The Power Of Silaturahim

Kawa Daun di Pojok Baca Bukit Pariangan

Aqua dan Cakfu di Istana Pagaruyung. ( Foto-Foto: Fuad Ariyanto/CoWasJP)

COWASJP.COM – Hamparan sawah nan hijau, rumah kecil model Minang di kejauhan, dan sayup terdengar dendang Minang mendayu-dayu, mewarnai perjalanan menyusuri separo Sumatera Barat (Sumbar) pada 15—19 Oktober 2018. 

Kadang dendang terasa dekat karena Uda Febri Mulyadi sedikit membesarkan volume radio di mobilnya. Uda Mul —begitu biasa kami menyapa— dan Uda Rodini, dua brigadir  polisi Polda Sumbar yang menemani kami memang asli Minang dan menggandrungi lagu-lagu daerahnya.

Sumbar memang negeri nan elok, eksotik. Panorama yang menyejukkan mata, menenangkan hati. Rasanya tak kalah dengan Bali. Pantaslah jika Sumbar banyak melahirkan seniman, penyair, pujangga, maupun novelis berkarakter. Sang Pencipta memberi alam yang indah dengan kontur tanah berbukit-bukit, gunung, danau, dan air yang melimpah.

Tak heran jika di Sumbar terdapat banyak air terjun. Salah satu yang terkenal adalah Air Terjun Lembah Anai. Tak perlu masuk hutan untuk menikmati keindahan air terjun setinggi sekitar 35 meter itu.

cak-fu5.jpgPanorama di desa Pariangan, Tanah Datar.

Sebab, air terjun Lembah Anai persis berada di tepi jalan raya antara Padang ke Padang Panjang atau ke Bukittinggi. Air terjun Lembah Anai berpangkal dari Sungai Batang Lurah yang berhulu di Gunung Singgalang.

Lembah Anai merupakan salah satu dari tujuh air terjun di kawasan cagar alam Lembah Anai. Secara administratif Lembah Anai masuk wilayah Nagari Singgalang, Sepuluh Koto, Kabupaten Tanah Datar.

Dalam perjalanan panjang, istirahat sejenak menikmati keindahan air terjun, rasanya mampu meluruhkan penat sekaligus menyegarkan pikiran. Jika ingin lebih dekat ke air terjun, bisa masuk lewat gapura sederhana dengan membayar tiket yang sangat murah.

cakfu1.jpgPondok Baca di sebelah warung Syafrida.

Di kabupaten Tanah Datar —yang tanahnya berbukit-bukit itu— memang banyak spot-spot apik untuk refreshing atau sekadar selfie. Misalnya, di desa Pariangan, kecamatan Pariangan. 

Di desa kecil itu terdapat bukit dengan panorama amat indah. Ada warung kecil yang menyajikan makanan kecil semisal mie instan, pisang goreng, tempe goreng, kacang, juga kopi, dan teh. Hanya, kopi yang disediakan di sana bukan lah kopi biasa.

''Kopi ini disebut kawa daun'', kata Kapolres Tanah Datar, AKBP H Bayuaji Yudha Praja SH yang menemani kami jalan-jalan ke bukit itu. Kawa diambil dari kata bahasa Arab, kahwa, yang artinya kopi. Warung milik pasangan suami istri Sayuthi-Syafrida itu memang menyajikan minuman dari daun kopi.

Kawasan itu, cerita Kapolres, dulu kala merupakan daerah penghasil kopi. Tapi, semua kopi dikirim ke Belanda oleh penjajah tanpa menyisakan sedikit pun untuk penduduk Pariangan. ''Untuk mengobati kerinduan pada kopi, penduduk memasak daun kopi untuk minuman,'' katanya. Sampai sekarang minuman dari sari daun kopi tetap dilestarikan.

Di seberang warung terdapat beberapa balai-balai bambu. Balai-balai itu, selain untuk tempat menyajikan makanan-minuman, juga untuk melihat panorama di bawahnya yang amat cantik.

Apalagi, sambil menikmati hangatnya kawa daun yang disajikan dalam mangkuk dari batok kelapa. Plus pisang goreng segede telapak tangan dewasa atau tempe goreng selebar buku kwitansi. ''Menikmati pemandangan di sini bisa lupa utang ya…hahaha…Tapi setelah turun, ingat lagi utangnya,'' kelakar Aqua Dwipayana. 

Motivator itu —sebagaimana ditulis sebelumnya-- mendapat tugas dari Kapolda Sumbar Irjen Pol Fakhrizal untuk melakukan Sharing Komunikasi dan Motivasi ke 19 Polres di Sumbar dan tiga sesi di Polda. Selama dua minggu Aqua bersilaturahim dari Polres ke Polres. Refreshing ke Pariangan itu dilakukan setelah sharing di Polres Tanah Datar.

Pada hari-hari tertentu bukit itu penuh pengunjung. Anak-anak juga dewasa. Kadang mereka membawa buku, dibaca di gubug atau gazebo di sebelah warung Sayuthi-Syafrida.
 Hal itu menginspirasi nenek lima cucu itu untuk menyediakan buku bacaan di gubug tersebut. ''Pihak perwalian (kelurahan) memberi lemari kaca itu dan buku-buku,'' katanya.

cak-fu2.jpgAqua menyerahkan buku pada Sayuthi-Syafrida.

Diakui, buku-buku tersebut membuat pengunjung —utamanya yang suka membaca— berlama-lama di warung. ''Banyaklah yang sudah datang ke sini. Rasanya orang se-Asia sudah pernah ke sini,'' ujar perempuan 58 tahun itu lantas tertawa.

Buku-buku yang berada di almari kaca itu tidak banyak dan tampak sudah lusuh. Aqua lantas menyumbang beberapa set buku super best seller The power of Silaturahim: Rahasia Sukses Silaturahim karyanya sendiri dan buku Produktif sampai Mati tulisan Erwan Widyarto. Sebelum meninggalkan bukit, Aqua sempat memberikan salam tempel pada Sayuthi.
 
Jejak Sejarah di Sumbar

Selain panorama yang mempesona, Sumbar juga menyimpan jejak sejarah masa lalu. Antara lain, Istano Basa Pagaruyung, yang terletak di Nagari Pagaruyung, kecamatan Tanjung Emas, Batusangkar, Kabupaten Tanah Datar.

Kapolres H Bayuaji tak melewatkan waktu untuk mengajak tim —saya, Aqua Dwipayana, Febri Mulyadi, dan Rodini— mampir ke istana megah peninggalan Kerajaan Pagaruyung tersebut.

Rumah besar berupa panggung itu kini dibuka untuk umum. Siapa saja bisa jadi ''orang Minang'' dengan menyewa pakaian adat yang disediakan disana. Seperangkat pakaian lengkap dikenakan sekitar Rp 30 ribu—Rp 35 ribu rupiah. Di dalam rumah disediakan titik-titik tempat berfoto.

Istana itu —orang Padang menyebut Istano—merupakan replika karena bangunan aslinya dibakar Belanda pada 1804. Meski begitu, replika tersebut dibangun persis aslinya.

Bangunan megah itu terdiri atas tiga lantai disangga 72 tonggak besar. Ornamen khas Minang menghiasi seluruh dinding dalam rumah besar tersebut. Dalam data Istana itu tercatat dua kali terbakar setelah peristiwa 1804. Yakni, pada 1966 dan 2007. Yang terakhir itu terbakar akibat tersambar petir. Tak lama kemudian Istano itu direnovasi. Kini bangunan tersebut berdiri gagah dengan halaman yang amat luas.

cak-fu3.jpgCakfu, Nia, dan Aqua di Taman Panorama, Bukittinggi.

Jejak sejarah lainnya berlokasi di Bukittinggi, yaitu Lobang Jepang. Lubang dengan dinding semen atau beton, mirip terowongan kereta bawah tanah di London atau subway di New York.

Di Bukittinggi, tim mendapat tambahan anggota, yaitu dua petugas Patwal Polres Bukittinggi yang membawa mobil pengawalan serta seorang Polwan, Bripda Nia Anggraeni. Polwan berwajah manis inilah yang mengantar tim keliling Bukittinggi, termasuk ke Lobang Jepang. Meski tidak memakai pakaian dinas, umumnya warga tahu bahwa Nia seorang polisi. Para petugas di Lobang Jepang sangat hormat pada Nia.

Salah seorang guide yang memandu tim menjelaskan lubang itu ditemukan sekitar awal 1950. Waktu itu pintu lubang hanya sekitar 25 cm dengan kedalaman 65 meter. 

Ketika dibuka untuk umum pada 1984 mulut lubang yang berada di Taman Panorama dibuat lebih nyaman dilalui. Taman Panorama, adalah taman kecil di tengah kota dengan view Ngarai Sianok. Namun, rehabilitasi lubang juga membawa konsekuensi. Dinding-dinding lubang terganggu oleh panel-panel listrik yang dipasang sepanjang lorong. 

cak-fu4.jpgMulut Lobang Jepang.

Tak jauh dari mulut lubang terdapat denah lorong dan ruang-ruang di dalam lubang. Lobang Jepang ini panjang seluruhnya mencapai 5 kilometer lebih. ''Namun, yang dibuka untuk umum hanya sekitar 1,5 kilometer,'' kata guide itu. 

Salah satu lorong Lobang tersebut konon tembus ke Ngarai Sianok. Cerita tentang Lobang Jepang memang selalu dibumbui cerita horror. Alkisah Lobang Jepang dibangun oleh para romusha di luar warga Bukittinggi. Antara lain, dari Jawa, Sulawesi, Kalimantan dan sebagainya.

Di dalam lubang itu terdapat tak kurang dari 21 lorong dengan berbagai fungsi. Ada ruang amunisi, pintu pelarian, juga penjara, dan dapur. ''Dapur ini juga dipakai untuk memutilasi romusha yang tewas lalu dibuang ke lubang air,'' katanya. 

Dari mulut lubang terdapat tangga beton menurun dengan kemiringan sekitar 45 derajat. Jarak dari mulut ke dasar Lobang sekitar 50 meter. Niat untuk menelusuri lubang itu urung ketika seorang cewek muda bule keluar lubang dengan napas terengah-engah kelelahan. ( salam, Cakfu )

Pewarta : Fuad Ariyanto
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda