Umroh The Power of Silaturahim III (4)

Yang Mengkritisi dan Yang Merevisi

COWASJP.COM – Pukul 23.40, Jumat 18 Januari, sebuah pesan via Whatsapp masuk di jalur pribadi. Ternyata, dari Ustad Nurcholis M.A. Basyari, ''kepala suku'' Jamaah Umroh the Power of Silaturahim (POS) III.

 Isinya singkat. ''Alaikumsalam wrwb. 

Alhamdulillah..Mhn maaf baru respons. Baru nuampr (maksudnya nyampe) rumah. Tadi nyetir''. Tidak biasanya Ustad salah ketik dan menggunakan singkatan. Tampaknya malam itu Ustad sedang tergesa atau cukup lelah.

Ustad Nurcholis memang sibuk. Apalagi, belakangan juga harus menangani Jamaah Umroh POS III. Selain mengundang jamaah ke grup whatsapp (GWA) POS III, Ustad dan Umi Yayah Nuriyah Assalavi juga harus mengarahkan semua yang harus dilakukan jamaah. Mulai pengurusan passport, suntik meningitis, rekam biometrik, dan perlengkapan dokumen-dokumen lain. 

 Selain itu, Ustad dan Ustadzah itu juga sibuk menjawab pertanyaan jamaah. Apa saja yang menyangkut kepentingan umroh. Bahkan, warna jilbab untuk foto pun ditanyakan.

Karena itu, pada awal-awal pembentukan GWA POS III, Umi Yayah membroadcast syarat-syarat yang harus dipenuhi jamaah. Meski begitu, mereka tetap menghadapi serbuan pertanyaan dari jamaah yang minta penjelasan.

BACA JUGA: Rombongan Umroh POS III Mulai Disiapkan

 Ustad Nurcholis juga memberikan arahan. Misalnya, untuk menghemat waktu, sebaiknya jamaah yang sudah mengantongi passport melakukan suntik miningistis.

 ''Bagi yang sudah punya paspor, silakan langsung suntik meningitis. Bisa di pelabuhan laut atau bandara terdekat. Di kota tertentu, kadang ada rumah sakit yang menyediakan jasa suntik meningitis. Nanti setelah suntik meningitis akan mendapat kartu kuning. Passport dan kartu kuning itu bersama berkas lain sebagaimana di-broadcast Bu Yayah tadi dikirim ke alamat tersebut.''

 Barangkali terbawa sikap kristisnya sebagai wartawan dan akademisi, Mondry yang tinggal di Malang merespons. ''Sebaiknya suntik meningitis itu berapa lama sebelum berangkat. Kalau sekarang apa tidak terlalu lama?'' tanya dia.

BACA JUGA: Labbaikallahumma Labaik...Kusegera Penuhi Panggilan-MU ya Allah

Ustad Nurcholis langsung menjawab, ''Masa kadaluwarsa suntik meningitis itu dua tahun Mas Mondry. (Karena itu), sebaiknya yang sudah punya passport segera suntik meningitis karena sekarang ada persyaratan baru untuk urus visa. Yakni, rekam biometrik. Dan itu prosesnya tidak secepat membalikkan tangan.''

 Lima menit setelah jawaban Ustad Nurcholis tentang meningitis dan rekam biometrik dibroadcast, pertanyaan tentang biometrik pun bersusulan. ''Kapan rekam biometrik dilakukan? Dimana? Apakah hasilnya bersamaan dikirim dengan passport dan kartu kuning?''

BACA JUGA: Calon Tamu Allah Pilihan Kapolda Yang Istimewa

 Ganti Umi Yayah yang menjelaskan, bahwa proses biometrik baru dilakukan setelah semua dokumen lengkap jamaah diserahkan pihak travel, NRA. Perusahaan tersebut yang akan mengurus. ''Bapak/ibu jamaah tinggal nunggu jadwal dan tempatnya. Insya Allah jadwal dan tempat rekam  biometric segera disampaikan setelah ada info dari NRA.''

 Para penanya pun lega. Itu tampak dari beberapa respons '"Alhamdulillah'' dari jamaah.

Namun, Mondry masih melanjutkan pertanyaan. ''Apakah suntik meningitis setelah ada info dari Jakarta atau diurus sendiri?'' Ustad Nurcholis hanya menjawab dengan mengulang penjelasannya plus imoticon telunjuk ke atas. (Maksudnya lihat ini) Mas Mondry.

mondry.jpgMondry 

Tidak hanya urusan persyaratan, pria murah ketawa itu juga mengamati daftar jamaah yang mengurus passport.

''Sepertinya nomor 4 itu tahun lahirnya salah. Mohon dikoreksi,'' tulis Mondry. Dalam daftar jamaah yang hendak bikin passport, nomor empat tertulis, Jamal Abdul Nasser, Madiun, 01 April 1067.

Maksudnya 1967.

Jamal segera membetulkan kesalahannya. Tapi, ditulis tersendiri, terpisah dari daftar. Mondry pun segera meminta agar perbaikannya dimasukkan daftar. ''Tulisan perbaikannya di dalam kelompok itu Pak, supaya berubah. Jangan dibuat lagi.''

 Tapi, tampaknya Jamal tidak bisa memasukkan namanya dalam kelompok. Terus terang dia menulis, ''Maaf Pak gimana Pak nulisnya di kelompok itu aku gak bisa.''

 Untunglah ada Tiwi Mansyur, anggota jamaah dari Jakarta. Perempuan yang bekerja di Sriwijaya Air itu dengan sukarela rajin membantu merapikan daftar sehingga berurutan. Sebab, kadang ada anggota jamaah yang menuliskan namanya tanpa melihat nomor urut. 

 Kejadian seperti itu, tentu tidak luput dari pengawasan Mondry. ''Di atas itu sudah (nomor urut) 12, yang di bawah kembali (nomor) 11. Awas jangan salah copi…,'' komentarnya. 
 Ketika menjadi redaktur Suara Indonesia, Mondry memang dituntut mempelototi data, angka dan kata. Kebiasaan itu tampaknya terus terbawa sampai kini.

 Ustad Nurcholis mengucapkan terima kasih atas peringatan Mondry tersebut.

 ''Saya bantu rapihin Pak,'' tulis mbak Tiwi.

Dia juga membantu meng-update dan merevisi daftar.

 Ustad Nurcholis dan Umi Yayah yang sudah berpengalaman mengurus jamaah memang bekerja efektif. Senin, 21 Januari, mereka menurunkan daftar tempat-tempat rekam biometrik di tanah air. Berbarengan dengan itu, untuk kepentingan biometrik tersebut, jamaah diminta menuliskan nama dan tempat tinggal mereka dalam daftar.

Semua perkembangan yang terjadi di GWA Jamaah Umroh POS III itu selalu diikuti oleh Aqua Dwipayana, pemrakarsa, sekaligus penyandang dana POS. Hampir tiap hari Ustad Aqua berkomunikasi dengan Ustad Nurcholis. Insya Allah umroh jamaah POS III lancar mabruran. Aamiin. (*)

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda