Denda Tilang Paling Murah di Dunia

Tofan Mahdi dan Arif Novantadi (penulis, kanan)

COWASJP.COM – Seperti biasa. Jika masih seputar Bogor. Mencari alamat, saya naik motor. Setelah tahu alamat, baru saya datangi naik Mercy. Jika lain hari berkunjung lagi. 

Sabtu, 8 Agustus lalu saya ke Cileungsi, Kabupaten Bogor. Seorang kawan asal Solok, Sumatera Barat. Dosen S2 ini punya penghasilan lain. Sebagai eksporter buah dan produk pertanian. Ekspornya ke beberapa negara. Arab Saudi, Malaysia, Singapura, hingga Brazilia. 

Nama dia pendek saja. Mursyid. Dia duda yang ‘’menghasilkan’’ dua janda sekaligus. Dia memilih menjadi duda agar dua wanita tadi tidak lagi ‘’berperang.’’ Saling berebut dirinya. Soal ini pasti menarik. Bisa jadi cerita tersendiri. Yang pasti, kini dia hidup sorangan wae. Meski prestasinya dasyat. 

Dia cerita kini tinggal di rumah baru. Sampai hari ini tinggal di rumah itu belum setengah bulan. 

Mencari alamatnya ternyata gampang saja. Naik motor, alamat dia lebih mudah dicari. ‘’Ketemu juga ya akhirnya. Terima kasih Pak Arif mau berkunjung. Anda tamu saya pertama,’’ katanya dengan senang. Padahal, saya kenal dia baru dua minggu lalu. Membahas soal kemungkinan ekspor minuman relaksasi yang pertama di dunia hasil produksiku, merek PalaBoo®. Dia punya jaringan marketing internasional. Sampel PalaBoo® sudah diterima di Brazil dan Arab Saudi. Ada prospek cerah. Insya Allah segera terwujud.

Yang tidak kalah menarik justru perjalanan pulangnya. Sebuah peristiwa terjadi di perempatan Kedunghalang, Kota Bogor. Saya perhatikan traffict light. Dari jauh sudah kelihatan berkedip-kedip lampu kuning. Dari hijau hendak menyala merah. Biasanya saya langsung siap-siap berhenti. Tapi terdengar dengungan mesin mobil yang keras. Tampaknya ngebut. Saya lihat dari kaca spion. O iya, terlihat mobil Toyota Kijang berjalan kencang. Ngebut. Pasti akan ngeblas.

Ada tiga motor menghindar. Agar tidak ditabrak mobil ngebut tersebut. Saya menghindar ke kiri. Jelas melewati lampu merah yang sedang menyala. Lumayan. Ada sekitar lima meter. Saya berjalan perlahan. Lalu berhenti. Terlihat seorang polisi berlari. Eee… mengambil kunci motorku. Dua motor lainnya ngeblas. Ngebut menghindari cegatan polisi. Apa boleh buat. Hanya saya yang akhirnya dihentikan polisi.

Polisi itu terus berlari. Mengejar dan memberhentikan mobil Kijang. Mobil itu ngebut karena mengejar lampu merah. Pastilah melanggar. Mobil itu ditumpangi sepasang anak muda keturunan. Pria dan wanita. Karena ngebut, mobil itu disuruh belok kanan. Dan, diminta berhenti juga. Surat-surat diminta polisi. Mereka digelandang menuju pos polisi yang ada di bawah jembatan layang perempatan itu. Polisi itu juga mengajak saya untuk mengikutinya.

Tidak banyak omong. Polisi menulis surat tilang. Papan nama di bajunya agak tersembunyi. Tidak kelihatan namanya. Saat menulis surat tilang itulah saya sodori Kartu Pers CoWasJP.com. Pada kartu itu nama saya tertulis sebagai jurnalis. Kartu pers itu dibaca Pak Polisi. ‘’Waduh Pak, kenapa tidak dari tadi. Terus bagaimana ini, tilangnya sudah saya tulis,’’ kata Pak Polisi.

‘’Tadi itu saya nyari-nyari di tas. Eh, sekarang ketemu,’’ jawabku.

nov1.jpg

‘’Terus bagaimana ini? Sudah keburu saya tulis begini,’’ kata Pak Polisi. Saya lihat, dia sudah menulis di kertas tilang begini: ‘’Arif No’’. Tulisan nama saya belum lengkap. Sebenarnya dicoret bisa saja. Lalu ditulis ulang atas nama pelanggar lalulintas berikutnya. Tapi?

‘’Ya terserah Bapak saja,’’ kataku.

‘’Kenapa tidak dari tadi menunjukkan kartunya, Pak?’’ dia berkilah.

Saya lirik kedua orang penumpang mobil Kijang. Terlihat diam. Memperhatikan dengan cermat. Sambil berusaha membaca kartu saya. Tingkahnya jelas: melongok. Posisi badannya memang lebih rendah daripada meja polisi.

‘’Tadi saya kira Bapak menulis buat pelanggar yang lebih dulu diminta datanya. Baru saya. Eeee ternyata saya ditulis duluan.’’

‘’Sudah keburu ditulis begini. Bagaimana?’’

‘’Saya sudah bilang terserah Bapak kan?’’ Beberapa saat, Pak Polisi tampak bingung. Dia memang berhenti menulis. Pola pikirnya, ternyata cerdas. Dia bilang, ‘’Ya sudah begini saja Pak. Nanti Pak Arif langsung ambil di Bagian Tilang. Bilang, tinggal ambil saja.’’

‘’Kantor mana, Pak?’’

‘’Kantor polisi Kedunghalang. Bagaimana?’’

‘’Siap, Pak’’.

Saya menjawab begitu karena sedang diperhatikan pelanggar bermobil Kijang tadi. Dua orang pria-wanita keturunan. Saya juga ingin memberikan contoh sebagai warga negara yang baik. Patuh hukum. Taat petugas hukum. Walau pun saya menjelaskan masalah yang benar, saya pikir nantinya malah berbantahan. Walau sebenarnya saya hanya menghindar bencana. Meski akibatnya melanggar lampu merah yang menyala. 

Setelah menunjukkan kartu pers, lalu saya dibebaskan? Yaaaa… kasihan dua orang yang tadi. Ntar dikira saya ‘’orang sakti.’’ Saya serahkan saja kebijakan Pak Polisi. Saya pasrah dengan penegakan hukum yang berlaku. Ikhlas. Tulus. Benar-benar total pasrah Gusti Allah. Apalagi, sudah dikatakan: ‘’Bilang tinggal ambil saja.’’ Saya berpikir sederhana.

Setelah peristiwa itu. Eeee… saya lupa kejadian itu. Pagi usai Subuh di hari Rabu buka-buka tas. Koq ada lembaran biru. Saya buka. Ya Allah, surat tilang. Baru ingat empat hari lalu saya punya masalah. Sekitar pukul 11.00 saya datangi Kantor Polisi Kedunghalang. Yang saya cari Kepala Bagian SIM terlebih dahulu. Beliau lah yang dulu pernah membantu saya mendapatkan SIM C sekaligus SIM A. Sebenarnya pingin mutasi. Dari SIM A menjadi SIM B2. Dulu karena saya bersiap punya mobil bersyarat SIM yang cocok dan sesuai. Minimal 3.000 cc itu SIM-nya di kelas B2. 

Dulu di Surabaya pernah punya SIM B2. Saat itu karena punya dua buah truck engkel. Masing-masing 4.000 cc. Punya truck, masa nggak punya SIM B2-nya? Usai minta pensiun dini sebagai wartawan Jawa Pos, masih tiga tahun lagi saya tinggal di Surabaya. Belum hijrah ke Kota Bogor. Saat itu punya usaha sanitary napskin. Dipasarkan se-wilayah kekuasaanku: Indonesia Bagian Timur. Pabriknya di Pandaan, Pasuruan. Merek Ramisoft. Ya pembalut wanita. Prosesnya makloon. Keuntungannya wow banget. Keuntungan bersihnya, bisa beli tunai truck engkel tiap bulan.

Hari Rabu (12 Desember) saya datangi Kantor Polisi Kedunghalang. Seperti dikatakan Pak Polisi tadi (entah lupa nama polisi yang menilang saya), saya bilang: ‘’Kata Pak Polisi yang menilang saya, tinggal ambil saja.’’ Tanpa banyak kata, diproses oleh petugas bernama Agus. Saya baca di nametag-nya. Pak Polisi Agus agak bingung. Meski sebelumnya sempat menanyakan bukti bayar denda. Denda via transfer BRI. Saya tetap bersikukuh, bahwa polisi penilang saya menyuruh bilang: ‘’Tinggal ambil saja.’’ Saya tunjukkan Kartu Pers CoWasJP.com lengkap dengan kalungnya.

Tampaknya perlu didiskusikan dulu dengan pimpinannya. Berkas tilang beserta SIM C-saya dibawa masuk. Beberapa menit. Begitu keluar, Pak Agus bilang bahwa saya harus bayar denda. Saya katakan, ‘’Oke Pak. Nanti saya juga akan lengkapi kronologi kejadiannya. Agar adil dan Pak Komandan memahami persis peristiwanya. Saya membayar denda yang muncul karena saya menghindari kecelakaan. Juga ada dua motor lain yang menghindar. Cuma saya yang ditilang. Toh penyebabnya juga ditilang. Itu saya jadikan bukti.’’

‘’Sebentar, Pak,’’ Pak Polisi Agus masuk ke dalam lagi. Mungkin berupaya diskusi dengan koleganya atau pimpinannya. Saya tidak tahu. Pak Polisi Agus juga tidak bercerita apa-apa tentang peristiwa itu. Sementara, suara adzan sholat Dhuhur sedang berkumandang di masjid Kantor Polisi itu. Saya bingung. Saya tinggal dulu untuk sholat berjamaah di masjid? Atau, tetap saya bereskan dulu urusan ini? Apalagi, ada seorang petugas yang sudah mengunci pintu ruangan. Tiba waktu istirahat dari terima tamu.

Tidak lama, Pak Polisi Agus keluar. ‘’Begini, Pak. Sekarang terserah Bapak. Bisa memilih. Bayar denda melalui BRI atau memfotocopy kartu pers-nya ini lalu serahkan saya?’’ katanya.

Jika membayar denda via BRI, tentu lebih repot. Saya tidak punya kartu ATM BRI. Kantor bank saya jauh dari Kantor Polisi ini. Semua kartu ATM saya saat ini semuanya dari bank syariah. Saya sudah menutup rekening di semua bank konvesional. Karena serba keterbatasan itu, saya memilih meng-copy kartu pers saja. ‘’Karena pintu sudah dikunci, maukah Pak Agus menunggu saya? Saya meng-copy dulu kartu ini,’’ kataku.

Oleh petugas saya dibukakan pintu. Secepatnya saya foto copy kartu pers itu. Kebetulan tukang foto copy-nya dekat. Masih disekitaran Kantor Polisi Kedunghalang. Sial. Toko foto copy-nya tutup karena jam istirahat. Toko sebelah memberi tahu bahwa ada tukang foto copy lagi di belakang sana. Saya jalan cepat menuju ke sana. Sekitar 200 meter dari Kantor Polisi. Agak jauh. Oh iya, benar ada. Penjaganya seorang ibu. Ongkosnya selembar hanya Rp 500 saja. Murah. 

Tetap harus ada usaha ekstra untuk urusan tilang ini. Ternyata benar. Begitu lembaran foto copy itu saya serahkan, saya juga menerima SIM saya Dari Pak Polisi Agus. Seperti nggak percaya. Berkali-kali saya ucapkan terima kasih. Saya salami Pak Polisi Agus itu. Senang hatiku. Bahagia rasanya. Lega juga akhirnya. Plong tiada lagi beban pikiran. Semuanya beres tanpa beban apa-apa lagi bagiku.

Usai mendapatkan kembali SIM, bergegas saya menuju masjid. Jaraknnya cukup dekat. Mungkin hanya 50 meter saja. Saat membuka keran air untuk berwudlu, seraya terdengar suara panggilan sholat bersama. Saya masih bisa mengejar waktu sholat Dhuhur berjamaah di masjid itu. Alhamdulillah. Puji syukur saya sampaikan ke hadlirat Allah SWT. Ber-dzikir agak lama di masjid usai sholat wajibnya. Bersyukur banget tidak bertele-tele. Terima kasih ya, Allah.

Jika disebut ‘’denda’’, pasti inilah saya tunjukkan bukti ada denda paling murah di dunia. Hanya 500 rupiah saja. Hanya separo dari seribu rupiah. Dari peristiwa ini saya menjadi sangat meyakini bahwa polisi itu masih bersahabat akrab dengan wartawan. Bersahabat sangat erat. Saya ada bukti nyata. Saya punya fakta yang membuktikan itu. Terima kasih Sahabatku dan semua wartawan/jurnalis: Polisi. Berarti, saya juga masih membuktikan sendiri, bahwa: Kartu Pers CoWasJP.com itu masih juga KARTU SAKTI. Heee…(*)

Pewarta : Arif Novantadi
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda