Dahsyatnya Akibat Tidak Silaturrahim

Bantu Korban Bencana Lombok Bertemu Saudara

Harsan (kiri) saudara dan teman kecil yang puluhan tahun putus kontak.

COWASJP.COM – Tulisan ini seratus persen pengalaman pribadi. Tidak menyindir siapa-siapa. Ingin berbagi cerita. Dahsyatnya akibat kurang bersilaturrahim. Mudah-mudahan, pengalaman buruk ini, tidak terulang pada orang lain.

Selama lima hari pekan lalu, kami mengadakan pengabdian di Lombok. Saya berangkat dengan Laksma (Pur) dr Sulantari Sp THT-KL. Juga dokter THT dari RS Dr Soetomo, Surabaya, Jakarta, Jogja, Semarang dan Solo. 

Semuanya spesialis THT. Saya bisa gabung, karena salah satu pengurus pada perkumpulan dokter yang banyak mengurus tentang pendengaran ini.

BACA JUGA: Rotary Club Surabaya Bagi Alat Tulis di Lotim​

Kami  mulai mengadakan kegiatan di Lombok Utara. Pusat gempa  Lombok yang terjadi pada 29 Juli 2018. Akibatnya, menewaskan 560 orang, serta luka 7.145 orang. Lalu ke Lombok Tengah, Lombok Selatan, dan terakhir di Lombok Timur. 

Selain dengan dokter THT, saya juga gabung dengan Rotary Club (RC) Surabaya, tempat saya mengabdi. Saya katakan mengabdi, karena Rotary bukan organisasi sosial. Tapi, organisasi pengabdian.

Saat di Lombok Timur inilah saya merasakan dahsyatnya kurang bersilaturrahim. Saya bertemu keluarga dekat saya. Juga kerabat dekat saya. Karena merasa bersalah, saya tidak ingin mencari pembenaran.  Mengapa tidak pernah ke sana. 

Misalnya, mengapa tidak tahu, kalau ada keluarga yang jadi korban gempa. Apakah karena jauh?  

nasarudin2.jpgHarsan (kiri), penulis, dan isteri Harsan di kursi roda.

Jawabannya: bukan. 

Atau karena jauh dengan Surabaya? juga bukan.

Atau karena tidak punya uang? juga bukan.

Lantas mengapa? Jawabannya adalah kurang bersilaturrahim.

Ceritanya, kami datang di sebuah tenda. Letaknya, di Dusun Sandubaya Barat, Desa Labuhan Lombok, Kecamatan Pinggabaya, Lombok Timur. Tak jauh dari Pelabuhan Kayangan, yang retak akibat gempa dahsyat itu.

Kedatangan kami ke sana, tanpa direncanakan. Sebab, tak masuk dalam program. Dalam perjalanan menuju ke Lombok Tengah, saya telepon pada keponakan di Lombok Tengah. Kami ingin baksos (bakti sosial) di dekat

Senggigi. Dia menjawab, kalau pagi itu akan menuju ke Lombok Timur.

nasarudin.jpgMembagi alat tulis pada anak-anak.

Percakapan saya, didengar Laksma (Pur) dr Sulantari Sp THT KL, yang duduk di sebelah. Spontan dia mengajak  ke Lombok Timur. “Kalau begitu, ayo kita juga ke Lombok Timur,” ajaknya. 

Atas ajakan laksamana bintang satu yang ramah dan baik hati ini, dengan serius, saya pun menjawab siap. Mobil yang mengarah ke Mataram, berbalik arah ke Lombok Timur.

Dalam perjalanan, Faridah, keponakan saya yang lahir dan besar di Surabaya, dan sekarang tinggal di Mataram, memberikan nomor telepon. ”Om hubungi Nany di nomor ini. Dia ada di Lombok Timur. Saya khawatir terlambat,” tulis Ida, sapaan akrab Faridah.

Begitu sampai di lokasi yang tak jauh dari Pelabuhan Kayangan, yang retak akibat gempa itu, seorang ibu muda sudah menunggau di pinggir jalan. Namanya Nany. Dialah yang mengarahkan ke tenda-tenda yang berada di tengah kampung.

Saya terkejut. Ternyata yang menerima kedatangan kami namanya Harsan. Dia adalah saudara saya sendiri. Teman akrab saya ketika sama-sama masih di kampung halaman, di Bima.

Kami hanya bisa saling memandang. Lalu saling berangkulan. Tak terasa, air mata pun berncucuran. Dia nampak pincang. Beberapa tahun terakhir terserang stroke. Isterinya duduk di atas kursi roda. Juga akibat stroke. Meski begitu, mereka berdua tetap semangat menerima rombongan. “Ini tempat tinggalku,” kata Harsan, sembari menunjuk ke tenda yang cukup pendek.

nasarudin3.jpgCucu Harsa saat berada di dalam tenda tempat tinggalnya.

 

Dr Sulantari, hanya tercengang melihat adegan yang tak disengaja ini. Dia pun nampak diam. “Ada hikmahnya saya ajak ke sini,” kata mantan kepala RS Angkatan Laut dr Ramelan, Surabaya itu, dengan mata berkaca-kaca melihat kami berdua saling berangkulan.

Dia tinggal di sebuah tenda yang lumayan besar. Di dalamnya penuh dengan perabot rumah tangga. Sebab, rumahnya sudah rata dengan tanah. Dalam tenda itu, diisi lebih dari 20 orang. Mereka adalah anak, menantu, dan cucu-cucunya.

Saya sudah berpuluh-puluh tahun tak pernah berjumpa. Usianya memang sebaya dengan saya. Karena itu, kami akrab. Bukan saja karena hubungan kekeluargaan, tapi memang teman sejak kecil.

nasarudin4.jpg

Tapi ketika dia diangkat menjadi guru di sebuah sekolah di Lombok Timur, saya tak pernah berkomunikasi lagi. Nomor teleponnya pun, tidak tahu. Sebab, tidak pernah bertemu. Meski sering ke Lombok, tapi jarang sampai ke Lombok Timur. Itulah yang membuat komunikasi berkurang.

Dalam benak saya, inilah dahsyatnya kalau tidak pernah bersilaturrahim. Inilah jeleknya kalau tak pernah berkomunikasi.  

Satu demi satu wajah teman Cowas, yang suka kampanyekan  dahsyatnya silaturrahim, terbayang di kelopak mata. Mas Aqua Dwipayana, Suhu, Tofan Mahdi - yang suka foto dengan cewek tapi tidak berani nggoda cewek, juga terbayang. Serta teman-teman Cowas yang lainnya. (*)

Penulis H. Nasaruddin Ismail, mantan wartawan Jawa Pos dan anggota Rotary Club Surabaya.

Pewarta : M Nasaruddin Ismail
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda