Mengangkat Fabel, Lu-Bangdul Berliterasi

Suasana Lomba Penulisan Fabel di Lu-Bangdul. (FOTO: Santoso)

COWASJP.COMBanyak cara untuk meningkatkan giat literasi di sekolah, termasuk juga di SDN 03 Nambangan Kidul (Lu-Bangdul), Madiun.  Kala memperingati Hari Pahlawan sekaligus Bulan Bahasa, SD ini menggelar lomba penulisan fabel. Berikut laporan Santoso alias Akung Bondet, wartawan senior di Madiun yang menjadi salah satu juri lomba itu.

***

SEJAK jam 08.00 Rabu 2 Nopember 2022 lalu, 12 siswa mewakili kelas 5 dan 6 sudah asyik memencet tuts-tuts keyboard komputer. Di ruang komputer sekolah itu, mereka mengikuti lomba menulis cerita fabel. Meski sudah diberi waktu 1,5 jam, namun ternyata sebagian besar sudah menyelesaikan tulisannya sebelum waktu yang ditentukan selesai.

Sebagai penulis sekaligus pegiat literasi,  secara jujur saya mengakui, bahwa  hasil karya mereka sungguh tak bisa dipandang sebelah mata. Kalau toh ada kekurangan, masih dalam tataran wajar. Maklum mereka masih  di pendidikan dasar. Tapi dari struktur kalimat, karya mereka tak seperti siswa SD. Runtut, lincah dan sekaligus diberi kesimpulan apa yang bisa dipetik dalam kisah yang ditulis itu.

Menurut Kepala SDN 03 Nambangan Kidul, Madiun, Ibu Martini SPd, MPd, sejak di kelas bawah 1 – 3, siswa sudah dikenalkan dengan kehidupan binatang di sekitarnya.  Misalnya kupu dan semut. Dari pengamatan, siswa ditugasi guru untuk menuliskannya dalam bentuk laporan singkat.

Bahkan sebelum saya terserang stroke, saya pun mengajar ekskul jurnalistik di sekolah itu. Ekskul ini memang untuk memberi dasar-dasar penulisan kepada siswa. Dan apa yang dilakukan Lu-Bangdul ini, sejalan dengan amanat Wali Kota Madiun H Maidi. 

Dalam acara Hari Kunjung Perpustakaan beberapa waktu, Pak Maidi memberi amanat kepada para kepala sekolah pendidikan dasar, agar tak segan-segan memberikan reward kepada siswa yang giat berliterasi baca tulis.

‘’Bisa dibelikan sepatu, atau tas sekolah agar mereka semakin giat berliterasi,’’ tandasnya.

lomba-menulis.jpg1.jpgPenulis (nomor 5 dari kiri) sebagai juri bersama para pemenang lomba.(FOTO: istimewa)

Di Lu-Bangdul ternyata tak hanya siswa yang diminta  bergiat literasi. Tapi juga guru dan karyawannya. Setidaknya sudah ada satu buku kumpulan karya guru dan karyawan yang diterbitkan. Termasuk Bu Martini sendiri juga ikut menulis. Pun juga satu buku karya siswa telah diterbitkan. 

‘’Hasil lomba penulisan fabel ini nanti juga akan kami bukukan,’’ kata Bu Martini. Kalau toh ada yang kurang, dua buku yang diterbitkan itu tidak ada judul spesifiknya.

Tak hanya itu, Lu-Bangdul juga mengirimkan seorang penulis cilik untuk mengikuti Kelas Menulis yang diselenggarakan oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Madiun. Dia adalah Chayara Alima Salsabila. Ia harus bersaing dengan peserta lainnya yang rata-rata guru dan bergelar S1, bahkan ada kepala sekolah yang ikut bergelar S2. Termasuk Bu Martini kepala sekolahnya Chayara.

Sebagai instruktur di Kelas Menulis itu, saya sempat bingung juga lantaran pesertanya sangat majemuk. Khususnya dalam rentang pendidikannya. Ada siswa SD, ada yang bergelar S1 dn S2, ada presenter, guru bahkan kepala sekolah.

lomba-menulis.jpg1.jpg2.jpgKepala SDN 03 Nambangan Kidul Martini SPd, MPd. (FOTO: Santoso)

Tapi saya acungi jempol buat Chayara. Ia PD aje.  Ia sempat mengalahkan kepala sekolahnya sendiri. Kalau Bu Martini hanya bisa menurunkan satu tulisan, maka Chayara justru 2 tulisan. 

Karena itulah dalam launching buku itu, Chayara sebagai penulis cilik dapat kehormatan menerima buku itu dari Wali Kota Madiun H. Maidi. Saya sendiri sebagai instruktur malah belum dapat. Masih ada kendala untuk mendapatkan ISBN kayaknya hehehe.

Dan dalam Lomba Penulisan Fabel itu, yang berhasil merebut juara 1 Nayla Putri Nur, Berlian Cahaya, dan Shava Putri sebagai juara 2 dan 3. (*)

Pewarta : -
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda