“Montserrat” Tandai Kebangkitan Teater Alam

Sutradara Puntung CM Pudjadi (rompi merah) saat latihan di TBY tadi malam. (FOTO: Bambang Wartoyo)

COWASJP.COM – Cukup lama teaterawan gaek Yogyakarta, Azwar AN distigma sebagai pengikut Bengkel Teater. Cukup lama publik baru sadar, bahwa Azwar AN memang tidak bisa dipisahkan dengan Bengkel Teater, sebab ia pun termasuk pendiri Bengkel Teater bersma Rendra pada tahun 1967. 

Ia keluar dari Bengkel tahun 1970 karena ada prinsip yang tidak lagi bisa disatugariskan.

Meski begitu, Rendra sangat mencintai Azwar, begitu pula sebaliknya. Rendra bahkan secara khusus mencipta naskah berjudul “Dunia Azwar”. Beda prinsip keduanya, mirip-mirip Bung Karno dan Bung Hatta, yang meski akhirnya tidak berjalan-seiring, tetapi keduanya saling respek dan berhubungan baik hingga maut memisahkan mereka.

Lepas dari Bengkel teater akhir tahun 1970, beberapa hari kemudian, tepatnya 4 Januari 1971, Azwar mendirikan Teater Alam. Setelah itu, Bengkel Teater dan Teater Alam pun menjadi barometer teater modern Indonesia. 

Montserrat-2.jpgLatihan "Montserrat" oleh Teater Alam, yang akan pentas 8 Desember 2018 di Concert Hall, TBY. (FOTO: Bambang Wartoyo)

Karya-karya pementasan mereka di Jakarta (TIM) maupun di Yogyakarta, selalu menjadi sorotan pers nasional. Semua kritikus teater wajib nonton dan meresensi karya kedua kelompok teater itu, jika tidak ingin dibilang out of date.

Kisah pun berlalu. Bengkel Teater lama vacum karena Rendra “dicekal” rezim Orde Baru. Beruntung,  Teater Alam tetap eksis dan produktif. Bahkan, ketika akhirnya Bengkel Teater tak lagi terdengar kabar-beritanya, terlebih menyusul wafatnya Rendra, Azwar AN dengan Teater Alam-nya terus berusaha eksis di tengah pasang surut perteateran di Tanah Air.

Nah, 4 Januari 2019, Teater Alam lekas memasuki usia yang ke-48. Untuk merayakannya, anggota sanggar yang sudah berserak dan tersebar, kembali berkumpul untuk membuat “sesuatu”. Diawali oleh sebuah inisiatif kecil pembuatan Whats App Group (WAG), dan segera saja terkumpul lebih dari 60 orang. Sebagian lainnya, terjalin melalui komunikasi sms atau telepon langsung. Maklumlah, aktor kawakan seperti Meritz Hindra dan Yono Gandem misalnya, merasa nyaman dengan HP jadul yang hanya bisa ber-sms.

Rasa rindu yang membuncah dari anggota yang sudah tersebar di berbagai kota dengan profesi yang beragam, akhirnya diwadahi melalui kegiatan “Kangen-kangenan Karo Bang Azwar”, sebelum Ramadhan lalu. Lesehan di tengah jalan depan rumah Azwar AN di Wirokerten, Banguntapan, Bantul siang itu melahirkan kesepakatan untuk “pentas reuni”.

Sambil mematangkan rencana, tibalah pertemuan besar berikutnya, yakni halal bihalal, 24 Juni 2018 di Societet, Taman Budaya Yogyakarta (TBY). Hadir para anggota Teater Alam, baik yang ada di Yogyakarta maupun dari luar kota. Gagasan makin mengerucut. Tidak hanya pementasan teater, tetapi juga terbersit usul penerbitan Teater Alam.

Lahirlah dua kepanitiaan kecil, untuk membidangi pementasan dan penerbitan buku. Tak lama setelah itu, terbentuk tim kerja. Panitia pementasan menunjuk Puntung CM Pudjadi sebagai sutradara, dibantu dua astrada Meritz Hindra dan Daru Maheldaswara. Puntung memilihkan lakon “Montserrat”. Sebuah naskah drama karya Emmanuel Robles yang diterjemahkan Asrul Sani. Puntung menggubah lakon itu untuk keperluan pementasan yang dijadwal 8 Desember 2018 di Concert Hall, Taman Budaya Yogyakarta.

Nyaris semua aktor kawakan Teater Alam ikut bermain dalam lakon drama yang berlatar belakang perjuangan pahlawan Venezuela, Simon Bolivar. Selain menjadi Astrada, aktor angkatan pertama Teater Alam, Meritz Hindra juga turut bermain. Selain Meritz ada nama Gege Hang Andika, Daning Hudoyo, Daru Maheldaswara, Wahyana Giri, Edi Jebeh, Anastasia, Udik Supriyanta, Dinar Saka, dll.

“Dalam keterbatasan waktu, kami menggeber latihan. Beruntung, mereka aktor-aktor kawakan, tidak perlu lagi diajari cara berakting. Jadi saya hanya memikirkan konsep pementasan. Minggu ini mulai penggarapan detail,” ujar Puntung CM Pudjadi, sang sutradara. (*)

Pewarta : Roso Daras
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda