Film Terimakasih Cinta, Wujud Cinta yang Unik

COWASJP.COMJarang, film Indonesia berbasis riset. 'Terimakasih Cinta', contohnya. Diadaptasi dari novel kisah nyata '728 Hari' karya Djono W. Oesman. Dibintangi para aktris Piala Citra, beredar mulai 17 Januari 2019.

***

Hari-hari ini di bioskop-bioskop 21 se Indonesia, sudah muncul poster film ini. Sebagai 'coming soon'.

Para bintang film peraih Piala Citra, beradu akting di sini. Di film berbiaya sekitar Rp 5 miliar ini.

Cut Mini Theo, aktris terbaik Indonesia 2016, berperan sebagai Sugiarti. Dan, Putri Marino, the rising star, aktris terbaik Indonesia 2017, berperan sebagai Eva Meliana.

Apakah itu tanda, bahwa para aktris papan atas Indonesia mulai tertarik film berbasis riset? Hanya Mini dan Putri yang tahu.

Tapi, film ini menyajikan cinta remaja. Tokoh sentralnya Eva. Menjalin cinta yang sangat unik dengan Ryan. Cinta tak harus memiliki. Akhirnya Eva menikah dengan Nanan.

Persoalannya, Eva menderita Lupus. Penyakit mematikan yang belum ada obatnya hingga kini. Kisah ini diangkat dari kehidupan Eva. Anak Bekasi. Meninggal pada Selasa dini hari, 1 April 2014.

Lupus diderita Eva sejak kelas 1 SMP.

Nah, di penyakit yang jarang didengar orang inilah ada riset. Selain hasil interview penulis novelnya dengan Eva dan keluarga.

Berikut ini cuplikan novelnya, yang diadaptasi ke film:

Selasa, 9 Agustus 1988 penting bagi Eva. 

Dia baru masuk SMP. Sebulan lagi usianya genap 12. Bukan soal ulang tahun. Tapi, sudah 10 hari ini dia dirawat di RS Cipto Mangunkusumo Jakarta.

Ibunya, Sugiarti, tak lelah menunggu. Bergantian dengan suami, Badarudin, menemani si sulung Eva. Padahal, ada tiga adik Eva di rumah. Si bungsu masih bayi.

Siang, sehabis kunjungan dokter, Sugiarti diberitahu dokter pria, begini:

teima-kasih-cinta.jpg

"Ibu, sejam lagi kita bicara di ruangan saya, ya."

"Baik dokter."

Belum waktunya, Sugiarti sudah mendatangi ruang dokter. Tak jauh dari kamar Eva.

"Silakan masuk, Bu," kata dokter, membuka pintu ruangan.

Ruangan tidak besar, sekitar 4 X 4 meter. Dominan putih. Terang oleh sinar matahari, menerobos jendela kaca. Ada rak buku mini di sudut.

Patung manusia dengan organ dalam terbuka, berdiri di sudut lain. Whiteboard di dinding.

Sebuah meja kerja banyak tumpukan kertas. Dokter duduk di kursi, Sugiarti duduk di hadapannya.

Dokter mencari sesuatu dari tumpukan kertas. Lalu mencabut satu bendel file, mengamati.

BACA JUGA: Film Berbiaya Rp 5 M, Awalnya Sepele Begini...‚Äč

"Apakah Ibu keluarga Eva Meliana Santi?"

"Ya, dok. Saya ibunya."

"Apakah ibu kandung?"

"Benar, dok."

"Ayahnya mana? Bisakah ketemu saya?"

"Bisa, tapi malam. Dia dinas di Pemprov DKI."

"O, kalo begitu cukup dengan Ibu saja, ya."

"Baik, dok. Saya ditugasi bapaknya mengurus Eva."

Dokter mengamati lembar demi lembar file di tangan.

Tak disadari, tangan Sugiarti gemetar. Firasatnya mengatakan, dia harus siap menerima kabar buruk.

Doanya kepada Allah agar diberi kekuatan. Segala sesuatu di dunia terjadi karena kehendak Allah semata.

Ternyata dokter melakukan interview (lagi). Tapi, tema beda dengan interview yang lalu. Kini fokus pada riwayat penyakit Sugiarti dan keluarga orang tua. Juga riwayat penyakit Badarudin dan keluarga orang tua.

Mungkin, ini maksud dokter meminta kehadiran ayah Eva, tadi.

eva.jpg

Sugiarti menjawab semua pertanyaan. Dia juga tahu keluarga orang tua suami. Sebab, mereka tinggal sedusun. Pertanyaan-pertanyaan yang kelihatan sepele pun dijawab.

Sugiarti-Badarudin tidak pernah pacaran, tapi saling mengenal. Mereka sedusun di Purwokerto. Saat Badarudin 25 tahun menikahi Sugiarti yang 17 tahun.

Semua warga saling kenal. Penyakit yang menonjol, ya… flu, muntaber. Juga penyakit kulit semacam panu, kadas, kurap, kutil, caplak. Tak ada penyakit berat. Diceritakan Sugiarti semua.

Kini, yang ditunggu-tunggu Sugiarti akhirnya muncul juga.

"Eva kena Lupus, Bu."

Hanya kalimat begitu pendek. Sudah. Selesai.

Sugiarti tak menduga sedemikian singkat. Tidak ada kejutan. Tidak ada arti apa-apa baginya. Malah membingungkan.

"Penyakit apa itu, dok?" dahinya mengernyit.

"Bagi masyarakat kita, memang belum dikenal."

"Semacam apa? Apakah itu berat? Adakah obatnya?"

Pertanyaan beruntun meluncur deras. Muntah bagai lahar gunung api, meluber kemana-mana.

Dokter berdiri. Jalan mendekati patung manusia di sudut ruangan. Pandangan Sugiarti mengikuti.

"Tubuh manusia punya zat imunitas. Disebut juga anti-bodi,” kata dokter memulai. “Beredar di seluruh tubuh bersama darah," jelasnya, sambil menunjuk bagian-bagian organ di patung manusia.

Gunanya menangkal semua benda asing atau racun yang masuk ke tubuh melalui berbagai jalan.

Racun masuk melalui makanan, melalui pori-pori kulit, atau udara yang kita hirup, bahkan saat mata kita klilipan, juga saat gigi kita slilitan.

Racun adalah virus, bakteri, kuman, hanya bisa dilihat melalui mikroskop.

Zat imunitas secara kodrati, diciptakan Allah yang langsung dan otomatis mengenali racun sebagai musuh.

Begitu dia tahu ada racun masuk, langsung dilakukan penangkalan, dilakukan serangan. Sehingga tubuh kita terlindungi.

dwo1.jpg

Zat ini tidak pernah istirahat. Meskipun kita tidur. Sejak kita lahir sampai mati. Zat ini berperang dahsyat demi kita setiap detik, tanpa memberitahu kita.

Sehingga kita lupa berterima kasih kepada pencipta zat ini. Padahal, tanpa zat ini manusia langsung mati.

Contoh: kalau kita kena flu. Virusnya bernama Rinovirus masuk ke tubuh.

Zat imunitas bertempur menghambat kerusakan tubuh. Itu sebab flu bisa sembuh sendiri, tanpa diobati. Zat imunitas-lah pahlawannya.

Tapi jika flu berat, berarti volume racunnya melebihi kemampuan zat imunitas. Barulah kita butuh bantuan obat.

"Lupus, kelainan pada zat imunitasnya," katanya.

Zat itu terlalu banyak gerakan. Serangannya berlebihan. Over-acting. Atau dia bingung mendeteksi zat-zat di sekitar.

Gerakannya jadi membabi-buta. Menyerang apa saja, baik musuh atau bukan. Dia tidak mampu mengenali kawan atau lawan. Semua dihajar sebagai musuh.

"Akibatnya fatal. Jaringan-jaringan tubuh yang mestinya kawan, diserbu zat ini. Arah serangan tidak beraturan, acak, tak terkendali. Akibatnya, jaringan tubuh akan rusak," dokter, mengambil napas.

Sampai disini air mata Sugiarti meleleh. Badan terbungkuk, kedua tangan menyatu di pangkuan. Mata berkedip, airmata pun jatuh. Bibir komat-kamit, menyebut asma Allah.

Dokter tidak tega melanjutkan. Dia tetap berdiri mematung di dekat patung. Mungkin dia larut dalam haru. Tapi sebagai profesional dia berjuang menguasai diri. Suasana kini sepi.

Sugiarti memecah kesunyian:

"Dokter... bisakah anak saya sembuh..." suaranya bergetar.

"Ibu harus sabar..."

"Adakah obatnya?" potong Sugiarti.

"Semua penyakit ada obatnya, Bu."

"Berapa lama dia sembuh?"

"Allah Sang Maha Penyembuh."

"Benarkah sakitnya seperti itu?" mata Sugiarti mulai menatap mata dokter.

Sekarang dokter kembali ke meja kerja. Mengambil file. Mencabut lembaran-lembaran dari bendel. Meneliti lagi.

"Berdasarkan uji laboratorium darah Eva, inilah hasilnya. Ibu berhak memiliki," kata dokter, menyerahkan lembaran kertas.

Sugiarti menerima dua lembar kertas. Diamati sekilas. Huruf-hurufnya buram, karena airmata terus mengalir. Juga, dia tidak bisa konsentrasi, karena hati gundah.

Dokter memahami, segera menjelaskan.

"Itu tes anti-nuclear antibody, disingkat ANA. Hasil positif,” katanya. “Satu lagi tes anti-double stranded DNA antibody, disingkat Anti dsDNA. Hasil positif," tuturnya.

"Apakah dengan ini sudah pasti anak saya kena sakit itu?"

toko.jpg

"Ada beberapa indikator diagnosis Lupus," jawabnya.

Antara lain, ruam merah di pipi Eva. Demam muncul-hilang sejak dua tahun lalu ditangani dokter lain. Radang tenggorokan terus-menerus. Trombosit naik-turun. Nyeri sendi. Rambut rontok.

"Puncaknya, pemeriksaan ANA dan DNA, ini hasilnya," tambah dokter.

"Tapi, anak saya sehat. Bisa makan. Tidak diinfus lagi. Bisa lari..."

"Lupus penyakit kronis, Bu. Lambat tapi pasti."

"Berarti kerusakan tubuhnya hanya perkiraan?"

"Berdasarkan standar diagnosis kami, hampir pasti Eva kena Lupus."

"Apakah dia tidak bisa sekolah?"

"Berkegiatan, termasuk sekolah, tetap seperti biasa. Asal rutin minum obat."

"Dokter belum menjawab pertanyaan saya: Apakah bisa sembuh?"

"Tidak."

Meledak tangis Sugiarti.

Tubuhnya sampai terguncang-guncang. Mendung yang semula bergelayut, kini tumpah jadi hujan lebat.

"Usianya baru dua belas... Ya Allah... ampuni dosaku. Izinkan aku menanggung beban sakitnya, Ya Rabb....

Suara wanita itu kering, pilu. Merinding dokter menyaksikan ini. Tidak ada kata-kata sedahsyat kasih ibu kepada anaknya.

Dokter membiarkan kesedihan itu meluber. Dia harus mengatakan yang sebenarnya, sesuai ilmu kedokteran. Meskipun sangat pahit. Namun dia sudah biasa menghadapi situasi begini.

Dokter menenangkan:

"Yang tidak bisa disembuhkan adalah kelainan pada zat imunitasnya," katanya. "Tapi kedokteran bisa menyembuhkan kerusakan-kerusakan organ yang diakibatkannya."

Tidak ada lagi minat Sugiarti bertanya. Pertanyaan terakhir itu dikejar sejak tadi. Dia masih mengatur napas yang tersengal-sengal, ketika dokter mengatakan:

"Sebaiknya Eva tahu ini. Dia berhak tahu penyakitnya."

Mata Sugiarti terbelalak menatap mata dokter. Otaknya masih mencerna, baik-buruk usulan tersebut. Satu-dua detik kemudian muncul jawaban sengit:

"Tidak... dia masih kecil," pekiknya.

"Berdasarkan pengalaman rumah sakit ini, juga rumah sakit lain di dunia, pengetahuan pasien tentang penyakitnya akan sangat membantu proses pengobatan. Mental pasien bakal kuat, semangat juang berkobar untuk bertahan," tutur dokter.

Sugiarti menganalisis penjelasan itu. Dia menimbang-nimbang. Kesimpulannya:

"Itu terlalu kejam buat anak kecil."

"Awalnya menyakitkan. Berangsur-angsur akan muncul kesadaran baru."

"Bagaimana kalau dia putus asa?"

"Semua manusia dibekali Allah ketahanan mental, betapa pahit kehidupan."

"Tapi... sungguh sakitnya kalau dia tahu."

"Saya lihat, Eva anak cerdas. Dia akan terus berusaha mencari tahu."

"Biarlah saya dan bapaknya saja yang tahu."

"Justru kasihan dia. Jaringan-jaringan tubuhnya akan rusak bertahap, sedangkan dia tidak tahu apa-apa."

Dokter memberi gambaran, kejutan hal biasa yang selalu dialami semua manusia. Baik dalam derajat kecil maupun besar. Baik berbentuk kegembiraan maupun kesedihan.

"Nah, hari ini Ibu menerima kejutan menyedihkan. Kejutan ini harus Ibu teruskan kepada Eva, karena menyangkut hidup dia," tutur dokter.

"Tapi... dia tidak bakal kuat..." kalimatnya terputus, napasnya tersengal-sengal. "Dia masih anak-anak, Dok..."

Dokter membiarkan Sugiarti mengatur napas. Beberapa saat kemudian dokter menjelaskan:

"Banyak orang tua menganggap anaknya lemah. Masih anak-anak, seberapa pun usianya. Padahal, anak adalah manusia kecil. Sudah disiapkan Allah menerima kodratnya. Menerima konsekuensi-konsekuensi kehidupan."

Diskusi ini berasa berat betul bagi Sugiarti. Dia menilai, kata-kata dokter ada benarnya.

Dia membayangkan, hancur-lebur hati Eva jika tahu. Sebaliknya, kalau tak diberitahu juga tidak menghentikan kerusakan tubuhnya.

Dokter menasihati:

"Hak Ibu untuk memberitahu atau tidak. Asal, Ibu bisa menjaga agar dia tidak bosan mengkonsumsi obat seumur hidup. Juga, diusahakan Eva tidak terlalu capek atau stress. Terpenting, Eva dilarang terpapar sinar matahari langsung," tuturnya.

Ditambahkan:

"Ingat, penyakit ini bisa tidur lama. Seperti sembuh. Tapi begitu pasien melanggar larangan dan anjuran, bisa langsung parah."

Menurut dokter, Sugiarti bakal kesulitan menjaga semua anjuran dan larangan tersebut, bila pasien tidak diberitahu sejelas-jelasnya tentang penyakitnya.

Pasien bakal membandel. Melanggar larangan. Bahkan mengabaikan sama sekali. Padahal, anjuran dan larangan itu wajib dilakukan. Terus-menerus seumur hidup.

Sebaliknya, Sugiarti tertarik persoalan obat. Dia lalu memprotes sengit.

"Lho, kalau dia tak bisa sembuh seumur hidup, apa lagi guna obat?"

"Obat hanya menurunkan agresivitas zat imunitas. Supaya tidak terlalu ganas. Tanpa obat, zat itu semakin cepat merusak jaringan tubuh. Usianya kian pendek."

"Ya Allah..."

"Pemberian obat juga berisiko. Dia jadi gampang sakit. Flu, yang bagi kita remeh, bagi dia sangat berbahaya. Sebab, zat imunitasnya sudah dilemahkan obat."

Habis sudah air mata. Kering-kerontang.

Sugiarti ingin segera mendiskusikan ini dengan suami. Dia beranjak dari kursi, berpamitan ke dokter.

Namun, jelang Sugiarti keluar, saat hendak menutup pintu, dia bertanya ke dokter lagi:

"Penyebab penyakit ini apa, dok?"

"Belum diketahui dunia kedokteran. Sebagian besar karena keturunan. Tapi, dari wawancara tadi keluarga Ibu dan Bapak tidak ada yang kena Lupus."

"Apakah menular?"

"Sama sekali tidak."

"Terima kasih, dok."

"Semoga keluarga Ibu kuat."

Sugiarti meninggalkan ruang dokter dengan langkah gontai. Dia merasa kenyang kepedihan. 


EVA, SELINCAH PEMAIN ANGGAR

Dari ruang dokter, dia jalan. Menuju kamar rawat inap Eva, anak tercinta.

Tidak jauh. Melewati koridor rumah sakit. Riuh oleh lalu-lalang manusia. Pikiran Sugiarti juga lalu-lalang. Memendar ke mana-mana.

Tiba di kamar Eva, Sugiarti kaget. Dia diberondong pertanyaan anaknya:

"Bagaimana hasilnya, Ma?”

“Aku sakit apa?”

“Kertas apa itu?”

“Coba Eva lihat.”

“Sini.. sini... cepet…" Eva nyerocos. Bagai rentetan pesta kembang api.

Sugiarti ternganga. Gelagapan.

Baru tersadar, bahwa dia masih menggenggam kertas hasil uji laboratorium itu.

Tadi sempat terbersit, rencana menyembunyikan. Jangan Eva tahu. Tapi kelupaan.

Sekarang sudah terlambat. Eva terlanjur menyambar kertas itu. Bertanya mendesak-desak. Habis-lah…

Sugiarti berusaha tenang:

"Cuma kertas… Hasil uji darahmu," kata Sugiarti enteng.

Eva mengamati. Kertas dua lembar.

"Ini artinya apa, Ma?" Eva meneliti, membaca.

"Hmm... itu bahasa kedokteran. Mama gak ngerti."

"Lha… Emangnya, Mama gak tanya dokter?"

"Iya… tanya. Dijelaskan rumit."

"Mama... gimana, sih. Ini positif. Ini juga positif. Artinya apa?"

"Positif, ya... berarti bagus, dong," balas Sugiarti.

"Bagus apanya, Ma?"

"Kesehatanmu bagus, Nduk…"

"Trus, Eva sakit apaan?"

Dada Sugiarti kembang-kempis. Guncang berdenyut-denyut.

Dia berusaha tampil tenang. Tapi matanya tak berani bertatap pandang dengan Eva. Dia kebingungan menjawab. Limbung.

Sedangkan, Eva tambah kencang. Mengejar dengan pertanyaan. Otak Sugiarti bekerja keras...

Akhirnya, menyerah:

"Kamu…. sakit Lupus."

Sepi. Hening. Sugiarti menunduk pasrah. Apa pun. Darahnya berdesir meletup-letup. Rontok sudah pertahanannya. Mati.

Tapi, sesuatu tak terduga meletup: Eva ketawa.

"Hahaha... lucu amat. Sakit apaan tuh? Kayak nama bintang film."

Astagh… kejutan menampar wajah Sugiarti. Dengan cepat. Kejutan yang melegakan.

Dia mulai berani mengangkat wajah. Memandangi Eva. Dia tekan kuat gejolak jantungnya. Lalu mengatakan datar:

"Penyakit baru… Ntar, makan siang bisa dihabisin, gak?" cepat berkelit.

"Ayam gorengnya enak. Supnya kayak bau obat, gitu."

"Sayurnya penting, loh... Kuahnya gak usah dimakan, kalo bau obat."

"Mama habis nangis, ya?"

Ya… Ampun... anak kecil ini kayak pemain anggar. Lincah menyerang. Mendesak. Gesit menusuk-nusuk. Ampun Tuhan…

Tapi, Sugiarti pemegang tameng baja. Tameng kebijaksanaan. Siap-sedia menangkis:

"Apaan, sih..." sergah Sugiarti.

Kali ini Sugiarti gambling. Dia memaksakan diri menatap mata Eva. Tatapan kasih-sayang. Cinta… Supaya tidak mencurigakan. Dia berkelit begini:

"Kuah sup… jangan dimakan, supaya gak muntah. Kalo muntah… ntar diinfus lagi, lho."

"Eva ogah diinfus."

"Bagus. Makan secukupnya. Jangan terlalu banyak, jangan terlalu sedikit."

"Ya, Mama."

Lolos sudah. Nyaris, pertahanan Sugiarti jebol. Beginilah beratnya jadi ibu. Sungguh mati, berat.

Sayangilah ibumu, ya sobat-ku… (*)

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda