Ulang Tahun Teater Alam ke-47

Melacak Jejak Sumber Kreativitas, Membangun Nilai-Nilai Kebangsaan

Dari kiri: Azwar AN (pendiri Teater Alam), Prof Dr Yudiaryani, MA (pidato kebudayaan), Memet Chairul Saleh (penata musik), dan Jemek Supardi (pantomimer Teater Alam). (foto: bambang wartoyo)

COWASJP.COM – "Proses kreatif bersumber pada lingkungan kebudayaan yang inspiratif, yang menjelaskan bagaimana seharusnya seniman yang ikhlas menyerahkan diri pada proses. Ibarat pejalan tanpa henti, para praktisi dihadapkan dengan fakta bahwa keterampilan mengungkapkan sesuatu yang lebih langsung dapat dikenali daripada yang sekadar dikatakan dan dituliskan...Begitu menggetarkan ruang hidup yang dijalani seniman kreatif. Penciptaan karya seni tidak lagi diperuntukkan sebagai ungkapan estetis seniman semata. Namun, sudah merambah ke wilayah pemanfaatan bagi zamannya. Seniman tidak sekadar pejalan, tetapi juga pengamat yang handal terhadap lingkungannya. Segala hal yang terjadi di masyarakat dan yang hampir tidak pernah menjadi pengamatan masyarakat, mendapat tempat terhormat dalam proses kreatif seniman. 

Dari titik inilah seniman mendudukkan dirinya  menjadi pemegang nilai-nilai penjuru bagi masyarakatnya."

Paragraf di atas merupakan petikan Pidato Kebudayaan yang akan disampaikan oleh Prof. Dr. Hj. Yudiaryani, MA. Mengedepankan judul “Melacak Jejak Sumber Kreativitas Seni Membangun Nilai-Nilai Kebangsaan Indonesia” yang akan disampaikan pada malam puncak acara peringatan Ulang Tahun Teater Alam ke 47, Kamis 3 Januari 2019, di Gedung Societet Taman Budaya Yogyakarta.

Lima peristiwa penting yang tercatat dalam pidato kebudayaan menunjukkan  bagaimana sumber-sumber kreativitas seniman yang terekam melalui magi dan upacara teater primitif, karya cipta seni, rasa kebangsaan, ketahanan global, dan bonus demografi menjadi “ruang hidup” yang bergejolak yang memberi sumbangan penting bagi terciptanya nilai-nilai kebangsaan Indonesia. Pergeseran paradigma Pendidikan Nasional menjadi medan pertempuran antara pembelajaran tradisi dan modern, antara lokal dan global. Praksis Baru Pendidikan Nasional guna Menyongsong 100 Tahun Merdeka (1945-2045), yaitu berbasis pada kebudayaan multikultural yang bertujuan agar melahirkan sumber daya manusia yang memiliki kreativitas dan toleransi tinggi; mencerdaskan, mensejahterakan, dan melindungi bangsa, serta ikut menertibkan dunia. 

Sebelum acara Pidato Kebudayaan akan didahului dengan peluncuran buku Trilogi Teater Alam yang telah selesai penyusunannya sejak Agustus 2018 lalu.  Juga pertunjukan pantomime oleh Jemek Supardi dan penampilan musik oleh Dr. Chaerul Slamet atau Memet CS. Selain juga pemotongan tumpeng dan doa syukur para anggota Teater Alam atas semua barokah yang telah diberikan Allah SWT kepada Bang Azwar AN selaku pendiri dan guru besar Teater Alam.
Menurut Ketua Penyelenggaran, Edo Nur Cahyo, prosesi perayaan Ulang Tahun Teater Alam ke-47 kali ini, meliputi tiga kegiatan yang berurutan. Agenda Pertama, Sabtu 8 Desember 2018 di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta pementasan Monserrat karya Emmanuel Robles yang disutradarai Puntung CM Pudjadi. Kegiatan kedua, penyusunan buku Trilogi Teater Alam dengan penyunting Roso Daras dan Yudiaryani telah didiskusikan dalam bedah buku pada Minggu 23 Desember 2018 di Amphi Teater Taman Budaya Yogyakarta. Meskipun belum seluruhnya sempurna, buku Trilogi Teater Alam ini diharapkan dapat menjadi proses literasi bagi khalayak banyak, khususnya para peminat seni budaya dan seni teater. Agenda ketiga, Sebagai puncak acara perayaan Ulang Tahun Teater Alam ke 47, diselenggarakanlah Pidato Kebudayaan yang akan disampaikan oleh anggota Teater Alam yang juga sebagai Dekan Fakultas Seni Pertunjukan (FSP) ISI Yogyakarta, Guru Besar Prof. Dr. Hj. Yudiaryani, MA., dengan tema: “Melacak Jejak Sumber Kreativitas Seni Membangun Nilai-Nilai Kebangsaan Indonesia”. 

Menurut Bambang Jepe, sebagai ketua tim kreatif Ultah Teater Alam ke-47, bahwa Peringatan ulang tahun Teater Alam ke- 47 ini diharapkan memberi perspektif persoalan Kebudayaan dan Peradaban yang tengah berlangsung. Di titik inilah Teater Alam sebagai sebuah kelompok atau sanggar yang telah bertahan selama 47 tahun, ingin mencoba memberi sentuhan tersendiri pada ulang tahunnya. Tidak saja dengan pementasan teater untuk terus mengasah kreativitas penciptaan, tetapi juga Teater Alam menerbitkan buku sebagai bagian integral proses literasi untuk mengembangkan pengetahuan yang tidak saja tertulis dalam sejarah perjalanannya. Tetapi lebih utama daripada itu adalah untuk memacu langkah maju menapaki masa depan yang lebih baik. *

Pewarta : Roso Daras
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda