Film Berbiaya Rp 5 M, Awalnya Sepele Begini...

COWASJP.COM"Apakah Lupus menular?" tanya saya ke Eva Meliana, Selasa, 12 Feb 2012.
"Tidak," jawabnya. 
"Yang jujur..."
"Bener, pak. Masak, bapak wartawan senior gak tau?"
 

***

Itulah perkenalan saya dengan Eva.

Lokasinya di kantor saya, Indonesiarayanews Jl Iskandarsyah I no 15, Blok M, Jakarta. Di belakang Hotel Ambhara, seberang terminal Blok M.

Malam itu rombongan Dahlanis (kelompok pengagum Menteri BUMN Dahlan Iskan) mengadakan rapat pertama di situ. Ini komunitas di Facebook. Gerombolan yang tidak difasilitasi Dahlan Iskan.

Karena mereka tahu, saya mantan wartawan Jawa Pos, anak buahnya Dahlan, mereka minta rapat di kantor saya.

Saya oke. Asal, setelah jam kantor.

Mereka datang pukul 20.00. Sekitar 50 orang. Ada beberapa kawan saya eks wartawan Jawa Pos. Selebihnya saya gak kenal. Termasuk Eva.

Rapat rencana 'kopi darat' (pertemuan akbar) di Bandung. Dahlanis se Indonesia. Menginap tiga hari di sebuah vila.

Di rapat itulah saling mengenalkan diri.

Giliran Eva, paling mengerikan. Dia kena Lupus. Penyakit yang menggerogoti organ dalam. Bahkan, limpanya sudah dibuang. Rusak 'dihajar' Lupus.

"Sekarang saya hidup tanpa limpa," kata Eva.

Putri-Marino.jpgArtis film Terimakasih Cinta, Putri Marino. Artis Terbaik FFI 2017. Foto: Tribun Timur - tribunnews.com

Puluhan orang terdiam. Bisu. Sepi. Pokoknya suasana larut dalam haru.

Saya tidak menduga wanita ini sakit parah. Saya perkirakan usianya 32. Cantik. Charming berhijab. Tinggi 170. Seksi, meski berpakaian Muslimah yang longgar. Proporsional, gitu loh, maksudnya...

Trus... kalau dia sakit begitu, ngapain... ikut gerombolan kere-kere yang gak jelas ini?

Moderator rapat menetralisir suasana:

"Begitulah Eva... Mungkin kisah hidupnya bisa ditulis mas Djono W. Oesman. Beliau mantan Jawa Pos. Sekarang Pemred di kantor ini," kata moderator.

Moderatornya Agung Pamujo, juga eks Jawa Pos. Dialah yang membawa Eva ke sini.

Usai rapat, ramah-tamah. Saya masuk ruang kerja. Mau kembali mengedit berita-berita. Eva, Agung dan teman lain, ikut. Di situlah terjadi dialog, seperti di pembuka tulisan ini.

"Masak, wartawan senior gak tau Lupus?" sodok Eva ke saya.

Saya ketawa. Agung yang wartawan senior, juga ketawa. Saya duga, Agung pun belum tentu tau Lupus. Dia ketawa memperkuat sodokan Eva ke saya.

Saya berkelit begini:

"Kamu kira, wartawan tau segalanya? Begitu? Lha... tugas wartawan itu, kan bertanya. Terus menulis..."

"Pinter ngeles bapak ini," kata Eva.

Kami semua ketawa. Malah jadi pembuka yang akrab.

"Terus terang, Eva... dengan ceritamu tadi, mustahil orang gak takut. Lupus memakan limpa, ginjal, jantung, menggerogoti tulang... Emangnya, Lupus kayak anjing?"

Semua ketawa ngakak. Luar biasa. Lupus jadi bahan ketawaan.

Saat mereka ketawa, diam-diam saya mencari ke Google: Lupus.

Ternyata memang tidak menular. Aman.

Tapi, karena saya ngobrol sambil melirik layar monitor, membuat Eva penasaran. Dia kepo. Dia lalu menengok layar monitor. Dan...

"Tuh... kan... gak percaya. Masih juga dicari di Google," kata Eva, ketawa.

Kami semua ketawa. Mereka memandang saya lucu. Mereka seolah menuduh saya 'cupu'.... Maka, saya balas:

"Kalo wartawan gampang percaya, namanya katrok..."

Semua ketawa ngakak.

Itulah perkenalan saya dengan Eva. Dia cerdas. Cepat akrab dengan orang baru. Karakternya berani. Kadang dia menyodok orang dengan sengit. Sebab, saya membuka diri bergurau.

Setelah itu kami sering ketemu. Wawancara. Hasilnya saya muat di media saya. Serial. Ternyata pembaca suka. Viewers Indonesiarayanews naik drastis.

Saya senang sekaligus khawatir.

cut-mini.jpgArtis Cut Mini Theo. Foto: Acehklip

Senang, karena bisa menginspirasi pembaca. Menyebarkan kebaikan. Meningkatkan viewers.

Khawatir, dituduh masyarakat, mengeksploitir kesedihan Eva. Hidup Eva yang pahit, jadi bahan baku meningkatkan viewers.

Khawatir atau takut adalah bagian dari kewaspadaan manusia. Siapa pun yang tidak pernah khawatir atau takut, tanda dia tidak waspada. Kewaspadaan anugerah Allah bagi orang berpikir.

Lalu, saya sampaikan kekhawatiran saya ke Eva. Sebagai warning. Kalau-kalau suatu saat muncul wacana ini, dia sudah siap. Dia jawab begini:

"Bapak jangan hiraukan omongan orang. Santai saja."

"Belum ada orang menuduh saya begitu. Saya cuma waspada."

"Yang penting saya ikhlas. Kalo cerita hidup saya menginspirasi orang, saya senang, pak. Berarti saya menyebarkan kebaikan."

"Ya... ya... hal ini mestinya kita bahas sebelum ceritamu dimuat. Tapi semua meluncur begitu saja."

"Sudah, bapak tenang aja. Jangankan diberitakan, kalo bapak bisa menuliskan jadi buku, itu lebih baik."

Saya merenung. Lega, sudah menyampaikan kekhawatiran ke dia. Jawaban dia begitu rasional. Kini dia malah menantang kemampuan saya menulis jadi buku.

"Semacam novel, gitu ya," kataku.

"Apa aja. Kalo berita, habis tayang, selesai. Menguap. Buku bisa jadi kenang2an."

"Tapi, novel butuh drama. Supaya niatan inspirasi dibaca orang. Butuh drama yang menarik."

"Itulah kemampuan bapak. Saya ceritakan semuanya. Lengkap."

"Termasuk keburukanmu?"

"Termasuk keburukanku."

"Bakal dibaca banyak orang, lho... Apakah kamu tidak malu?"

"Saya ingin berbuat kebaikan, pak. Saya ingin sisa hidup saya bermanfaat bagi orang lain."

film.jpgFoto: Pojok Jabar

Saya diam. Terhenyak oleh kata: "sisa hidup saya". Abstrak. Bisa lama, bisa singkat. Bisa setahun, lima tahun. Tapi bisa juga saya, atau dia, mati malam ini.

Melihat saya diam, Eva berkata begini:

"Kalo kisah hidup saya menginspirasi orang, saya dapat pahala kebaikan. Bapak juga dapat pahala karena membantu menuliskannya."

"Jadi, aku kecipratan (terpercik) pahalamu, gitu ya..."

"Bukan kecipratan," katanya ketawa. "Pahala ya... pahala, gitu aja."

Saya tersenyum.

Saya paham, sepanjang saya menulis, apa pun, kelak saya akan diadili berdasar tulisan saya. Pengadilan yang sesungguh-sungguhnya adil.

Saya cuma ingin tahu isi hati Eva. Sebab, banyak orang ingin ditulis: Hanya kebaikannya saja. Sedangkan Eva, cerdas realistis.

Akhirnya, terbitlah novel "728 Hari". Kisah nyata hidup Eva sejak kecil hingga meninggal dunia.

Maka, apa pun isi film Terimakasih Cinta (saya belum nonton) yang mengadaptasi novel "728 Hari", adalah kisah hidup Eva.

Film Terimakasih Cinta tayang serentak di bioskop 21 se Indonesia, mulai 17 Januari 2019.

Jika film itu menginspirasi penonton, Insha Allah Eva dapat pahala. Dan, produsernya kecipratan pahala. Sebab, sudah bermodal Rp 5 miliar membuat film itu, menyebarkan kebaikan.

Modal Rp 5 Miliar Gambling Berat

Produksi-promosi film itu sekitar Rp 5 miliar. Harga tiket bioskop 21 se Indonesia, antara Rp 35.000 sampai Rp 65.000. 

Sedangkan penghasilan Produser hanya dari tiket bioskop 21 se Indonesia. Trus, pada jumlah berapa penonton, supaya Produser dapat laba?

Mari kita berhitung.

Dari variasi harga tiket bioskop yg disebut di atas, rata-rata (katakanlah) Rp 45.000. Dari angka ini dibagi ke tiga pihak: Produser 40 %, Bioskop 40 %, Pajak 20 %.

Kita fokus ke Produser. Dapat sekitar Rp 18.000 per tiket masuk. Itu belum dipotong pajak penghasilan perusahaan PH-nya 20 %.

Jika jumlah penonton sekitar 290.000 maka Produser masih 'mringis' (senyum kecut). Sebab di situlah titik BEP (Break Event Point) alias impas.

Mengapa dia 'mringis'? Karena, modalnya balik semua. Pas. Gak untung gak rugi. Tapi, dia rugi waktu. Sudah sejak dua tahun lalu dia produksi ini.

Seandainya uangnya dimasukkan deposito. Tanpa risiko. Dia sudah dapat untung.

Atau kalau (umpamanya) deposito dianggap riba, lalu diubah tanam jagung. Maka, sudah delapan kali dia panen jagung. Hukum alam: Waktu bergerak, investasi berkembang.

Intinya, Produser film ini sekarang 'sport jantung'. Banyak berdoa.

Sebagai gambaran, film terlaris Indonesia (sejak Indonesia merdeka sampai sekarang) adalah Warkop Reborn. Jumlah penonton lebih dari 8 juta.

Ranking kedua ditempati film Laskar Pelangi. Jumlah penonton hampir 6 juta. Lainnya, jauh di bawah itu.

Biaya produksi - promosi kedua film tersebut, kurang lebih sama dengan Terimakasih Cinta.

Trus, mengapa biaya produksi dan promosi Terimakasih Cinta sampai Rp 5 miliar? Sebab, film ini dibuat dua kali. Itu juga penyebab prosesnya sampai dua tahun.

Pertama kali dibuat, katanya, hasilnya jelek. Saya belum pernah nonton. Saya juga tidak terlibat di produksi. Produser hanya membeli cerita novel 782 Hari dari saya.

Ukuran jelek: Produsernya sampai tertidur saat menonton. Akibat terlalu jelek dan membosankan, kata Produser.

Film lantas dirombak abis. Revisi besar2an. Sutradara diganti. Tapi, nama sutradara (awal) tetap dicantumkan, sebab sudah terdaftar di Badan Sensor Film.

Otomatis, biaya membengkak jadi segitu.

Nah... apakah film ini bisa mencapai jumlah penonton, minimal 290.000? Agar Produser, paling tidak, impas? Kita tunggu mulai tayang 17 Januari 2019. (*)

Penulis adalah: Djono W. Oesman, mantan wartawan Jawa Pos.

Ini teasernya:
https://www.youtube.com/watch?v=gUSGPxkL5lc

Ini review kisahnya:
https://mangreview.com/2016/putrireview/kisah-nyata-perjuangan-pengidap-lupus-dalam-novel-728-hari-karya-djono-w-oesman/

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda