Rezeki Silaturahim di Hari Kejepit

Usai silaturahim dan rapat koordinasi di Kantor Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Gunungkidul.

COWASJP.COM – BANYAK yang menyebut, Senin (4/2) sebagai Harpitnas. Hari Kejepit Nasional. Hari yang berada di tengah dua hari libur. Biasanya banyak dimanfaatkan untuk ambil cuti agar waktu liburnya jadi lebih panjang. Tapi sepertinya banyak juga yang "ngeblong", tidak masuk kerja tanpa izin.... Anda masuk yang mana? 

Eh, ini bukan soal kerja atau tidak Di Harpitnas. Yang libur biarin saja libur. Kita doakan liburannya menyenangkan. Yang jelas, di Harpitnas kemarin, saya mendapat rezeki bisa bersilaturahim dengan mereka yang tidak libur. 

Saya bersama teman-teman Paguyuban Bank Sampah se-DIY, Perkumpulan Yogyakarta Green and Clean (YGC), diundang mengikuti rapat koordinasi Peringatan Hari Peduli Sampah Nasional HPSN tahun 2019 di Kantor Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Gunungkidul. Rakor di Ruang Wanasidi itu dihadiri sejumlah pihak. Baik dari jajaran kantor dinas di Pemkab Gunungkidul, kalangan swasta, maupun komunitas.

Dari dinas hadir perwakilan Dinas Perhubungan, Dinas Pariwisata, Bagian Protokoler dan Rumah Tangga Bupati, maupun Humas Setda. Kalangan bisnis ada dari Bank, BMT, Kantor Pos hingga Toko Busana. Sedangkan dari komunitas ada Jejaring Pengelola Sampah Mandiri (JPSM) Gunungkidul, pegiat Ecobrick, Borda (Bremen Overseas Research and Development) hingga Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Pantai Kukup.

Peringatan HPSN di Gunungkidul memang dipusatkan di Pantai Kukup pada Kamis, 21 Februari 2019. Agenda Perkumpulan YGC untuk HPSN 2019 memang di wilayah Gunungkidul. Setelah tahun-tahun sebelumnya, digelar di Kabupaten Sleman dan Kulonprogo. Sleman di kawasan Wisata Kaliurang. Sedangkan Kulonprogo di Wisata Mangrove Pantai Pasir Mendit.

Rapat koordinasi di Kantor DLH Gunungkidul dimulai jam 13.00. Berjaga jika macet selama perjalanan karena Harpitnas tadi. Dari Jogja kami berangkat pukul 10.00. Ternyata perjalanan relatif lancar. Pukul 11.30 kami sudah sampai di lokasi. Perjalanan terasa lancar karena selama perjalanan kami berbincang soal penanganan sampah, tentang berbagai kerjasama, kolaborasi yang bisa dilakukan dalam kerangka pengelolaan sampah. Kami berempat. Saya, Pak Takim (Sehat Ceria), Bu Siti (Lintas Winongo) dan Mbak Ida (Surolaras).

erwan1.jpg

Saya bercerita tentang kemungkinan mengonversi tabungan bank sampah menjadi tabungan emas. Mekanisme seperti biasa. "Nasabah menyetor sampah, lalu kita nilai dalam rupiah. Nah nilai rupiah ini yang kemudian dikonversi menjadi berat logam mulia yang didapat. Jadi, catatan di buku tabungan bukan catatan rupiah melainkan berat emasnya," kata saya.

Misalnya, ada nasabah menyetor sampah tutup botol. Setelah kita timbang, tutup botol itu senilai Rp 6.500. Kalau harga emas Rp 650 ribu per gram, tabungan sampah nasabah tersebut bernilai setara dengan 0,01 gram. "Di tabungan langsung tercatat tabungan emas sebesar 0,01 gram ini," ujar saya.

Tentu saja dengan berat 0,01 gram, nasabah belum bisa mencetak emasnya. Tabungan emas mulia tersebut baru bisa diambil jika beratnya mencapai 5 gram atau 10 gram.

Sembari menyetir selama perjalanan, saya ceritakan pula, apa yang ada dalam pikiran saya ini telah saya sampaikan ke seorang kawan. Joko Intarto namanya. JTO, begitu kami memanggilnya. 

Konsep menabung sampah menjadi logam mulia ini, sepengetahuan saya menjadi satu program unggulan PT Pegadaian (Persero). JTO saya hubungi karena dia pernah menulis buku tentang Pegadaian. Saya bersama JTO juga pernah mengerjakan video profil Pegadaian. BUMN sektor keuangan yang bergerak pada bisnis pembiayaan, emas dan aneka jasa ini menggarap video pendek dengan judul "Transformasi Tiga Zaman, Membangun Kemandirian Ekonomi Dalam Rangka Mengisi Kemerdekaan." Video kami kerjakan di Jogja.

Soal pembuatan video Pegadaian bisa lihat di sini: https://m.cowasjp.com/read/2489/20170814/052142/video-pegadaian-sambut-hut-ri-dibuat-di-destinasi-wisata-keren/

Rerasan saya soal konversi sampah menjadi emas itu lantas ditulis JTO di status Facebook-nya. 

Obrolan selama perjalanan begitu beragam. Mbak Ida cerita soal peluang kerjasama dengan asuransi. Pak Takim soal kolaborasi antar bank sampah. Bu Siti cerita seputar sampah minyak jelantah. Tentu kami juga bicara soal rencana HPSN. Apa yang bisa kami kolaborasikan dalam peringatan HPSN di Pantai Kukup nanti. Yang bisa kami sampaikan saat rapat koordinasi.

Karena sampai Wonosari baru jam 11.30 kami pun istirahat sejenak sembari menunggu saatnya salat Lohor. Kami memilih Soto Tan Proyek, Warisan Leluhur yang di Wonosari memang masyhur. "Makan soto yang ringan saja. Biar nanti muat kalau mau diisi lagi," seloroh Takim.

erwan2.jpg

Makan ringan, ngobrol ringan lagi. Tiba-tiba hape saya berdering. Di layar terlihat nama Aqua Dwipayana. Segera saya angkat. Seperti biasa, penulis buku best seller ini menanyakan kabar kesehatan saya, lalu saya lagi di mana dan seterusnya. 

"Mas Erwan saya sambungkan dengan teman akrab saya Pak Mushonif ya. Pasti nyambung ini. Beliau bos Pegadaian. Beliau pasti senang juga bisa kolaborasi dengan bank sampah Mas Erwan. Nanti saya kirim nomor WA-nya," kata motivator sukses ini.

aqua.jpgAqua Dwipayana (kanan) bersama Vice President Pegadaian Yogyakarta Mushonif.

Hape kemudian diserahkan langsung ke Pak Mushonif. Kami pun ngobrol. Saling memperkenalkan diri. Kemudian secara singkat bicara soal kerjasama Pegadaian dengan bank sampah. Kami bersepakat untuk bertemu segera. 

Kawan-kawan sepertinya menyimak pembicaraan saya. Selesai saya bicara dengan Pak Mushonif, mereka langsung menimpali. "Alhamdulillah Pak. Semoga yang kita obrolkan di jalan tadi bisa segera menjadi kenyataan," kata mereka setelah tahu lawan bicara saya seorang vice president di BUMN tersebut. 

Seperti janjinya, Mas AQUA pun segera mengirim kartu nama Pak Mushonif. Di situ tertera nama lengkap, jabatan, alamat kantor, nomor telepon hingga email. Lewat nomor telepon di kartu nama itulah, saya kemudian menghubungi Pak Mushonif. InsyaAllah, minggu ini kami ketemuan.(*)

Pewarta :
Editor : Erwan Widyarto
Sumber :

Komentar Anda