The Power Of Silaturahim

Dahsyatnya Jamaah

COWASJP.COM – Suatu hari. Beberapa tahun silam. Badai besar menerpa hidupku. Bisnisku goncang. Hatiku gundah. Perasaanku resah. 

Berbagai ''obat'' kucoba. Tanpa makna. Semua tak mengubah resah yang terus menggelayut. Mengusik qalbku. 

Aneh. Tak biasa hatiku seperti itu. Sebagai ''kutu loncat'' saya sudah biasa diterpa hinaan. Cibiran. Bahkan ancaman yang menyeruak dari teman. Bukan lawan. Semuanya kusikapi biasa-biasa saja. Wajar-wajar saja. Toh....yang penting yakin bahwa sikapku benar dalam pandangan Allah. Itu saja kuncinya.

Sayang. Kala badai ini menerpa....sifat dan sikapku berubah. Tak biasa. Semakin kucoba bersikap wajar,  gundahku makin bertambah. 

Akhirnya...kuikuti nasihat ibuku. ''Sowan ke Pak Yai. Minta nasihat. Semoga segera ketemu obatnya''.

Sontak, saya berangkat ke Pak Yai di Ponorogo. Alhamdulillah...ketemu sekitar pukul 02.15. Setelah menghaturkan salam ta'dzim, mulutku langsung nerocos. Tak terbendung. Semua kuceritakan sangat detil. Tanpa rasa risih atau malu sedikitpun.

''Sudah Pak...?'' tanya Pak Yai. Tanpa menunggu jawabanku, beliau langsung menyodorkan secangkir kopi. ''Monggo. Ngopi dulu. Biar nggak tegang''.

Betul sekali. Srupuuut.... Nikmaaaat. Rasa-rasanya kayak sebulan nggak minum kopi. Saya bisa senyum. Kemudian....beliau berkata:

''Gini Pak. Tak kan ada masalah yang dibebankan kepada hamba, melebihi kekuatannya. Itu janji Allah. Tak mungkin Allah ingkar pada janjiNYA.

Kuncinya ada pada diri kita. Persepsi kita. Nafsu kita. Sering kali, musibah yang kita terima terpersepsi sangat besar. Padahal, sebenarnya tidak. Prasangka kitalah yang sering kali membuatnya menjadi besar. Seolah melebihi kekuatan kita. Padahal....itu tak mungkin. Ingat janji Allah tadi''.

Lalu...saya mesti gimana Yai..? 

''Yaaa.....ngopi aja. Jangan sampean buat sulit sendiri. Hidup ini indah. Menjadi tidak indah bila sampean persepsikan runyam. Hidup ini terang benderang. Akan jadi gelap bila sampean persepsikan rumit''.

Saya belum paham Yai...

''Kuncinya begini. Dalam kondisi seperti ini, sampean jangan menyendiri. Keluarlah. Berjamaahlah. Ada kekuatan sangat dahsyat di sana. Ada magnet besar di sana. Bisa jadi....sampean kurang menyadari itu. Ingat....Allah menegaskan itu''.

''Begitukah...Yai...?''.

''Kita ini sering merasa kuat. Pandai. Bahkan....tak jarang kita merasa paling banyak ilmu. Paling ahli. Seolah tak memerlukan orang lain. Ini penyakit. Harus diluruskan dulu. Baru kemudian 'musibah' sampean tadi bisa diobati''.

''Setuju Yai. Lalu....apa obatnya?''.

''Lhoh....kan sudah saya sampaikan. Jamaah. Jangan menyendiri. Jangan sok bisa menuntaskan masalah sendiri. Kita diciptakan sebagai makhluk sosial. Jangan bangga bisa melambung tinggi sendiri.

Lulus Sarjana. Pasca Sarjana. Doktor. Profesor. Semuanya perlu jamaah. Jadikanlah semua keunggulan yang diberikan Allah itu sebagai bekal jadi imam. Itulah jamaah. 

Nggak akan ada imam bila nggak ada makmum. Nggak akan ada jamaah bila nggak ada imam dan makmum. Itu sepaket. Dan....itulah jati diri kita. 

Saya tahu....selama beberapa bulan ini, sampean suka munajat kepada Allah. Bahkan, sering kali meninggalkan jamaah isya'. Alasannya: pingin shalat malam. Padahal....dzuhur, asar, maghrib....sampean sering sibuk. Terpaksa nggak jamaah. Gitu too..?''.

''Betul Yai. Mohon maaf''.

''Monggo...kembalilah kayak dulu. Kapan pun. Di mana pun upayakan jamaah. Tidak hanya urusan shalat. Berdoa pun upayakan jamaah. Karena...dalam jamaah itu Allah akan memberikan kebaikan dalam satu paket. Kita nggak tahu, doa siapa yg mujarab. Tapi...semua anggota jamaah akhirnya kebagian berkahnya. Kita juga nggak tahu....shalat siapa yang diterima Allah. Tapi...dalam jamaah, kita yang banyak dosa ini bisa tertolong oleh jamaah lainnya. Pahaaam.....?''

''Paham Yai....''.

''Mulai hari ini....terapkan itu. Jangan pernah menganggap diri paling top. Dalam semua urusan. Berjamaah dalam shalat dan berdoa adalah cermin hidup kita. Di dalam jamaah ada kekuatan silaturahmi.

Ada kekuatan saling menghargai. Ada kekuatan saling mendukung. Ada kekuatan saling mengisi. Ada kekuatan saling melengkapi. Ada kekuatan berbagi. 

Intinya.....kekuatan itu menyatu menjadi magnet besar yang sangat positif. Besar sekali. Hingga powernya mampu melesat dahsyat menembus sekat-sekat langit. Sampai kepada Allah.

Tanpa jamaah....kita ini apa? Bukan apa2 Pak. Kehebatan fisik? Harta? Bahkan ilmu....juga nggak akan ada maknanya. Sama sekali. Kedahsyatan kita itu diukur Allah dengan: seberapa besar kita memberi manfaat pada sesama. 

Jangan sebaliknya. Kita merasa diri bermanfaat pada pihak lain. Padahal tidak. Lucu kan...?''

''Alhamdulillah....semua sudah jelas Yai.. Plong. Hatiku terasa sejuk lagi. Saya baru sadar bahwa....selama ini saya salah. Saya sering berfikir, dalam kesendirianku Allah akan fokus memberikan kebaikan padaku''.

''Betul memang. Dengan catatan....sampean tidak merasa hebat sendiri. Kehebatan kita diukur dengan kemanfaatan kita bagi orang lain. Begitu sampean merasa lebih hebat dari orang lain....itu musibah besar bagi hati sampean. Iman sampean. Taqwa sampean. 

Kenapa? Dalam kondisi hati seperti itu ..selalu menempatkan pihak lain gak penting. Keciiil. Ujungnya....takabur. Naudzubillah.

Sifat seperti itu sangat bahaya dalam keimanan kita. Bisa melumat amal baik sebesar apa pun yang pernah kita lakukan. 

Ayoooo.....cepatlah kembali ke jalan yang benar. 

Jangan posisikan sahabat sebagai penolong. Berusahalah tampil sebagai penolong sesama. 

Jangan posisikan sahabat sebagai pemberi. Berusahalah jadi pemberi bagi sahabat.

Jangan posisikan sahabat sebagai penopang. Jadilah penopang bagi sahabat kita  Dan....jangan posisikan sahabat sebagai lawan. Jadilah kawan bagi semua sahabat. Dan seterusnya!'.

'Syiaaap Yai. Saya jadi paham sekarang. Bahwa...dalam sebuah jamaah nggak boleh ada yang merasa paling hebat. Dalam sebuah organisasi nggak ada yang boleh merasa diri paling top. Biarkan sahabat kita yang mengukur semua itu.

Itulah hebatnya jamaah. Perkumpulan. Organisasi. Yang benar. Di dalamnya ada uhuwah. Ada silaturahmi. Ada saling menghargai. Saling melengkapi. Saling mengisi. Indah sekali. Soliditas jamaah seperti ini akan melahirkan magnet dahsyat.  Dan....terus menjadi lebih dahsyat lagi. Karena...semua anggota berusaha saling memberi.  Tak ada yang merasa sok paling hebat''.

Alhamdulillah....kini....hatiku lega. Semuanya sudah terobati. Tak lagi ada gundah dan gelisah. 

Dalam perjalanan pulang....terlintas kala jamaah maghrib di mushalla kecil kampungku. Kebetulan saat itu lagi ada acara musyawarah kiyai kampung sekecamatan. Saat iqamah tuntas...para kiyai itu berebut jadi makmum. Nggak ada yang mau jadi imam. Akhirnya.....kiyai kampungku didorong secara ''aklamasi'' maju sebagai imam. Padahal....banyak kiyai kampung lain yang lebih hebat. Tapi...tak satu pun mau maju sebagai imam. ''Shahibul bait lebih baik dari kami semua,'' katanya. 
Wallahu a'lam.

Semoga manfaat. Aamiin. (*)

Pewarta : Darul Farokhi
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda