Eks Napi Teroris yang Jadi Duta Perdamaian (6)

Dulu Dendam, Anggap Polisi Togut, Sekarang Bermesraan

MIRIP AMROZI. Hendra tampak akrab dengan polisi usau upacara HUT Kemerdekan RI ke 73 di Alun Alun Lamongan. (Foto: Bahari/CoWAsJP)

COWASJP.COMSenyum Zulia Mahendra, 33 , seakan mengingatkan orang pada salah satu trio Bom Bali I,  Amrozi bin Nurhasyim yang sudah dieksekusi mati 8 Nopember 2008 silam. Ya..Hendra sapaan Zulia Mehendra adalah putra Amrozi. Bagaimana Hendra menjalani kehidupan  dengan lebel putra seorang teroris? Bahkan  pakde dan pamannya juga menyandang predikat sama, terlibat pengemboman Bom Bali I yang amat dahsyat itu. Yakni, Ali Gufron alias Muklas dan Ali Imron.

***

‘’Hendra… Hendra ada yang cari,’’ teriak seorang mantan narapidana teroris (napiter) beberapa jam menjelang upacara hari Kemerdekaan RI ke 73 di Alun Alun Kota Lamongan. 

Hendra yang saat itu berada di tengah-tengah anggota eks kombatan dan napiter menyeruak maju.

‘’Ya, Mas ada apa? ‘’ tanya Hendra seraya mendekati penulis. Di balik kaca mata minusnya, Hendra  yang pembawaannya ramah saat ngobrol dengan penulis sering tersunging. Kalau diamati senyum itu mengingatkan sosok almarhum Amrozi yang tak lain bapak kandung Hendra. 

Saat Hendra menyeringai tampak gigi putihnya, rahangnya sedikit lebar persis Amrozi, Abi-nya. ‘’Ya kata orang sih.. kami ini mirip mirip kalau senyum,’’ aku Hendra. ‘’Saya dan Abi (Hendra selalu memanggil bapaknya Amrozi dengan sebutan Abi) sudah kayak teman. Kami suka guyon dan main bersama,’’ aku Hendra.

BACA JUGA: Dijebak Intel, Tawari Order Melatih Kelompok Militan

Itu karena hobi mereka berdua sama. Suka balapan motor. Bedanya Amrozi lebih suka balapan di lapangan, sementara Hendra maniak road race. Bahkan mereka berdua  suka balapan saat senggang.  ‘’Sekarang saya lebih suka ngetrail ke gunung,’’ aku Hendra. 

HENDRA1.jpgYUNIOR AMROZI: Hendra anak Amrozi saat mengikuti upacara HUT ke-73 RI di Lamongan. (Foto: Bahari/CoWasJP)

Di mata Hendra, Abi-nya seorang humoris. Hampir tidak pernah marah kalau ketemu. Sebaliknya selalu tersenyum dan guyon. Sebab, saat duduk di bangku SMK, Hendra memilih kost di Kecamatan Babat. Meski masih satu  kabupaten Lamongan,  jarak Babat dengan Desa Tenggulun, Solokuro cukup jauh. Sekitar 50 kilometer.

BACA JUGA: Menyusup ke Militan Kashmir, Intel Pakistan Ditangkap

Hendra ingat persis saat dikunjungi Abi-nya kali terakhir di kost-nya Babat. Yakni, satu hari menjelang penangkapan Amrozi,  5 Nopember 2002. ‘’Kok Abi lama nggak kesini,’’ ujar Hendra setengah protes kepada Amrozi saat mengujungi Hendra. ‘’Abi janji setelah itu nggak akan kemana mana,’’ ujar Hendra menirukan ucapan Abi-nya. Tak lama setelah bapak anak itu ngobrol, Amrozi balik ke Tenggulun. Sedangkan  Hendra sekolah yang saat itu baru duduk di bangku kelas 2 SMK.

Akhirnya, Abinya memang tidak kemana mana. Karena esoknya 5 Nopember 2002, sepasukan Densus 88  menangkap Amrozi di rumahnya Desa Tenggulun, Solokuro, Lamongan. 

BACA JUGA: Mandi Seminggu Sekali, Menu Makan Roti Cane​

Sebenarnya lanjut  Hendra, ketika dia melihat tayangan televisi di akhir bulan Oktober 2002 dimana polisi merilis sketsa tiga orang diduga pelaku bom Bom Bali I hatinya deg degan.

Bagaimana tidak deg… degan? Serangan bom ke Paddy’s Pub dan Sari’s Café di Legian, Kuta, pada 12 Oktober 2002 menewaskan sedikitnya 200 orang umumnya para bule. Salah satu pelaku dalam sketsa itu mirip Amrozi, Abi-nya Hendra. 

BACA JUGA: Rampas Tank Rusia, Tak Bisa Kendarai, Diledakkan​

Saat itu Hendra berusaha menenangkan diri, mencoba tidak mempercayai gejolak hatinya  bahwa gambar dalam sketsa yang disebar polisi itu sangat mirip Abi-nya.

Hendra makin galau manakala melihat sketsa pelaku satunya lagi, dimana bentuk giginya mirip Ali Imron yang tak lain pamannya  sendiri. ‘’Akhirnya, semua jadi kenyataan ,” aku Hendra. 

BACA JUGA: Ikrar Kesetiaan NKRI, Laris Diajak Selfie Pejabat Muspida​

Amrozi adalah salah satu pelaku kunci bom Bali I. Polisi menangkap Amrozi yang  dianggap titik lemah dalam kelompok itu. Mulanya Amrozi tutup mulut terkait keterlibatannya dalam Bom Bali I.

Berhari hari diinteogasi di Polda Bali Amrozi tutup mulut. Kebetulan hari-hari saat diperiksa,  Amrozi sedang menjalani ibadah puasa Ramadlan. Saat buka puasa Amrozi yang biasa berbuka dengan buah kurma tak mendapati di selnya  Polda Bali. Akhirnya, Amrozi mengeluhkan tiadanya buah kurma tadi pada seorang perwira polisi yang meng-interogasinya.

Polisi pontang panting, kesulitan  mencari buah kurma di Bali yang memang mayoritas beragama Hindu. Kebetulan ada perwira polisi yang  menginterogasi Amrozi beragama Islam tadi mendapatkan kiriman kurma dari koleganya. Tanpa pikir panjang kurma diboyong ke Polda untuk disajikan saat buka puasa Amrozi.

Rupanya masalah sepele buah kurma tadi meluluhkan hati Amrozi yang semula keras bagi batu. Tak sudi berbagai informasi  terkait bom Bali akhirnya luntur. Polisi yang semula buta sama sekali terkait jaringan pelaku pengebom Sari Café dan Paddys’s Club, perlahan akhirnya bisa mengurai berdasarkan penuturan Amrozi. 

Maka terkuaklah semua pelaku jaringan Bom Bali I. Polisi pada akhirnya tahu bahwa bom yang diledakkan di Bali adalah bom mobil. Ali Imron dan Amrozi membeli mobil L-300 Mitsubishi untuk keperluan itu.

Saat dikunjungi Abi (Amrozi) kali terakhir apakah sampeyan tidak tanya terkait kemiripan sketsa yang disebar polisi dengan wajah Abi? Hendra katakan, tidak sampai hati. Selain itu, Hendra tidak membayangkan kalau orang yang dicintainya terlibat bom Bali I yang mematikan itu. ‘’Saya tidak ada bayangan kalau salah satu pelakunya adalah Abi,’’ aku Hendra.

Apa yang Anda tahu soal aktivitas Abi selama ini? Hendra katakan, tidak jauh jauh dari dunia jual beli mobil. Di luar itu Hendra mengaku tidak tahu apa aktivitas Abi-nya yang lain. Sama sekali tak terbesit dalam pikirannya Hendra kalau Abi-nya terlibat jaringan teroris. ‘’Benar benar tidak menyangka,’’ akunya.

Setelah Abi terbukti terlibat bom Bali, apakah Anda marah, benci, sakit pada Abi? Hendra tegaskan sama sekali tidak. Sebab, itu pilihan Abi. Dirinya selaku anak menghormati putusan Abi-nya karena sudah tahu resikonya. 

Abinya lanjut Hendra, juga tidak pernah mencampuri urusan Hendra. Selama itu dianggap baik, Abi tidak pernah mendiktekan kehendaknya. ‘’Itu yang membuat saya sebagai anaknya bangga sama Abi,’’ akunya. ‘’Yang membuat kangen sifat humorisnya itu,’’ tambahnya.

Namun di sekolah tidak ada yang tahu kalau Hendra adalah anak kandung Amrozi. Untuk keperluan urusan sekolah misalnya, mengambil raport dan lainnya sejak kelas I SMK tidak pernah diambil Abi-nya Amrozi karena terkendala jarak. 

Sebagai gantinya, Hendra cukup meminta   kenalannya yang lebih tua datang ke sekolah mengaku sebagai wali murid Hendra. ‘’Pernah juga minta tolong tukang becak kenalan saya untuk mengambil raport,’’ aku Hendra.

Sementara di desanya Tenggulun, Solokuro, Lamongan, tidak ada perlakuan diskriminasi, menyakitkan apalagi mengejek keluarga Amrozi begitu terungkap bahwa pelaku Bom Bali I adalah Amrozi bersaudara (Ali Imron dan Ali Gufron). Itu karena kakek Hendra yakni, Nurhasyim tergolong orang terpandang di desanya. 

Bahkan Ustad Chozin pakdenya yang tak lain kakak sulung Amrozi adalah pendiri dan pengurus Ponpes Islam Al- Islam yang merupakan Ponpes milik keluarga Nurhasyim, kakek Hendra. Bahkan anak anak Desa Tenggulun belajar dan mengerti agama Islam ya dari Ponpes Al-Islam. ‘’Tak hanya anak anak sekitar Desa Tenggulun saja yang nyantri I Ponpes Al-Islam. Ada juga santri dari Pulau Jawa, Sumatra, Kalimanrtan bahkan NTB,’’ ujar pengurus Ponpes Al-Islam Ustadz Chozin kepada penulis.

lamongan5.jpgDITUAKAN: Ustad Mohamad Chozin pengurus Ponpes Al Islam jadi penasehat YLP. (Foto: Bahari/CoWasJP)

Kembali ke Hendra. Begitu lulus SMK dan mencari pekerjaan Hendra baru merasakan dampaknya. Setiap melamar pekerjaan selalu ditolak. Padahal, Hendra menggunakan KTP beralamat di Tuban yang beda kabupaten dengan Lamongan. Bukan KTP dengan alamat Desanya Tenggulun, Solokuro, Lamongan. ‘’Saya juga heran darimana perusahaan perusahaan tadi tahu saya anak Amrozi. Setiap melamar pekerjaan, begitu tahu saya anak Amrozi langsung ditolak,’’  paparnya.

Tapi, semua pengalaman buruk ditolak perusahaan tak membuat Hendra kecil hati apalagi patah semangat. Hendra yang sejak tamat SMP sudah keluar dari Tenggulun sudah terbiasa hidup mandiri sebagai anak  kost. Apalagi, Hendra juga masuk kelompok geng amatiran anak muda. Tak jarang Hendra yang berjiwa muda juga terlibat tawuran. ‘’Ya biasa lah namanya anak muda,’ aku Hendra. Semua itu menguatkan mental Hendra sebagai laki laki dalam proses pendewasaan, mencari jati diri.

Akhirnya, Hendra memutuskan ke luar negeri dengan menjadi TKI di Brunei  Darussalam. Tapi, rupanya  Hendra tak bisa berlama lama bekerja di luar negeri. Hanya bertahan 1,5 tahun di Brunei, Hendra balik ke Indonesia. Hendra pun bekerja serabutan. 

Begitu Abi-nya Amrozi dieksekusi mati 9 Nopember 2008 bersama Imam Samudra dan pakdenya Ali Gufron alias Mukhlas , Hendra yang berjiwa muda sangat dendam. Benar..benar  dendam khususnya kepada polisi. Hendra ingin membalas dendam. ‘’Siapa yang tidak marah bapaknya dieksekusi tembak mati,’’ aku Hendra.

Namun seiring perjalanan waktu dan bertambahnya usia, serta bimbingan pamannya Ali Fauzi Manzi--yang lebih dulu sadar dan tobat, dendam Hendra yang begitu membara perlahan meredup. 

Hendra pun bisa move on. Saat peresmian Yayasan Lingkar Perdamaian (YLP) tahun 2017 silam di Desa Tenggulun, Solokuro, Lamongan , Hendra menjadi salah satu panitia yang meyambut para pejabat dari Jakarta. Ada Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Pol Suhardi Alius, ada angota DPR, ada mantan Wakil Menag Prof Nazaruddin Umar yang juga Wakil Ketua MUI yang mendampingi trio bom Bali (Amrozi, Imam Samuda dan Ali Gufron) menjelang detik detik dieksekusi mati. Ada Bupati Lamongan Fadeli dan pejabat lainnya.

‘’Kemesraan’’ Hendra terlihat saat mengikuti upacara HUT Kemerdekaan RI ke 73 di Alun Alun Lamongan, 17 Agustus 2018 lalu. Dimana eks kombatan dan napiter yang tergabung dalam Yayasan Lingkar Perdamaian (YLP) menjadi salah satu kelompok peserta upacara. Mereka dibimbing anggota Polres Lamongan saat latihan baris berbaris.

lamongan.jpg

Bahkan mereka diawasi langsung Kapolres Lamongan AKBP Feby Hutagalung saat gladi resik. Puncaknya usai upacara eks kombatan dan napiter jadi bintang. Mereka foto dengan para muspida Lamongan. Bahkan para kombatan dan eks napiter saling peluk dengan polisi sebagai wujud persahabatan dan kemesraan mereka. Termasuk Hendra.

Apa ada pesan khusus dari Abi sebelum dieksekusi mati? Hendra mengatakan tidak ada. Hanya saja setiap bertemu Abi selalu berpesan: Jangan pernah takut pada siapa pun. ‘’Itu pesan Abi yang selalu saya ingat sampai sekarang,’’ aku Hendra.

Di kemudian hari Ali Fauzi, Hendra dan keluarga Tenggulun mendirikan CV At –Taubah yang bergerak di bidang kontraktor. Ali Fauzi bertindak sebagai Direktur Utama sementara Hendra selaku Direktur Operasional. Kini Hendra membawahi 30 karyawan yang umumnya mantan kombatan dan napiter. 

Selama bergaul dengan para eks kombatan dan napiter, Hendra melihat dengan mata kepala sendiri bahwa keluarga mereka terutama anak istri napiter sangat menderita.

Mereka hidup susah saat para suaminya mendekam di penjara. Karena itu Yayasan Lingkar Perdamaian (YLP) dimana Hendra menjadi pengurus bersama pamanya Ali Fauzi menampung sebagaian keluarga napiter tadi untuk meringankan penderitaannya.  

Para napiter setelah keluar penjara pun sangat kesulitan saat mencari pekerjaan. Begitu perusahaan tahu bahwa mereka bekas napiter umumnya langsung ditolak. ‘‘Lewat CV At Taubah kami bahu membahu menolong mereka (eks kombatan dan napiter) agar bisa hidup mandiri,’’ ungkap Hendra.

Obsesi Hendra,  CV At-Taubah nantinya bisa berkembang, beranak pinak menjadi beberapa perusahaan. Tidak hanya bergerak di bidang kontraktor tapi juga merambah bidang lain seperti, perdagangan, pertanian, jasa, persewaan  dan lainnya. ‘’CV At-Taubah  nantinya jadi induk perusahaan yang dikelola eks kombatan dan napiter,’’ harap Hendra.

Apa perusahaan Anda diperlakukan istimewa dari rekanan kerja misalnya pemda setempat? Hendra menuturkan, perusahaan yang dipimpinnya tidak minta diistimewakan. Cukup disamakan dengan yang lain. ‘’Itu saja. Tidak lebih,’’ akunya.

Saat kali pertama perusahaannya beroperasi jarang mendapatkan  proyek. Sebaliknya kerap dicibir setelah mereka tahu perusahaaan kontraktor milik keluarga Tenggulun. Bahkan saat ikut tender kalau kekurangan persyaratannya bukanya diberi tahu  malah setengah diolok olok. ‘’Itu dulu. Sekarang sudah tidak lagi. Kami hanya minta diperlakukan sama dengan perusahaan lain. Tidak lebih,’’ aku bapak dua anak itu.

Kini, CV At-Taubah kerap mendapat tender. Renovasi Masjid Baitul Muttaqien maupun pembangunan kelas TPA di lingkungan komplek kantor Yayasan Lingkar Perdamaian (YLP) yang mengerjakan adalah CV At-Taubah.

Kini, bekerja sama dengan perusahaan kontruksi BUMN, perusahaan kontaktor CV At-Taubah yang dipimpin Hendra sedang mengerjakan bak penampung minyak mentah di Lamongan.  Juga pengurukan  atau reklamasi tambak.’’Alhamdulillah dapat proyek lumayan lancar,’’ aku Hendra semringah.

Hendra meski bukan mantan napiter apalagi kombatan tapi sangat dihormati para eks kombatan dan napiter. Itu tak lain karena Hendra anak Amrozi pentholan teroris yang terlibat Bom Bali I yang begitu dahsyat. ‘’Mereka (eks kombatan dan napiter) sangat hormat pada saya karena tahu saya anak Abi . Tapi, saya minta mereka bersikap biasa saja. Tidak berlebihan,’’ aku Hendra.

Meski usianya lebih muda dari anak buahnya yang umumnya eks kombatan dan napiter, tapi Hendra mengaku tidak kagok kalau harus memerintah saat keperluan dinas kantor. ‘’Kami kembangkan budaya profesional. Waktu kerja kita mengacu pada prosedure perusahaan. Di luar itu saya tetap hormat mereka yang lebih tua,’’ aku Hendra.

bahari-lamongan.jpg(bersambung)

Pewarta : Bahari
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda