2019: Wisata Bubohu Mulai Ditiketkan

Salah satu sudut kawasan wisata religi Bubohu, Gorontalo. Foto: Wikipedia.

COWASJP.COM – Jangan kaget. Sejak 1 Januari 2019 Wisata Religi Bubohu ada kejutan. Ini kali pertama. Mulai tanggal itu diberlakukan tiket masuk berbayar. Meski tidak mahal. 

Tiket masuk kawasan wisata religi Kesultanan Bubohu di Gorontalo seharga Rp 5.000 saja. Diakui Sultan Bubohu XII Yosep Tahir Ma'ruf ini merupakan babak baru. 

‘’Akhirnya kami harus melayani permintaan masyarakat. Bubohu perlu banyak perubahan. Fasilitas wisata harus banyak ditambah,’’ tegas Pak Sultan kepada CoWasJP.com, membenarkan.
Untuk mewujudkan penambahan sejumlah fasilitas itu perlu dilakukan pembangunan. Perlu biaya pembangunan. Sehingga, pengunjung pun dikenakan tarif. Walau tidak besar. 

‘’Mutlak pemberlakuan tarif ini juga karena permintaan pengunjung. Mereka ingin tambah fasilitas. Konsekuensinya harus ada tambahan masukan dana. Tidak hanya dari saya seorang diri, meskipun ada yayasan,’’ kata pria gantheng ini.

Proses penarifan ini tidak begitu mudah. Selama 22 tahun selalu digratiskan. Menghitung jumlah pengunjung dilakukan hanya dengan kelereng. Saat masuk, pengunjung mengambil satu kelereng. Lalu dimasukkan wadah tertentu. Terpisah jarak yang cukup. Tiap tahun selalu terjadi ledakan jumlah pengunjung. ‘’Kami menghitung jumlah kelereng itu per hari. Lalu dicatat,’’ kata Pak Sultan, begitu Yosep Tahir Ma'ruf akrab dipanggil.

Kadangkala pria yang juga akrab dipanggil Pak Yotama (singkatan namanya) itu menjelaskan bahwa sistem penarifan pun ada uji coba terlebih dahulu. 

Caranya? Selama ini banyak orang ikhlas dan tulus menyumbang dana di masjid Walima Emas Bubohu. Saat belum bertarif. Untuk tambahan pemeliharaan kawasan wisata relijius Bubohu selalu mengambil dana dari keropak masjid itu. Dan, di masjid itulah dilakukan uji coba penarifan.

arif1.jpgMasjid Walima Emas Bubohu. Foto: Ninna Wiends.Blogger.com

Dampaknya ternyata dasyat. Yotama mengungkapkan bahwa perawatan masjid menjadi lebih semangat, lebih giat, lebih bersih, lebih rapih, dan lebih menarik. 

Wajar karena ditarifkan, sehingga masjid itu harus mendapat perhatian yang berlebih. Kebersihan berlebih. Banyak kebaikan yang didapat. Ini pelajaran sangat berharga. Dari situ terpikir manajemen yang baik untuk menarifkan seluruh kawasan wisata Kesultanan Bubohu. 

Agar seluruh kawasan dan fasilitas wisata bisa lebih terawat dan bisa ditambah sesuai permintaan pengunjung. Maka, manajemen memutuskan untuk ditarifkan. Dengan harapan agar perawatan kawasan wisata Bubohu kian membaik. Fasilitas yang diminta pengunjung juga membaik. ‘’Selama perjalanan 22 tahun ini ternyata Wisata Religi Kesultanan Bubohu ini memberikan dampak yang baik buat masyarakat Gorontalo,’’ kata Pak Sultan.

Masyarakat Gorontalo ternyata merasa bangga terhadap keberadaan Kesultanan ini. Selain menjadi sasaran kunjungan wisatawan domestik, juga wisatawan mancanegara. Selain pengunjung senang, orang-orang kelahiran Gorontalo pun riang. Penambahan fasilitas dirasakan menjadi sangat penting. Apalagi, luas kawasan belum dimanfaatkan secara maksimal. ‘’Masih sangat memungkinkan menambah banyak fasilitas. Kami perlu dana untuk pengembangan itu,’’ katanya.

Kawasan Wisata Religi Bubohu seluas enam hektare

arif2.jpg

Yang dimanfaatkan masih terlalu kecil. Sehingga harus dilengkapi. Sesuai keinginan pengunjung. Misalnya, perlu dibangun fasilitas penginapan, restoran dengan menu khas Gorontalo, kolam renang dalam berbagai ukuran dan peruntukan, serta fasilitas pendukung yang lain. ‘’Ternyata ada pengunjung yang ingin merasakan nuansa kesultanan dengan menginap di sini,’’ katanya sembari tersenyum.

Padahal, boleh dikata Sultan pun sangat jarang tidur di kawasan itu. Hanya sesekali saja. Paling dua tiga malam saja. Yang menarik, kini Kesultanan Bubohu memiliki daya tarik nan unik. Berupa minuman relaksasi yang pertama di dunia. Terbuat dari bahan baku buah pala. Mereknya, PalaBoo®. ‘’Minuman pala ini unik. Tidak seperti minuman pala lainnya. Terutama soal khasiatnya yang begitu hebat untuk kesehatan. Ini menjadi ciri khas baru buat Kesultanan Bubohu. PalaBoo®,’’ tegas Pak Sultan.

Menurut Sultan Bubohu XII, PalaBoo® merupakan minuman kesehatan yang alamiah, ilmiah, dan Illahiyah. Pemetikan buah pala hanya dilakukan sejak usai Subuh hingga tiba saat sholat Dhuha saja. Pengolahan buah dan biji dikerjakan usai sholat Dhuha hingga Dhuhur. Usai Dhuhur baru dilaksanakan pekerjaan mixing hingga pengemasan. Istirahat sejenak sholat Ashar, diselesaikan dengan finishing packing. ‘’Selesainya bisa menjelang Maghrib. Tapi seringkali jauh sebelum Maghrib sudah beres,’’ katanya.

Proses produksi yang ditentukan dengan batasan ibadah itulah membuat PalaBoo® lebih prima kualitas dan khasiatnya. Sultan Bubohu XII memilih PalaBoo® juga karena itu. ‘’Sangat sesuai dengan semangat Kesultanan Bubohu yang mengutamakan ibadah kepada Allah. Karena itulah kami memilih PalaBoo® menjadi minuman khusus di Kesultanan ini,’’ tegas Yotama. (*)

Penulis: Arif Novantadi, mantan wartawan Jawa Pos dan owner perusahaan minuman PalaBoo.

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda