Sultan Bubohu Merekonstruksi Tapa Modelo

COWASJP.COM – Kesultanan Bubohu kembali berbenah. Sultan Yotama Bubohu XII berniat melengkapi sarana dan prasarana kawasan kesultanan yang berada di Kabupaten Gorontalo ini. 

Beliau berniat kembali mencanangkan rekonstruksi Tapa Modelo Kesultanan Bubohu 1750. Berada di areal yang sama di Desa Buhudaa, Kecamatan Batudaa Pantai, Kabupaten Gorontalo. ‘’Akhirnya kami merasa wajib mewujudkan keinginan masyarakat Gorontalo khususnya, dan masyarakat dunia pada umumnya,’’ ungkap Sultan Bubohu XII Yosef Tahir Ma’ruf.

Dia menjelaskan bahwa sebelum abad ke-17, desa Bongo yang ada pada saat ini merupakan kawasan pemukiman yang homogen dan religius. Wilayahnya terbagi dua, yaitu: 1. Wilayah dataran tinggi bernama Tapa Modelo (sekarang menjadi Dusun Tenilo dan Dusun Wapalo).

2. Wilayah dataran rendah bernama Tapa Huota atau Huwata (sekarang menjadi Dusun Timur, Dusun Tengah, dan Barat).

Menurut Sultan, untuk tahap awal ini semua tanah kebutuhan rekonstruksi sudah dibebaskan. Segera dibangun Keraton Kesultanan Bubohu yang sebelumnya sudah dibangun pondok pesantren dan masjid beberapa tahun yang lalu. 

nov1.jpg

‘’Ke depannya tinggal Keraton Istana Orang Tuaku Maimunah Abubakar Pusungge Dami dan Museum Meeraji, serta fasilitas lain yang segera akan dibangun’’, katanya. 

Yang menarik, jika dulu awal rekonstruksi Kesultanan hanya diprakarsai dirinya, seorang diri saja. Kini, proses pembangunan akan melibatkan Pemerintah Kabupaten Gorontalo, Pemerintah Propinsi Gorontalo, dan Keluarga Besar Kesultanan. Tim Rekonstruksi ini dikomandani Ketua Dewan Kerajaan Bubohu Prof. Dr. Abd. Haris Panai. Dibantu Yunus Dami, Saman Dami, dan Keluarga Besar Bubohu yang dipimpin oleh Sultan Yotama Bubohu XII Gorontalo Yang Mulia Yosep Tahir Ma’ruf.

November tahun lalu Bupati Kabupaten Gorontalo Prof. Dr. Nelson Pomalingo dan Ustadz Bahtiar Nasir (UBN) meletakkan batu pertama sebagai tanda dimulainya rekonstruksi kesultanan ini. Proses pembangunan dimulai oleh Ustadz Luqman dari Pontianak, pada saat Sedekah Akbar bulan November 2018. Biaya rekonstruksi akan dipelopori The Sultan Institute IDRD. ‘

’Lakukan sesuatu untuk kampung halamanmu. Minimal memikirkannya sebelum kami berbicara banyak tentang bangsa yang besar,’’ demikian pesan pria yang juga akrab dipanggil Yotama itu.

Itulah kalimat yang menjadi kekuatan dan dorongan keluarga besar untuk mewujudkannya. Dan, untuk mewujudkan proyek ini The Sultan Institute IDRD akan melibatkan Ujang Koswara, penemu Limar dari Bandung yang membuat lampu di Desa Buhudaa yang akan dikerjakan para santri Pesantren Alam Bubohu dan SMK Pariwisara Bubohu.

Pada umumnya penduduk pada saat itu, sumber mata pencahariannya petani. Selain bertani masyarakatnya mempunyai adat dan kebudayaan yang sangat tinggi yang berlandaskan pada ajaran agama islam sebagai acuan dalam berkehidupan dan bermasyarakat. 

nov2.jpg

Pusat kegiatan keagamaan dan kebudayaan serta kegiatan lainnya dilakukan di Tudulio (dataran tinggi). Peran tokoh agama, tokoh adat, dan tokoh masyarakat sangat berpengaruh di masyarakat dan satu tokoh yang menjadi panutan dan berpengaruh pada saat itu bernama Hilalumo Amay. Kunjungi situs: www.thesultanbubohu.com. 

Sejarah Singkatnya

Pada tahun 1750 seorang Raja Gorontalo (Hulontalo) dari Tamalate (RAJA TERNATE) mangunjungi TAPA MODELO, mengadakan pertemuan/perundingan dengan tokoh agama, tokoh adat dan tokoh masyarakat untuk merumuskan kepemerintahan dan perluasan wilayah kekuasaan dan untuk delegasi TAPA MODELO dipimpin oleh HILALUMO AMAY. Dalam pertemuan/perundingan tersebut telah menghasilkan: 

1. TAPA MODELO dan TAPA HUOTA menjadi bagian dari kerajaan Gorontalo (Hulontalo) dengan nama BUBOHU

HILALUMO AMAY sebagai pemimpin (RAJA).

Wilayah kekuasaan meliputi wilayah pantai dengan batas sebagai berikut: 

Sebelah Barat berbatasan dengan tanjung OLIMEALA (sekarang batas antara kecamatan Biluhu dengan Kecamatan Paguyamanpantai Kabupaten Boalemo). Sebelah Timur berbatas dengan HULUPILO/HUNTINGO (terletak di kelurahan Pohe Kota Gorontalo).

nov3.jpg

Sebagai bukti dari keberhasilan perundingan antara RAJA TALAMATE dan BUBOHU mereka tandai dengan menanam kelapa (Bongo) di mana kelapa tersebut sudah disiapkan oleh RAJA TALAMATE sebelum perundingan, dan areal penanaman di TUDULIO dekat dengan tempat pertemuan/ perundingan mereka (sekarang pohon-pohon kelapa tersebut sudah mati tapi arealnya masih ada). 

Perjalanan dari pusat kota Gorontalo bisa ditempuh dengan waktu sekitar 20 menit menggunakan kendaraan roda empat maupun roda dua, jalan yang berliku-liku dan melewati gunung di pesisir pantai Teluk Tomini membuat perjalanan setiap orang dipenuhi keindahan alam yang luar biasa. 

Desa ini berbatasan dengan Kota Gorontalo, yaitu Kelurahan Tanjung Kramat Kota Selatan. 

Sampai dengan tahun delapan puluhan, akses ke desa ini hanya dapat ditempuh melalui laut dari pelabuhan Gorontalo atau jalan kaki melewati Kelurahan Pohe kota Selatan, Kelurahan Donggala dan Potanga Kota Barat Kota Gorontalo. (*)

Pewarta : Arif Novantadi
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda