karena kami tidak cepat untuk membelinya, harga itu naik ke Rp 700 ribu. Yang tinggal promo hanya di tanggal 5 dan 8 Februari.  Kami segera klik membelinya. Kami ke malaysia selama empat hari, tiga malam. Lebih lama sehari dari paket wisata teman.

Kami klik membeli dengan memilih kursi dan  tambah air minum. Harga tiket menjadi Rp 310 ribu per person untuk berangkat. Kami segera membeli tiket PP.

Pada malam itu juga kami booking kamar hotel di web yang sama dengan harga Rp 244 ribu per room per day. Kami pilih hotel di kawasan Bukit Bintang. Karena tempat tersebut kawasan shoping dan kuliner di Malaysia. 

Saya booking dua kamar untuk empat hari di Hotel Sentral Pudu, Bukit Bintang yang berbintang tiga. Itu karena  standar hotel paket wisata teman bintang tiga include breakfast. Tapi hotel kami tanpa breakfast. Tidak masalah.  

Jadi total biaya hotel dan tiket PP, untuk 4 orang, Rp  4,5 juta. Kami membayarnya memakai mandiri mobile banking dan beres.

Seminggu jelang keberangkatan, kami membeli mata uang RM sebagai uang saku. Kami memutuskan membeli 2000 RM. Harga 1 RM saat itu di BRI Sidoarjo, Rp 3.600 (Bila ingin murah di Jl. Panggung Surabaya) dan totalnya Rp 7,2 juta. Jadi biaya tiket, hotel dan uang saku, Rp 11,7 juta. Atau setara Rp 2,9 juta per paket. Lho kok lebih mahal dengan paket wisata teman?  Kita lihat saja nanti. 

BERANGKAT MALAYSIA 
Pada 5 Februari, kami segera ke bandara terminal 2 Juanda. Karena Citilink untuk penerbangan internasional ada di terminal 2. Penerbangan kami pukul 11.55. Dengan Citilink CQ 522. Pukul 08.00, kami sudah off atau berangkat ke Terminal 2 dengan Go-Car yang muncul blue bird taxi hanya Rp 48 ribu.

Sekitar pukul 8.45, kami tiba di terminal 2. Setelah check in tiket dan ternyata ada gratis bagasi 10 kg per person. Satu koper samsonite sedang dan tas tenteng eiger, segera saya masukan bagasi.

Setelah itu, kami menuju ke pemeriksaan imigrasi. Anak saya yang bungsu, Sylvia, maju ketika ditanya ke Malaysia ada tujuan apa. Dia bilang jalan-jalan mau lihat upin ipin. Petugasnya tersenyum saja.

Kami tiba di gate 8 pukul 9.30. Ternyata, kami menunggu di international departure terminal cukup lama. Pukul 10.30, kami masih di waiting room.  Saat menunggu ini, Valiant, browsing dan memperoleh tiket kereta api KLIA Express seharga 40 RM per person. Itu sudah tiket promo. Tanpa pikir panjang, kami beli saja pakai kartu kredit tiket PP 320 RM (sekali jalan 160 RM untuk 4 orang).

Di sini, kami kelolosan mengatur budget. Karena tiket KLIA express itu belakangan kami tahu setelah di Malaysia, ternyata lebih mahal tiga kali dibanding tiket bis Aerobus yang hanya 11 RM per person. Bila empat orang hanya 44 RM. Bila PP hanya 88 RM. Kami boros 232 RM karena menggunakan KLIA Express. 

Mengapa perlu bis atau kereta? Karena setibanya di bandara Malaysia kita harus naik bis atau kereta untuk  menuju ke Kuala Lumpur (KL) yakni KL Center (terminal bis dan stasiun kereta besar). Jarak bandara ke pusat KL, bila naik bis  sekitar satu jam perjalanan. Tapi dengan KLIA Express, jarak itu hanya ditempuh 33 menit saja.

ruf1.jpg

Pukul 11.55, kami sudah masuk pesawat. Tak lama kemudian pesawat take off dari Juanda menuju  Bandara KLIA 1, Kuala Lumpur. 

Penerbangan Surabaya ke Kuala Lumpur sekitar 2,5 jam. Dan waktu Malaysia maju 1 jam dibanding waktu Indonesia bagian Barat. Demikian pula waktu Singapura.

Di dalam perjalanan, semula kami mengira akan memperoleh sebotol air mineral saja. Ternyata tidak. Kami diberi juga makan siang. Wow, It's great! Tiket Rp 315  ribu per person include lunch. Padahal saat ini, tiket domestic juga bagasi melambung tinggi. Mengapa tiket penerbangan ke luar negeri, Malaysia sangat murah?

Ini seperti terjadi di Australia. Mengapa orang Australia banyak piknik ke Bali dibanding wisata dalam negeri?  Karena penerbangan ke Bali lebih murah dibanding penerbangan dalam negeri Australia sendiri. 

DAY 1

Tiba di Kuala Lumpur
pukul 15.30 (waktu Indonesia Barat 14.30), kami tiba di KLIA 1. Bandara KLIA 1 ternyata sangat modern. Yang jelas di bandara ini sudah ada body thermal scanner. Kami turun di gate C. Untuk menuju ke lokasi transportasi bus atau kereta api. Kami harus naik monorail internal bandara menuju ke stasiun KLIA Expreess.

Kami hanya mengikuti papan penunjuk arah. Bila nyasar, saya cenderung bertanya kepada security,  memakai bahasa Inggris dibanding bahasa Indonesia. Karena ada beda arti antara bahasa Indonesia dan Malaysia yang memakai bahasa Melayu. Kereta dalam bahasa Malaysia  artinya mobil. Berhemat di Malaysia adalah berjimat. 

Monorail sudah mengantar kami ke KLIA Express stasiun di level I gedung KLIA I. Memasuki stasiun KLIA Express,  tinggal menempelkan barcode tiket ke scanner pintu kecil berpagar otomatis. Barcode terbaca, pintu terbuka.

Kami sudah masuk, sekitar 5 menit KLIA Express sudah siap dengan pintu gerbong otomat terbuka, kami masuk. KLIA Express melaju menuju KL Center. Sekitar 33 menit, kami tiba di KL Center.

makruf.jpg

Hotel kami, Hotel Sentral Pudu, ada di Jalan Raya Pudu, Bukit Bintang. Kami kemudian memanggil Grab dan tarifnya hanya 11 RM. 

Jangan lupa kita harus ganti kartu hp ketika di bandara KLIA I. Pilihan kartu antara lain ada Tune Talk, Digi, dan U Mobile. Pilih harga termurah yakni 25 RM untuk 7 hari. Khusus Tune bisa dibeli via Kalook.com ketika di Indonesia. Harganya hanya 20 RM. Kita tinggal menukarkan receipt di kios Tune Talk di pintu keluar KLIA I. Ketika kartu terpasang, silakan download apps Grab.

Kami naik Grab ke Hotel Sentral Pudu. Sopirnya keturunan Bangladesh cukup familiar. Masih bisa diajak bicara dalam bahasa Indonesia dan Inggris. Dia mengerti. Kami berinteraksi.

Ketika kami tiba di KL (Kuala Lumpur) memang bertepatan Hari Raya Imlek. Suasana lalu lintas jalan raya sepi. ''Karena sekolah libur seminggu dan karyawan libur dua hari,'' kata bang sopir. Seharusnya Indonesia juga memberlakukan libur yang sama ketika hari raya agama.

Sekitar 20 menit, kami tiba di hotel. Kami menunjukan print out booking hotel via traveloka dan diterima oleh recepcionist. Tapi kami harus bayar lagi tourist tax 10 RM per kamar dikali 3 malam untuk 2 kamar. Jadi 60 RM ditambah deposit 100 RM untuk dua kamar. Deposit akan dikembalikan bila kami sudah check out.

Selesai pembayaran, kami memperoleh dua kunci kamar di lantai 15. Masuk kamar. View kamar kami juga bagus. Karena kami bisa melihat gedung pencakar langit tertinggi di Malaysia, The Exchange 106 salah satu bagian kompleks TRX (Tun Rajak Exchange) --yang pada 2020 baru selesai pembangunannya. 

Dalam kompleks TRX nanti, akan ada mall, stasiun dan terminal bus, hotel, dan apartemen.  Dalam pembangunan The Exchange 106 tower itu salah satu investornya adalah dari Indonesia, Mulia Group. 

Kami rebahan sebentar. Pukul 16.30,  kami putuskan keluar hotel  mencari makan malam di Berjaya Times Square Mall di Jalan Imbi. Jalan kaki sekitar 15 menit dari hotel menuju ke Jl Imbi. Melintasi jembatan di mana dari kejauhan bisa melihat KL tower dan The Exchange 106  tower. Lalu lintas sepi. Banyak bule jalan kaki juga ke Berjaya.

Tiba di Berjaya Mall, pintu masuk ramai orang. Ternyata, tepat pintu masuk mall ada hiasan lampu lampion merah merah yang sangat indah untuk berfoto. Para turis sebagian besar Cina, berfoto bergantian di pintu masuk mall. Dalam membuat hiasan mall, pengelola mall sangat totalitas. Sehingga hasilnya sangat indah.

Berjaya Times Square itu ada hotel dan mall. Mall nya sendiri ada 8 lantai. Lantai dasar food court. Kami segera ke food court. Tidak ada pilihan, kami masuk ke KFC dan memilih paket nasi lemak, 9,9 RM per person dan tambah kentang.  Makan malam day I, habis 48 RM. 

Sebelum balik hotel, kami survey angkutan publik untuk besoknya. Di jalan Imbi ada monorail stasiun di atas jalan raya. Kami survei stasiun. Besoknya kami rencana ke KL Central naik monorail di Jalan Imbi. Setelah itu, kami balik ke hotel jalan kaki. Besok kami berencana ke Genting Highland. (Bersambung)

Penulis adalah: Mohammad Makruf,  mantan wartawan JP Group

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda