Keturunan Arab Hadramaut

Bangga sebagai Bangsanya Ratu Sheba

Najwa Shihab, presenter top TV nasional. Foto: wowkeren.com

COWASJP.COM – Salah satu topik perbincangan yang hangat (dan bahkan panas) di Indonesia belakangan ini adalah tentang beberapa tokoh keturunan Arab. Sebut saja misalnya Munir, Habib Rizieq, Abu Bakar Ba'asyir, Novel Baswedan, dan Anies Baswedan. Nama-nama itu hanyalah sebagian di antaranya, ramai dibicarakan terutama di media sosial.

Nama-nama itu sudah sangat beken. Munir adalah tokoh HAM sangat berani yang terbunuh di pesawat dari Jakarta - Amsterdam belasan tahun lalu. Misterius, belum terungkap tuntas. Habib Rizieq, yang “lari” ke Arab Saudi, dipandang sebagai tokoh Islam radikal, anti-Pancasila, Abu Bakar Ba'asyir, yang nyaris bebas pekan ini, idem ditto dengan Habib Rizieq. Tapi lebih keras dan dikaitkan terror bom. Novel Baswedan adalah penyidik top KPK yang wajahnya disiram air keras dan polisi belum juga berhasil menangkap pelakunya. Sedang Anies Baswedan, masih paman dengan Novel Baswedan, adalah intelektual top lulusan AS. Tapi setelah terjun ke politik, dicitrakan lain oleh sebagian orang.

Banyak tulisan bernada negatif sekarang. Ini sebenarnya bukan hal yang baru. Pada zaman pergerakan pada awal abad ke-20, sebagian tokoh pergerakan juga punya pandangan negatif terhadap warga keturunan Arab. Peranan pemuda keturunan Arab dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia tak banyak disebut dalam buku-buku sejarah.

Padahal Kongres Pemuda Keturunan Arab pernah digelar dua hari, 4-5 Oktober 1934, di Semarang, Jawa Tengah. Hal itu dipandang sebagai  tonggak penting pergerakan komunitas Arab terhadap terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Keberanian sekelompok keturunan Arab yang mengumumkan Sumpah Pemuda pada 1934 itu konsekuensinya berat. Sebab, pada masa itu, Belanda menekan semua tokoh nasionalis. Banyak yang di-Digul-kan (diasingkan di Digul).

bawesdan.jpgGubernur DKI Jaya Anies Baswedan. Foto: Tabloid Bintang

Penjajah Belanda menempatkan komunitas Arab sebagai kaum atau warga kelas dua setelah orang kulit putih Eropa. Kedudukan mereka di atas pribumi memungkinkan keturunan Arab mendapat kewenangan dan hak khusus pada masa itu. Tapi keistimewaan tersebut ditampik, dan mereka memilih mengikrarkan diri sebagai bagian dari bangsa Indonesia. Mereka, di antaranya, menyatakan peranakan Arab adalah orang Indonesia.  Hal ini memberikan dukungan moral dalam pergerakan perjuangan kemerdekaan kepada semua lapisan masyarakat.

 Dari Hadramaut, Yaman

 Banyak orang berbicara hanya tentang sedikit tokoh keturunan Arab yang dianggap radikal dan anti-Pancasila. Padahal, begitu banyak tokoh keturunan Arab yang sangat terbuka, egaliter dan berwawasan luas. Ada almarhum mantan Mendikbud Fuad Hasan, dan mantan Menteri Perikanan dan Kelautan Fadel Mohammad, dan almarhum mantan Menlu Ali Alatas.

 Orang  juga mengenal  presenter top Najwa Shihab. Selain itu juga ada Achmad Albar, Helmy Sungkar, dan Moch Barmen (tokoh bola nasional). Tokoh generasi sebelumnya juga termasuk Fuad Bawazier,  Alwi Shihab, Quraish Shihab, Said Agil Al-Munawar, Habib Yahya (Cirebon) yang halus dan bijak dan sebagainya

Profesi orang-orang Arab di Indonesia di masa lalu, sampai setidaknya 60 tahun yang lalu, umumnya adalah pedagang. Sebagian kecil ulama, atau terjun ke dunia politik seperti A.R. Baswedan dan Hamid Algadri. Namun sekarang, seperti telah sedikit dikutip di atas, sekarang profesi mereka amat beragam, termasuk di dunia pendidikan. Sekarang banyak sekali profesor dan tokoh pendidikan keturunan Arab.

 Ada yang bertanya, dari manakah asal umumnya orang-orang keturunan Arab tersebut? Jawabannya adalah dari  Hadramaut, sebuah wilayah propinsi di Republik Yaman di ujung selatan Semenanjung Arab. Pertanyaan tersebut memang sederhana. Namun ternyata tidak sedikit orang yang kurang memahami. Mereka kurang mengetahui bahwa dunia Arab sangat luas, ke barat hingga ujung barat Afrika di Libya, ke selatan hingga pedalaman Afrika, ke timur hingga ujung timur Irak.

 Hadramaut adalah wilayah yang kering kerontang sejak ribuan tahun yang lalu, namun sangat menarik bagi para peneliti, pelancong, pengarang, atau para jurnalis. M. Anis, seorang jurnalis, suatu kali pernah melakukan perjalanan jurnalistik ke Hadramaut. Pengalaman perjalanannya itu pun terabadikan dalam sebuah buku, Hadramaut: Catatan Perjalanan M. Anis (1996).

shihab.jpgQuraish Shihab (kanan) dan Gus Mus (KH Mustofa Bisri). Foto: ngopibareng

Sesaat hendak ke Hadramaut,  Anis sempat berbincang-bincang dengan Saleh Obeid Sagran, seorang pemilik restoran di terminal Aden. Sebuah perbincangan yang akrab dan penuh guyon. “Hadramaut terdiri atas dua kata, yaitu hadra berasal dari kata hadir, dan maut. Siapa hadir ke sana akan menemui maut,” kata Sagran dengan tertawa.

Tetapi ada kisah lain yang menyebut bahwa kata Hadramaut berasal dari seorang tokoh legendaris yang tak banyak diketahui asal usulnya. Namun dipercaya bahwa orang-orang Hadramaut adalah keturunan Ya’rub, cucu Nabi Hud yang melakukan babat alas di wilayah selatan jazirah Arab yang kering kerontang tersebut.

Bila ditarik ke atas lagi, orang-orang Arab di Hadramaut bahkan membanggakan diri sebagai bangsa pertama yang diturunkan Nabi Nuh setelah banjir besar seperti dituliskan para penganut agama Samawi: Yahudi, Kristen, dan Islam. Mereka juga membanggakan Ratu Sheba, yang dalam kisahnya berhubungan dengan Nabi Sulaiman.

Dalam sejarahnya, negeri ini adalah bagian dari wilayah kerajaan Sheba atau Saba, negeri makmur yang menjadi penghubung dalam perdagangan antara Afrika dan Asia Selatan dan Tenggara. Cerita-cerita kuno dalam kitab suci melukiskan bagaimana Ratu Sheba memberikan hadiah-hadiah berupa emas, rempah-rempah, dan batu mulia kepada Nabi Sulaiman (alias Solomon).

Orang-orang Hadramaut juga bangga bahwa sebelum suku-suku Arab lain datang ke Hadramaut, masyarakat mereka adalah masyarakat yang egaliter, tiada membeda-bedakan warga.

Sagran pun melanjutkan. “Kakek-kakek kami dahulu mencari air pun sulit. Anak-anak kecil banyak yang mati karena sulit mendapat air dan makanan. Maka banyak laki-laki dewasa yang berlayar ke Ethiopia, Zanzibar, Kenya, India, Singapura, dan Indonesia,” tutur Sagran.

Begitulah memang kisah dalam sejarah datangnya orang-orang Arab dari Hadramaut,  wilayah Republik Yaman sekarang, di Indonesia. Negeri ini sekarang porak poranda karena perang yang berkepanjangan. Tanpa ada yang bisa menengahi dan membantu.

LWC Van Den Berg, dalam bukunya Hadramaut Dan Koloni Arab di Nusantara yang terbit pertama kali dalam bahasa Belanda pada 1886, yang disebut Hadramaut adalah seluruh pantai Arab Selatan, sejak Aden hingga Tanjung Ras al-Hadd.

Dari buku Van Den Berg kita tahu bagaimana kerasnya perjuangan para lelaki Hadramaut untuk bisa datang ke Indonesia. Dari kota-kota pedalaman di Hadramaut, mereka harus berjalan kaki ratusan kilometer ke kota kawasan pantai (pelabuhan), sebelum akhirnya naik kapal berbulan-bulan lamanya sebelum tiba di negeri ini.

Perantau Arab diperkirakan tiba di negeri ini setelah abad ke-17.  Hingga pertengahan abad ke-18 para perantau Hadramaut belum ada yang sampai Pulau Jawa. Kala itu mereka lebih tertarik tinggal di Singapura dan sebagian lagi memilih tinggal di Palembang atau Pontianak. Baru setelah tahun 1820, para perantau itu mulai tertarik dan berdatangan ke Pulau Jawa.

Menurut data statistik pemerintah kolonial Belanda, pada tahun 1859 hingga 1870 di Pulau Jawa dan Madura terdapat 10.888 orang pendatang dari Hadramaut. Mereka tinggal di kota-kota pantai Jawa seperti Batavia (Jakarta), Cirebon, Pekalongan, Tegal, Semarang, Gresik, Surabaya, Bangil, dan sebagainya. Di antara mereka juga tinggal di kota pedalaman seperti Solo dan Yogyakarta. Mereka datang tanpa isteri, kemudian kawin dengan perempuan setempat hingga beranak-pinak.

Sekarang, tiga abad kemudian, lebih dari 12 juta orang anak cucu orang-orang Hadramaut tersebut hidup tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Mereka adalah wajah kita juga

 Fajrie Alatas, seorang peneliti masalah keturunan Arab, mengatakan kepada BBC Indonesia, belakangan ini muncul fenomena  anak-anak muda keturunan Arab yang dikenal bukan karena latar keislamannya, namun karena profesi dan keahlian di dalam bidangnya.

"Ada sineas, penyair, musikus, wartawan dari keturunan Arab yang tidak lagi mengidentikkan dengan kelompok Islam yang selama ini dilekatkan pada mereka," ungkap Fajrie.

Menurutnya, hal ini merupakan perkembangan yang bagus. "Sehingga kontribusi keturunan Arab di Indonesia kini makin beragam, makin semarak." (*)

Penulis: Djoko Pitono, wartawan senior dan editor buku, tinggal di Surabaya.

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda