KBRI Riyadh Berhasil Pulangkan 21 WNI Kurang Beruntung

(FOTO: Istimewa)

COWASJP.COM – Hingga 24 Oktober 2018, shelter penampungan Ruhama (Rumah Harapan Mandiri) di KBRI Riyadh dihuni 196 WNI kurang beruntung. Mereka adalah para pejuang rezeki yang jauh-jauh merantau kemudian menemui berbagai persoalan di tengah perjalanan. 

Dari angka 196 tersebut, 58 di antaranya merupakan para pekerja yang datang ke Arab Saudi dengan visa ziarah (kunjungan) kemudian bekerja, baik pada sponsor (pengundang) yang mendatangkannya maupun orang lain. Baik karena dijual oleh sponsor (pengundang) kepada orang lain maupun kabur kemudian bekerja pada orang lain yang tak juga dikenalnya.

Permalasahan muncul ketika para WNI tersebut hendak pulang ke tanah air. Jika sponsor tidak membuatkannya iqamah (izin tinggal) maka ada banyak denda yang harus dibayarkan. Jika sponsor (pengundang) melaporkannya kabur maka petugas imigrasi tidak akan memperkenankannya keluar wilayah Arab Saudi kecuali setelah mendapat pengampunan dari sponsor (pengundang). 

Belum lagi kasus lain seperti tuduhan pencurian, tuduhan asusila, atau gaji belum dibayarkan sehingga membuat WNI tersebut tak bisa mengurus exit permit.

KBRI Riyadh tak henti-henti berkoordinasi dengan Kemlu Arab Saudi untuk mencarikan solusi atas permasalahan ini. Aturan setempat memang mengharuskan KBRI Riyadh untuk lebih dahulu menginfokan kepada Kemlu sebelum dapat berhubungan langsung dengan instansi terkait, itu pun setelah mendapat lampu hijau dari Kemlu. 

Setelah berulang kali mengirim Nota Diplomatik dan tak jua terlihat titik terang penyelesaian, solusi baru dapat mulai terkuak saat pada 16 Oktober 2018, PF Konsuler 1/Koordinator Pelayanan Warga, Raden A. Arief, berkoordinasi dengan Direktur Konsuler Kemlu Arab Saudi, Mohammed A Al Shammmery. 

Pada hari berikutnya, Arief diterima Kepala Imigrasi Provinsi Riyadh, Mayjen Sulaiman Abdul Rahman Alsuhibani yang dilanjutkan pertemuan pada hari berikutnya lagi dengan Direktur Urusan WNA Kantor Imigrasi Provinsi Riyadh, Brigjen Nasir Abdulaziz Al Madhi.

"Pada 18 Oktober 2018, KBRI Riyadh mengajukan 54 WNI yang kondisinya terkatung-katung. Ke-54 orang tersebut datang dengan visa kunjungan lalu tidak bisa keluar Arab Saudi akibat bermacam kasus yang dihadapi. Setelah diverifikasi oleh petugas Imigrasi dan Kepolisian di Kantor Urusan Ketenagakerjaan Wanita Riyadh, 21 orang kemudian dapat memperoleh final exit," ujar PF Konsuler 1 Koordinator Pelayanan Warga KBRI Riyadh Raden A. Arief.

Dari 21 orang ini, sebagian sudah dilaporkan kabur oleh sponsornya kemudian mendapatkan pengampunan dari aparat negara. Skema ini biasanya susah didapatkan dengan alasan negara tidak serta merta dapat mengambil alih kewenangan warga setempat yang telah bersusah payah mendatangkan orang asing.

KBRI-Riyadh-2.jpg

Sementara itu, 27 orang masih diproses di Kantor Imigrasi Riyadh justru karena belum dilaporkan kabur oleh sponsor mereka. "Ada pula di antara mereka yang sponsornya tidak melaporkan bahwa visa kunjungan mereka berakhir kemudian sponsor menyatakan siap bertanggung jawab atas administrasi kedaluwarsa visa," tambah Raden A Arief. 

Adapun 6 orang sisanya masih harus berurusan dengan hukum karena adanya tuntutan mereka kepada sponsor yang mendatangkan atau majikan riil yang mempekerjakannya, baik soal gaji maupun hak-hak lainnya.

Ke-21 orang yang diterbangkan ke Indonesia pada 25 Oktober 2018, Jumat sore ini mendarat di Bandara Soekarno Hatta, Cengkareng. 

Sedangkan pengelola shelter penampungan KBRI Riyadh masih harus menyelesaikan PR untuk mengupayakan solusi kasus-kasus yang dihadapi 175 orang lainnya. Mereka masih berada di Ruhama. (*)

Pewarta :
Editor : Erwan Widyarto
Sumber :

Komentar Anda