Berhenti dari Radar Malang, Ikut Jejak Aqua Dwipayana

Irham Thoriq (paling kiri), bersama Cowaser Dono Sumarwoto (paling kanan) dan Nyonya Dono (tengah).

COWASJP.COM – Tempat kerja adalah tempat belajar. Inilah yang saya dapat dari Jawa Pos Radar Malang, selama kurang lebih tujuh tahun. Ada banyak ilmu, jaringan, dan pengalaman yang saya peroleh, yang rasa-rasanya sulit saya dapatkan di tempat yang lain. 

Mula-mula, saya menjadi calon wartawan. Saat saya diterima pada 2012 lalu, saya belum lulus kuliah. Sebagai mahasiswa semester akhir, tentu saja bangga bisa bekerja di media terbesar di Malang Raya. Apalagi, sejak MTS (setara SMP-pen), Radar Malang adalah bacaan saya hampir setiap hari. Pesantren tempat saya nyantri, hanya langganan satu koran, yakni Jawa Pos Radar Malang. 

Saking bangganya, di awal-awal kerja saya memilih bolos ujian akhir semester (UAS), karena pada waktu yang bersamaan harus wawancara cover story di Bululawang, Kabupaten Malang. Untungnya, dosen saya mentolerir, saya diminta ikut (UAS) susulan, dan akhirnya saya lulus mata kuliah itu. Beberapa bulan kemudian, saya lulus kuliah. 

Setelah lulus, saya tetap di Radar Malang. Tak hanya mencari uang untuk hidup, tapi juga mencari ilmu. Setelah kurang lebih 4 tahun jadi wartawan, saya diangkat menjadi asisten redaktur. Karena beberapa kesalahan dalam editing, saya sempat diturunkan lagi jadi wartawan. 

Momen inilah yang menguji mental saya. Sekitar dua bulan jadi wartawan, saya kembali jadi asisten redaktur. Tak lama setelah itu, saya diangkat jadi redaktur.

Pada Januari 2017, saya diangkat menjadi Koordinator liputan. Di redaksi, posisi ini penting karena bertugas mengatur wartawan, mendistribusikan tugas peliputan, hingga menjadwalkan libur wartawan. 

Selalu Belajar di Setiap Posisi

Pada sejumlah posisi yang saya emban itu, saya banyak belajar. Saat menjadi wartawan, saya belajar berkomunikasi, lobi, menulis, hingga membangun jaringan.

Ketika menjadi redaktur, saya belajar sedikit manajerial dan cara editing yang benar. Saat menjadi koordinator liputan, saya belajar memimpin dan mengatur orang. 

Namanya belajar, tentu ada waktunya untuk lulus. Rabu kemarin (2/1/2019) merupakan hari terakhir saya ngantor di Radar Malang. Ini setelah saya mengajukan surat berhenti persis satu bulan yang lalu. 

Sudah tujuh tahun saya bekerja di tempat ini. Tentu ada rasa sedih dan haru. 

Tapi, sebisa mungkin tidak ada air mata yang menetes ketika itu. Saya mencoba ceria dengan foto-foto bersama teman-teman yang masih setia bekerja di koran itu, meski sebenarnya ada rasa sakit tapi tidak berdarah... Hehehe... 

Dalam hidup, saya kira, momen berhenti kerja dari satu perusahaan adalah salah satu peristiwa terpenting. Tak hanya ada keharuan, tapi harus ada rasa keikhlasan dan sikap yang tawakal. 

Ya, karena setelah berhenti kerja, atasan kita satu-satunya hanya ALLAH SWT. Tidak ada lagi gaji bulanan, tapi saya selalu yakin rezeki ALLAH SWT akan terus mengalir kepada hambanya yang bekerja keras, dan tak lupa berdoa. 

Begitu pentingnya momen berhenti kerja inilah sehingga saya berencana menerbitkan buku tentang ini. Isinya antara lain kapan waktu yang tepat dan apa saja yang perlu dipersiapkan. Bukunya nanti bisa menjadi panduan bagi kaum milenial, yang katanya suka gonta-ganti pekerjaan. 

Terpilih sebagai Mitra Kumparan.com

Setelah tidak lagi di Radar Malang banyak rencana yang akan saya lakukan. Alhamdulillah saya terpilih sebagai mitra kumparan.com untuk mendirikan media online di Malang Raya. Se-Indonesia, total ada 25 anak muda yang terpilih, dari sekitar 1700 pendaftar. 

Kepercayaan dari kumparan ini tentu harus dimaksimalkan sebaik mungkin, sebagaimana saya memaksimalkan kesempatan menjadi karyawan selama tujuh tahun di Radar Malang. 

irkham1.jpgKurniawan Mohammad (paling kanan), GM Radar Malang. Foto: Fransiscus Eko.wordpress​

Saya selalu yakin, setiap kesempatan harus dioptimalkan karena tidak terulang dua kali. Sayang sekali jika disia-siakan.

Selain di media lokal rintisan itu, saat ini saya aktif di dua usaha yang saya dan beberapa teman dirikan. Pertama adalah penerbit buku kota tua, dan kedua CV Kreasindo, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang advertising, Event Organiser dan aneka rupa pelatihan jurnalistik. 

Aqua Membuktikan Kualitas Hidupnya Jauh Lebih Baik

Meski baru, alhamdulillah dua unit usaha ini berkembang pesat dan cukup menjanjikan. 
Sebagaimana saat di Radar Malang, pada aneka rupa usaha yang dirintis itu, saya sejatinya tidak hanya sedang mencari uang, tapi juga sedang belajar. 

Tapi bedanya, di perusahaan rintisan, atasan saya satu-satunya hanya ALLAH SWT. Ini sesuai dengan ajaran  motivator nasional yang juga guru saya Aqua Dwipayana, yakni nikmatnya hidup jika kita hanya punya satu atasan yaitu ALLAH SWT.

Sekitar 14 tahun - setelah berhenti kerja dari Semen Cibinong (sekarang namanya Holcim Indonesia-pen) pada 2005 - Aqua telah membuktikan bahwa kualitas hidupnya jauh lebih baik, tenang, nyaman, dan bahagia lahir batin dengan memiliki atasan satu-satunya hanya ALLAH SWT. Selain itu dari sisi materi tidak pernah kekurangan. Bahkan aktivitas sosialnya makin meningkat di antaranya sebagian dari hasil penjualan buku super best seller The Power of Silaturahim: Rahasia Sukses Menjalin Komunikasi karyanya Aqua telah membiayai umrah sebanyak 74 orang. Insya ALLAH tahun ini diberangkatkan lagi ke Tanah Suci sebanyak 50 orang.

Selain itu, relasi Aqua semakin luas. Levelnya mulai dari bawah, menengah, hingga atas yang tinggal di berbagai wilayah di Indonesia dan mancanegara. Mereka semua respek sekali sama pakar Komunikasi itu.

Selama belasan tahun dengan berusaha secara optimal agar hatinya bersih, komunikasinya baik ke semua orang, dan selalu berpikir positif, serta konsisten dan intens silaturahim tanpa pamrih ke banyak orang, Aqua telah membuktikan bahwa atasan satu-satunya hanya ALLAH SWT adalah yang terbaik. Dirinya jadi bebas dan merdeka.

Kondisi ini diperkuat dengan ketegasan sikapnya yang melihat semua manusia secara universal. Dengan begitu Aqua sama sekali tidak terpengaruh dengan jabatan, pangkat, kecerdasan, kekayaan, dan hal-hal duniawi lainnya yang dimiliki orang lain. Bapak dua anak ini sangat yakin bahwa semua itu titipan dari ALLAH SWT yang sewaktu-waktu akan diambil pemiliknya dan diminta pertanggungjawaban pada setiap orang yg menerima titipan itu.

Dengan keyakinan yang kuat dan langkah yang mantap serta terus-menerus belajar pada Aqua dan banyak orang yang atasannya hanya ALLAH SWT, saya optimis kualitas hidup saya akan lebih baik lagi. Aamiin ya robbal aalamiin...

Salam...(*)

* Penulis: Irham Thoriq, praktisi perbukuan dan terpilih dalam program mendirikan start up media online yang diselenggarakan oleh kumparan.com.

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda