Eks Napi Teroris yang Jadi Duta Perdamaian (7)

Tiga Kali Masuk Bui, Kini Hanya Fokus Dakwah

KELUAR MASUK BUI. Iqbal Khusaeni alias Reza napiter pemasok handak pada kelompok radikal. Kini sadar dan fokus dakwa.(Foto bahari/CoWasJP)

COWASJP.COMTiga kali masuk bui dengan tuduhan terkait pemasokan  beragam bahan peladak (handak) dan senjata pada kelompok radikal, terakhir kepemilikan senjata ilegal membuat Iqbal Kusaeni sadar. Kini, Iqbal berupaya berhenti, menjauhi aktvitas terkait kelompok radikal. Tapi, itu tidak mudah karena kelompok lama tak hanya mencibir, menghujat, mereka bahkan mengancam membunuh  Iqbal dan keluarganya.

***

KULITNYA bersih. Kuning langsat. Perawakannya kekar. Dalam barisan eks kombatan dan napiter ia terlihat paling tegap jalanya baik saat latihan maupun mengikuti upacara HUT Kemerdekaan RI ke 73 di Alun ALun Lamongan beberapa waktu lalu. Pria itu Iqbal Khusaeni alias Reza alias Rambo, alias Iqbal Ramly, alias Rey, alias Sihabudin, 37.

BACA JUGA: Dijebak Intel, Tawari Order Melatih Kelompok Militan

Iqbal baru saja bebas dari LP Cipinang, Jakarta, 2 Agustus 2018 lalu karena kepemilikan senjata ilegal. Pria kelahiran Lampung itu divonis 8 bulan penjara. ‘’Ini kali ketiga saya masuk bui. Saya bertekad ini yang terakhir,’’ aku Iqbal kepada penulis usai gladi resik persiapan HUT Kemerdekaan RI ke 73 di Lamongan baru baru ini.

BACA JUGA: Menyusup ke Militan Kashmir, Intel Pakistan Ditangkap

‘‘Saya  sebenarnya sudah tobat tidak mau melanggar hukum lagi. Tapi  karena terus menerus mendapat ancaman akan dibunuh (kelompok radikal) maka saya terpaksa menyimpan senjata di rumah. Sekadar jaga jaga. Bela diri. Eh, akhirnya polisi tahu dan menangkap saya,’’ akunya menyesal.

Sebelumnya Iqbal pernah dua kali masuk penjara. Tahun 2005 Iqbal dituduh memasok senjata dan bahan peledak (handak) ke beberapa kelompok teroris. Salah satunya, Nordin M Top. Iqbal dituntut 8 tahun. Majelis hakim memvonis 7 tahun penjara. Iqbal mulai menjalani hukuman tahun 2005 dan memperoleh pembebasan bersyarat 2010. 
Tahun 2012 kembali Iqbal divonis tiga tahun penjara akibat penjualan senjata kepada kelompok teroris dan kepemilikan senjata illegal.

Mengapa kok tersandung kasus yang sama. Penjualan senjata dan kepemilikan senjata ilegal? Iqbal mengaku beragam penyebab mengapa sampai dirinya terlibat penjualan senjata pada kelompok radikal atau teroris. Begitu bebas bersyarat saat di penjara kali pertama tahun 2010, Iqbal mengaku kesulitan mencari kerja. Melamar di berbagai perusahaan ditolak begitu tahu dirinya bekas narapidana teroris (napiter). Padahal, hidup di Jakarta perlu makan. Apalagi Iqbal sudah berkeluarga.

Namun Iqbal terus mencari pekerjaan yang halal, tidak melanggar hukum. Tapi, status  bekas napiter membuat lowongan kerja kian sempit. Di saat bersamaan datang tawaran menggiurkan dari  kelompok radikal. Mereka butuh pasokan senjata. Iqbal sendiri sudah malang melintang di dunia pemasokan senjata api hingga paham benar jaringannya. 

BACA JUGA: Mandi Seminggu Sekali, Menu Makan Roti Cane​

Untungnya jelas menggiurkan meski sangat beresiko. ‘’Saya akhirnya  tergoda kembali ke dunia lama sebagai pemasok senjata. Akhirnya polisi menangkap saya lagi,’’ aku Iqbal.
Penangkapan Iqbal terkait penggerebekan kelompok radikal yang berlatih secara militer di daerah Juntho, Aceh Nangroe Darussalam. Dari pelaku yang tertangkap hidup hidup diperoleh keterangan bahwa senjata yang mereka pakai sebagaian dipasok Iqbal. Iqbal dalam persidangan divonis 3 tahun. Baru bebas 2015.

IQBal-ok.jpgPEMASOK SENJATA. Iqbal Khusaeni alias Reza mantan napiter terlibat koflik Ambon. (Foto Bahari/CoWasJP)

Setelah bebas 2015, Iqbal berusaha mencari pekerjaan halal. Akhirnya, Iqbal bergabung dengan salah satu klub menembak di Jakarta. Karena  menguasai berbagai senjata, Iqbal dipercaya menjadi insruktur. Selain itu keberadaan Iqbal di klub menembak bertujuan menjadi filter atau menangkal penyusupan terhadap mereka yang bergabung klub menembak tapi untuk tujuan lain. Misalnya, terorisme. Sebab, Iqbal tahu orang dan jaringan kelompok radikal.

BACA JUGA: Rampas Tank Rusia, Tak Bisa Kendarai, Diledakkan​

Karena tahu banyak dunia kelompok radikal, Iqbal sempat bekerja untuk sebuah LSM yang melakuan riset terhadap kelompok kelompok radikal dan terorisme di Indonesia. Iqbal yang banyak mengenal aktivis jaringan radikal bisa masuk dan diterima karena Iqbal pernah menjadi bagian jaringan radikal tersebut.

Yang paling menggembirakan, Iqbal bisa melanjutkan cita cita lama kuliah di salah satu perguruan tinggi di Jakarta jurusan informatika. Kalau tidak tersangkut kasus kepemilikan senjata ilegal 2017 kemarin, mungkin lqbal sudah menyandang gelar sarjana. ‘’Doa kan tahun ini kuliah saya tuntas Mas,’’ harapnya.

BACA JUGA: Ikrar Kesetiaan NKRI, Laris Diajak Selfie Pejabat Muspida​

Mengapa sampai terlibat kepemilikan senjata illegal 2017 lalu? Iqbal mengaku sebenarnya niat menjauhi aktivitas berkaitan dunia radikal sudah bulat. Apalagi, setelah bergabung klub menembak, menjalani kuliah, Iqbal mengaku  mengenal banyak orang dan bersentuhan dengan beragam statra dan lintas profesi di masyarakat. 

BACA JUGA: Dulu Dendam, Anggap Polisi Togut, Sekarang Bermesraan

Dari situ Iqbal mendapat banyak pelajaran hidup dari orang orang yang ditemui. Umumnya mereka orang orang baik. Itu membuka cakrawala baru pemikiran Iqbal. Dari situ makin membulatkan tekad Iqbal untuk hidup normal, menjalani  kehidupan secara damai.

Tapi kelompok lama Iqbal tidak terima. Mereka terus menghujat, meneror Iqbal. Yang dikatakan kafir, murtad, laknat, tagut (setan atau kafir) bahkan mengancam  akan menghabisi Iqbal. Teror bisa lewat telepon, dunia medsos maupun secara langsung ke rumahnya. Bahkan istri Iqbal pernah didatangi kelompok radikal di rumahnya kawasan Jakarta Timur. Mereka akan membunuh Iqbal jika tidak balik ke kelompok mereka.

Diancam, diteror terus menerus membuat Iqbal sebagai mantan kombatan tentu harus waspada. Sap siap, jaga diri. Iqbal pun mempersenjatai diri dengan senjata api guna mempertahankan diri jika sewaktu waktu diserang. 

Hanya saja Iqbal sadar untuk kepemilikan senjata api perlu ijin. Dan, itu tidak gratis. Biayanya sangat besar. Sampai ratusan juta. ‘’Dapat darimana uang segitu. Makanya, saya nekat menyimpan senjata api illegal tadi. Akhirnya polisi tahu dan menangkap saya,’’ akunya pasrah.

Bagaimana jika kelompok lama mengancam lagi? Iqbal berharap tidak ada ancaman lagi. Sebab, hidup normal, hidup damai menjadi hak setiap orang. Meski demikian, untuk mengantisipasi ancaman kelompok lama, Iqbal berencana pindah rumah dari yang ditempati sekarang. Tujuannya, agar keluarganya hidup lebih tenang.

Kalau masih ada ancaman lagi dari kelompok lama? ‘’Ya, saya akan lapor polisi untuk minta perlindungan,’’ aku Iqbal.

Iqbal sendiri bersentuhan dengan kelompok radikal sebenarnya terjadi secara tidak sengaja. Begitu lulus SMK di Pringsewu, Lampung,  tahun 2000, Iqbal merantau ke Jakarta untuk melanjutkan kuliah.

Iqbal mengincar jurusan poliktenik UI. Bahkan dia sudah mendaftar untuk test. Tapi, semua itu berubah haluan saat meletus konflik SARA Ambon pada akhir 1999. Iqbal yang melihat kerusuhan dari VCD dan penuturan para relawan muslim yang terjun ke Ambon akhirnya mendaftarkan diri menjadi relawan muslim lewat Kompak. ‘’Saya batalkan tes kuliah dan memilih menjadi relawan ke Ambon,’’ aku Iqbal. 

Sesampainya di Ambon, tak hanya menjadi relawan, Iqbal bahkan terlibat lebih jauh mengikuti berbagai kursus dan kepelatihan kemiliteran yang dibutuhkan untuk menjaga dan mempertahankan diri jika diserang musuh.

Tahun 2000 mengikuti pelatihan basic militer dan pelatihan perakitan bom di Ambon. Tahun 2001 mengikuti pelatihan high power  di Poso. 

Sedangkan berbagai kursus yang pernah diikuti diantaranya, Daurah map reading, weaphon training, taktik infantery di kamp militer Mindanano, Philipina Selatan, Daurah field enggenering atau perakitan bom di camp militer Pawas Mindanano, Philipina Selatan, Intelligence and survilance, pengoperasian mesin bubut  camp militer Pawas Mindanao, Philipna Selatan. Juga operator komputer.

Pernah bergabung NII,JI, MILF di Mindanao, Philipina Selatan . Menjadi relawan untuk konflik Ambon dan Poso, supliyer bahan peladak (handak) dan senjata untuk kelompok Abdullah Sunata, Jakarta. Pernah berguru dan bersingungan dengan pada tokoh teroris Indonesia. Diantaranya, Amrozi, Ali Imron, Umar Patek, Mubarok, Abdul Matin, Marwan Ketua KMM maupun Ali Fauzi Manzi instruktur kamp militer Abu Bakar, Mindanao, Philpina Selatan. Ali Fauzi juga dipercaya menjadi instruktur perakitan anggota JI Jatim saat pecah konflik Ambon  dan Poso.

Selama konflik Ambon, Iqbal selain pernah  menetap di Batu Merah, Kebun Cengkeh juga pernah masuk Pulau Lehitu bahkan keliling Pulau Buru dari ujung ke ujung. Juga pulau pulau lainya di kawasan Maluku seperti Jailolo.

Dari berbagai latihan kemiliteran yang pernah diikuti Iqbal dan dipratekan dalam wilayah konflik,  Iqbal selain menguasai berbagai pengoperrasian senjata ringan sampai terberat misalnya, RPG atau anti pesawat pernah dipelajari. Juga perakitan berbagai bahan peledak atau bom. Mulai skala kecil, menengah sampai  tinggi. ‘’Tapi, saya tidak mau mengajarkan keahlian saya pada kelompok radikal lain karena banyak mudlaratanya daripada manfaatnya,’’ akunya.

Selama beraktivitas di kelompok radikal, Iqbal tak hanya mengenal berbagai peralatan persenjataan. Juga pembuat, pemasoknya. Makanya, Iqbal selama konflik Ambon maupun Poso lebih banyak dipercaya menjadi pemasok senjata kalau pas berada di Jakarta. ‘’Saya tahu daerah daerah mana saja di Indonesia yang menjadi sentra pembuatan senjata. Juga kualitasnya,’’ ujar Iqbal. Bahkan  Iqbal punya jaringan pemasok senjata sampai sekitar Philipina. 

Tapi, pengalaman tiga kali dibui mengajarkan Iqbal untuk berubah. menjauhi kelompok radikal dan hidup normal. Karena begitu ditawari bergabung dengan Yayasan Lingkar Perdamaian (YLP) yang dipimpin Ali Fauzi Manzi, Iqbal pun menyambut dengan tangan terbuka.

Iqbal juga sering mewakili YLP saat ada diskusi  di Jakarta mebahasa masalah terorisme. Karena Iqbal memang berdomisili di Jakarta. ‘’Sekarang saya fokus dakwah. Mungkin itu yang lebih bermanfaat untuk masyarakat,’’ aku alumnus sekolah tinggi bahasa Arab Usman bin Affan Jakarta itu. 

Sebab, Iqbal melihat kenayataan masyarakat muslim di lapangan pada praktiknya sebagaian wudlu, shalat saja ada yang belum sesuai ketentuan syariat Islam. Apalagi, sebagaian belum bisa baca Al-Quran.

‘’Menurut saya lebih baik kita dakwah, membantu  mengajari sesama saudara muslim agar bisa mengerjakan wudlu, shalat sesuai yang diajarkan Rosululloh SAW. Ini fokus saya sekarang,’ akunya. ‘’ Mulainya ya… dari masyarakat sekitar tempat tinggal kita,’’ tambah Iqbal.

bahari-nyar.jpg(Bersambung

Pewarta : Bahari
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda