Pasar Tradisional Sepi, Sego Meong Laris Manis

Suasana pasar tradisional Candi Lontar, Kecamatan Sambikerep, Surabaya. (FOTO: Istimewa)

COWASJP.COM – Emak-emak yang mengais rupiah di pasar tradisional Surabaya beberapa minggu ini terasa sepi. Hal serupa juga dialami para pedagang pasar tradisional di Banyuwangi. Para pedagang di kota itu mengeluh. Sepi pembeli saat Caleg DPR-RI Surya Aka Irama dari Partai Amanat Nasional (PAN) ketika menyapa para pedagang di pasar tradisional tersebut. 

Pasar tradisional terasa sepi bukan karena dampak kenaikan nilai dolar terhadap rupiah. Bukan karena menjelang tahun politik, dan bukan juga menjamurnya Mall di beberapa tempat. Berdasarkan pemantauan  CowasJP.com di pasar tradisional sepi karena memang ada faktor yang mempengaruhi.

Pasar-Tradisional-2.jpg

Pada setiap awal bulan, pasar tradisional bisa dipastikan ramai. Apalagi saat hari Sabtu dan Minggu. Ibu rumah tangga memanfaatkan hari-hari itu karena barang dagangan yang dijual cukup banyak variasinya. Bagi mereka yang tinggal di kompleks perumahan ke pasar tanpa mengeluarkan ongkos transpotasi dari rumah ke pasar. Istilahnya bapak-bapak yang libur hari itu jadi “Ojek” dadakan.

Pasar tradisional sepi juga dipengaruhi pedagang sayur keliling. Pedagang yang satu ini menggunakan becak yang dipenuhi segala kebutuhan dapur. Ada yang menggunakan becak, kendaraan roda empat dan sepeda motor. Setelah Subuh mereka sudah keliling kampung menawarkan barang dagangannya. Harga kebutuhan dapur yang dijual  tukang sayur ini tak jauh berbeda kalau belanja ke pasar tradisional. 

Pedagang sayur dan pembeli kini sudah tak ribet lagi untuk membeli bahan masakan yang dibutuhkan. Sore hari, pembeli bisa pesan sayur atau ikan yang dibutuhkan lewat HP. Bagi yang hemat pulsa cukup melalui pesan singkat (SMS) saja. Cara ini pun sekarang sudah dilakukan oleh  pesanan makanan lewat Go-Food. 

Nah, faktor yang satu ini kadang tidak terpikirkan. Ibu rumah tangga jarang ke pasar ketika pertengahan bulan. Uang yang ada diprioritaskan untuk membayar langganan PLN, PDAM dan Gas (kalau ada). Ditambah lagi kalau punya angsuran motor. "Kalau sudah tanggal tua lebih baik beli masakan matang aja lebih ngirit,” kata Ibu Rosida, yang tinggal di kawasan Surabaya Barat.

NASI BUNGKUS MURAH

Pasar-Tradisional-3.jpg

Harga-harga kebutuhan bahan pokok di Surabaya sampai akhir bulan November ini masih relatif stabil. Daya beli masyarakat masih terkendali. Kalaupun ada perbedaan harga bahan pokok dari satu pasar dengan pasar yang lain masih dalam batas wajar. 

Sebagian orang yang datang di  Surabaya menilai bahwa harga-harga makanan di Surabaya masih relatif murah bila dibandingkan dengan kota-kota besar lainnya. Hal ini terlihat dari pedagang makanan ringan sampai penjual nasi di depot atau warung.

Di beberapa tempat masih ada nasi bungkus harga Rp 6.000. Ada lagi Sego Meong yang dikemas bungkus kertas nasi harganya sebungkus Rp 5.000. Menu nasi Meong cukup lumayan. Ada  ayam pedas, Rica-rica sedikit sambal. “Satu bungkus lumayan untuk sarapan,” kata Andri, seorang sopir Gojek.

Sego Meong bisa kita temui di Jalan Darmo Indah. Sego Meong yang dijual  tiap pagi laris manis. Sehari bisa menjual sekitar 100 bungkus termasuk pesanan lewat HP.. Belum lagi kalau ada order pabrik di sekitar pergudangan Jalan  Margomulyo. Menjual sego meong  tidak di depot atau warung. Penjualnya hanya menyediakan sebuah meja besar di depan rumah. Pedagang nasi khas  tersebut memang lokasi rumahnya di jalan strategis. Tiap pagi hingga sore lalu lalang kendaraan lewat di sana cukup ramai.

Di depan meja yang menghadap ke jalan ada banner kecil. Selain sego meong di tempat tersebut juga dijual beberapa jenis menu masakan. 

PASAR UNIK

Pasar-Tradisional-4.jpg

Kota Metropolis Surabaya kini mempunyai 68 pasar tradisional. Dari jumlah tersebut ada yang buka nonstop 24 jam. Pasar tersebut adalah pasar Keputran, Pasar Jagir, Pasar Pabean, Pasar Ampel, Pasar Indrakila. Pemerintah Kota Surabaya rencananya akan membangun 6 pasar baru lagi. Sementara pasar yang ada rencananya akan direvitalisasi menjadi pasar yang unik guna manarik wisatawan. Seperti halnya sebuah pasar di Thailand. 

Pasar tradisional yang sepi dan mengalami kelesuan pada umumnya pasar basah. Sementara pasar tradisional dari tahun ke tahun masih tetap eksis adalah Pasar Blauran yang letaknya di jantung kota.

Pada pagi hari pasar Blauran sebagai pasar basah. Di pasar legendaris bagi warga Surabaya ini juga tersedia barang kelontong termasuk kain, barang eletronik, dan buku-buku. 

Sementara siang hingga malam  pasar tersebut juga jadi pusat pasar kuliner tradisional. Di dalam Pasar Blauran sisi barat dipenuhi pedagang kuliner tradisional khas Surabaya. Ada rujak cingur, tahu campur Lamongan, serta berbagai kue tradisional. 

Pasar tradisional kuliner Blauran  siang dan malam selalu dipadati pengunjung. (*)

Pewarta : K. Sudirman
Editor : Erwan Widyarto
Sumber :

Komentar Anda