Eks Napi Teroris yang Jadi Duta Perdamaian (4)

Menyusup ke Militan Kashmir, Intel Pakistan Ditangkap

FOTO BARENG: Yusuf Anis dan polisi usai upacara di Alun Alun Lamongan (Foto-Foto: Bahari/CoWasJP)

COWASJP.COMBerjuang bersama pasukan Mujahidin dalam mengusir penjajah Rusia dari bumi Afghanistan memberi pengalaman berharga bagi Yusuf Anis. Sebab,  tak hanya perang melulu. Tapi, para pejuang diajari berbagai ketrampilan dan tak tik perang gerilya. Kursus kemiliteran itu diantaranya, Dauroh Dababah sejenis mengoperasikan tank Rusia T 54, Dauroh Field Engeneering atau perakitan bom, Interlligence and Surveilance Qaedah, Qudatu  Askariyah atau latihan kepemimpinan sampai pengoperasian senjata anti pesawat, Stringer.

***

SEBELUM terjun ke medan tempur para pejuang Mujahidin yang datang dari berbagai belahan dunia Islam, mereka  dilatih khusus di kamp kamp pelatihan militer milik Mujahidin yang tersebar di sepanjang perbatasan Pakistan-Afghanistan.

Salah satunya, Camp Militer Mujahidin Afghanistan yang berlokasi di perbatasan Pakistan-Afghanistan dekat kota Kandahar. Tidak terkecuali Yusuf Anis yang bergabung  pasukan Mujahidin tahun 1988.

BACA JUGA: Ikrar Kesetiaan NKRI, Laris Diajak Selfie Pejabat Muspida​

Menariknya kata Yusuf Anis, kurikulum militer yang diajarkan dalam pelatihan mengadopsi pendidikan dasar kemiliteran tentara India. Bukan Pakistan, atau negara Eropa atau Amerika yang aktiv mendukung memerangi Uni Sovyet. Bahkan gerakan atau cara baris berbaris pasukan Mujahidin mencontoh pasukan Rusia. ‘’Saya tidak tahu persis sejarahnya,’’ aku Yusuf keheranan.

lamongan2.jpgDIBURU PERS. Yusuf Anis diwawancarai wartawan usau upacara HUT Kemerdekan RI ke 73 di Alun Alun Lamongan. 

Pasukan Mujahidin yang baru direkrut seperti Yusuf Anis tak hanya  diajari teori. Tapi, langsung dipraktekan  ke medan jihad. Di sela sela perang selama lima tahun yang diikuti Yusuf, para pejuang Mujahidin   juga diajari dan dididik secara berjenjang dalam beragam ketrampilan dunia kemiliteran. Mulai taktik perang kota, perang gerilya, perakitan bahan peledak, pemetaan lapangan, intelejen, penyusupan, cara bertahan hidup, cara mengemudikan tank, cara mengunakan senjata berat seperti senjata anti pesawat atau RPG.

BACA JUGA: Rampas Tank Rusia, Tak Bisa Kendarai, Diledakkan​

‘’Nantinya pejuang tak hanya mahir berperang tapi bisa menguasai aneka senjata dan keahlian lain yang dibutuhkan saat perang gerilya,’’ aku Yusuf Anis.

Yusuf Anis dan rekan-rekanya mujahid dari Indonesia bergabung dengan salah satu faksi Mujahidin yang berkedudukan dekat kota Kandahar, Afghanistan Tenggara yang berbatasan dengan Pakistan. Namanya  Ittihad Islami yang dipimpin Abdul Rob Robbil Sayyaf. 

BACA JUGA: Mandi Seminggu Sekali, Menu Makan Roti Cane

Yusuf mencatat dalam tubuh pasukan Mujahidin sedikitnya ada tujuh faksi. Dua yang terkenal adalah faksi Jamiat –i-Islami pimpinan Burhanuddin Robbani dengan panglima perangnya yang termasyur Ahmed Shah Masood dari suku Tajik. Kelompok ini yang menguasai ibukota Kabul. 

Lawannya faksi Hezb-i- Islami pimpinan Gulbudin Hekmatyar dari suku Pasthun. Selama empat tahun (1992-1996) Hekmatyar mengempur posisi Ahmed Shah Masood yang mempertahankan ibukota Kabul. Tapi, sejengkal pun pasukan Ahmed Shah Masood tak mundur dari Kabul. 

Perang saudara sesama faksi Mujahidin menimbulkan kerusakan parah di kota Kabul. Hampir tidak ada bangunan di Kabul utuh. Kerusakan kota Kabul selama perang saudara jauh lebih dahsyat dibandingkan saat Uni Sovyet menduduki Afghanistan selama sepuluh tahun (1979-1989). 

Porak porandanya kota Kabul disaksikan penulis (ketika aktif di Jawa Pos) saat masuk Kabul dari Jalalabad tahun 2001 silam. Catatan PBB sekitar 70 persen bangunan di Kabul hancur, dengan korban tewas 30 ribu orang selama perang saudara.

Kembali ke Yusuf Anis yang bergabung pasukan Mujahidin Ittihad Islami pimpinan Abdul Rob Robbil Sayyaf berkedudukan di Kandahar. Tahun 1988 sampai 1989 pasukannya intensif menyerang pos pos Uni Sovyet sekitar kota Kandahar. Sampai akhirnya Uni Sovyet menarik diri Afghanistan dan Kabul dengan kerugian amat besar.

Tapi, pasukan Mujahidin tidak mengendorkan serangannya. Sebab, Uni Sovyet sudah menyiapkan pemerintah boneka komunis dengan Presiden Najibullah mantan Kepala Intelejen Afghanistan. Akibat gencarnya serangan Mujahidin, pemerintah Najibullah limbung. Kota Kabul pun jatuh tahun 1992 ke tangan Mujahidin. ‘’Pasukan kami juga ikut merebut kota Kandahar dari tentara Najibullah,’’ kata Yusuf Anis.

Sejak itu pasukan Mujahidin yang membawahi Yusuf Anis terus merangsek merebut kota kota sekitar Kandahar dari tangan rezim Najibulah. Bahkan sampai merangsek kota Jalalabad jaraknya ratuasan kilometer dari Kandahar. ‘’Kami hanya sampai Jalalabad. Tidak masuk Kabul karena disana ada perang dua faksi mujahidin,’’ kata Yusuf.

Yakni faksi Mujahidin Jamiat –i-Islami pimpinan Burhanuddin Robbani dengan panglima perang-nya Ahmed Shah Masood dari suku Tajik yang menguasai  ibukota Kabul.  Lawannya faksi Muhajidin Hezb-i- Islami pimpinan Gulbudin Hekmatyar dari suku Pasthun yang ingin merebut kota Kabul. 

Karena dianggap memiliki jam terbang tinggi dan berpengalaman tempur Yusuf Anis pun dipercaya para komandan Mujahidin menjadi salah satu instruktur Camp Militer Mujahidin Afghanistan.

Nah, saat menjadi instruktur itu lah banyak mujahid Indonesia datang ke Afghanistan. Ada Imam Samudra, Ali Imron, Umar Patek, Noordin M Top, Dr Azhari. Mereka menimba ilmu di kamp militer Mujahidin dimana Yusuf Anis menjadi salah satu instrukturnya. Kabarnya Dr Azhari paling mahir dalam merakit bom.

Sementara saat menjadi instruktur pelatihan militer di Moro, Pulau Mindanao, Philipina Selatan, Yusuf Anis bertemu Ali Fauzi Manzi yang menjadi salah satu peserta pelatihan.

Karena itu tak berlebihan jika Yusuf Anis menjadi guru para mujahid yang kemudian berubah menjadi teroris karena terlibat serangkaian pengeboman di Indonesia. Paling fenomenal Bom Bali I di Kuta yang menewaskan 200 orang lebih. Mereka yang terlibat pengeboman Paddys Café, Kuta, Bali dijatuhi hukuman mati. Diantaranya Imam Samudra, Amrozi dan Ali Gufron alias Mukhlas yang sudah menjalani eksekusi mati. Sedangkan Ali Imron diganjar seumur hidup karena bersikap koperatif, membantu polisi mengungkap jaringan bom Bali.

Yusuf Anis yang menjadi  instruktur Camp Militer Mujahidin, Afghanistan tak hanya melatih  kelompok pejuang yang datang dari Asia Tenggara termasuk Indonesia. Tapi, juga melatih dari daerah lain. Yakni, Kashmir.  Propinsi Khasmir meski masuk wilayah India tapi mayoritas warganya muslim. Tak ayal kerap pecah pemberontakan warga Kashmir untuk memisahkan dari dari India.

Nah, para militan Kashmir banyak bergabung pasukan Mujahidin. Sebelum berperang mereka dilatih di Camp Militer Mujahidin, Afghanistan. Dimana Yusuf Anis menjadi salah satu intrukturnya. ‘’Kami sudah melatih empat kelompok angkatan warga Khasmir. Setiap angkatan diikuti sekitar 30 orang,’’ kata Yusuf Anis.

Nah, saat akan melatih kelompok militan Kashmir angkatan kelima, muncul keanehan. Salah satu pesertanya agak berbeda dengan rombongan lainnya. Sepertinya orang yang satu ini lebih dihormati, perawakanya dan gerak geriknya juga berbeda dari peserta dari Khasmir lainnya.

Yusuf Anis dan instruktur lain Camp Militer Mujahidin, Afghanistan, sudah curiga sejak awal kedatangan mereka. Untuk membuktikan peserta dikumpulkan di suatu tempat. Mereka diminta meninggalkan semua barang termasuk tas. Nah,  saat  peserta dikumpulkan, instrukstur lain menggeledeh semua isi tas peserta termasuk orang dicurigai tadi.

Ternyata benar. Dari indentitas yang disembunyikan di tas tadi terungkap orang tadi anggota intel militer Pakistan yang disusupkan ke kelompok Kashmir yang hendak mengikuti pelatihan militer oleh Mujahidin. 

Setelah diinterogasi orang tadi mengakui dari intel Pakistan. Mereka sengaja menyusup ke kelompok orang Kashmir guna mengetahui lebih dalam siapa orang orang yang melatih kelompok perlawanan Kashmir tadi.

Para instruktur Camp Militer Mujahidin, Afghanistan berbeda pendapat terkait putusan yang akan dijatuhkan terhadap intel Pakistan yang menyusup ke kelompok Kashmir tadi.

Ada yang mengusulkan dibunuh saja. Tapi, Yusuf Anis yang paling senior dalam tim instuktur saat itu tidak setuju. Kalau intel Pakistan dibunuh bisa geger. Dikhawatirkan muncul masalah besar. Sebab,  Pakistan bisa balas dendam, merazia  pejuang Mujahidin yang banyak bertebaran di pebatasan Pakistan-Afghanistan. 

Atau  memperketat  penjagaan perbatasan. Ujung-ujungnya   merepotkan para pejuang Mujahidin.  ‘’Bisa bisa kita (orang Indonesia)  tidak bisa pulang,’’ kelakar Yusuf. Sebab, posisi Pakistan sangat strategis karena menjadi pintu masuk dan transit bagi para para pejuang seluruh dunia saat hendak masuk Afghanistan.

Kesalahan intel Pakistan tadi kata Yusuf Anis, tidak memberi tahu kepada para instruktur Camp Militer Mujahidin, Afghanistan. Andai, intel tadi memberi tahu keberadaanya tengah menyusup ke kelompok Kahsmir masalahnya dianggap selesai. ‘’Yang penting kita sama sama tahu,’’ akunya.

Akhirnya diputuskan hari itu juga, kelompok orang orang Kashmir dan intel Pakistan tadi diminta meninggalkan Camp Militer Mujahidin, Afghanistan hari itu juga. Itu setelah data data mereka dicatat. 

Tolak Nikahi Gadis Afghan 

Yusuf Anis paham bahasa Farsi Idari yang dipakai suku Pasthun khususnya dari kalangan terpelajar baik di Pakistan maupun Afghanistan. Selain bahasa Pasthun dan Urdu. Karena itu Yusuf gampang akrab dengan para pejuang Mujahidin  dari kedua negara itu.

Bahkan Yusuf sangat akrab dengan seorang pejuang Mujahidin dari Afghanistan. Itu karena sesama pejuang Mujahidin mereka saling membantu, saling melindungi saat perang. Karena senasib dan sepenanggungan itu mereka menjadi akrab dan bersahabat.

Suatu ketika pejuang Mujahidin Afghanistan yang dulunya bekerja di kantor pos menawari Yusuf untuk menikahi putrinya. Bapak pejuang tadi pun menunjukan foto putrinya. 

Yusuf kaget, tidak menyangka akan ditawari menikahi putri rekannya sesama pejuang. Tapi, karena ke Afghanistan tujuannya jihad mengusir penjajah Rusia, maka tawaran itu ditolaknya secara halus. ‘‘Saya ke sini (Afghanistan) untuk berjuang. Bukan mencari sitri,’’ kata Yusuf. 

Apa reaksi Bapak, rekan Anda  tadi? ‘’Saya lihat agak kecewa,’’ tambahnya.

Kenapa ditolak, apa anak gadis yang ditawarkan rekan pejuang Anda tadi tidak cantik? ‘’Sampeyan tahu, rata rata gadis Afghan sangat cantik. Kalau di Indonesia mungkin bisa jadi bintang film. Tapi, saya ke Afghanistan kan bukan mencari istri tapi berjuang.’’ (Bersambung)

 

Pewarta : Bahari
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda