Kemudahan Berkat Silaturahim Yang Tak Putus

Ibu Sumarti alias Mak Ti, Mas Iwa, Sudirman (penulis) dan istri Bu Sri Atin, di ruang tamu rumah Mas Aqua, Sawitsari, Condongcatur, Jogja.

COWASJP.COM – Satu door prize tiket pesawat Sriwijaya Air, Surabaya – Jogjakarta PP yang dibagi saat acara reuni IX dan HUT III CowasJP (Konco Lawas Jawa Pos) jatuh ke tangan saya. Tiket tersebut saya manfaatkan untuk berkunjung ke rumah Dr. Aqua Dwipayana, di Sawitsari, Condong Catur, Sleman. 

Berikut ini kesan-kesan selama dua malam dua hari di rumah sang motivator handal tersebut. 

Saya baru kali pertama ke Jogja naik pesawat. Dan, kali ini naik pesawat maskapai penerbangan Sriwijaya Air dari Bandara Juanda, Sidoarjo. Kalau ke Jogja naik bus atau kereta api sudah berulang kali. 

Door prize tiket pesawat yang saya terima merupakan salah satu partisipasi dari Direktur Keuangan Sriwijaya Air Group, Ibu Gabriella Sania Bongoro, yang diberikan saat acara reuni dan HUT Cowas. Tepatnya diberikan kepada Mas Aqua Dwipayana untuk dibagikan kepada peserta Reuni IX Cowas JP. Beliau memang sahabat Mas Aqua.

Mengapa gak pernah naik pesawat ke Jogja ? Ya, karena jaraknya terlalu dekat dan tidak keburu waktu. Mungkin juga kantong saya tipis alias duit mepet. Nah, kali ini mau tidak mau harus naik pesawat. Memanfaatkan door prize tiket pesawat Sriwijaya – Jogja PP. 

Ini hadiah kehormatan bagi saya dari panitia reuni dan HUT Cowas yang dihetat di Desa Wisata Pentingsari (Dewi Peri), Umbuharjo, Sleman. Satu tiket gratis dari Mas Aqua diberikan untuk istri. Pemberian tiket tersebut merupakan wujud penghargaan dari yunior kepada senior Cowas JP. 

Kemudahan naik Sriwijaya Air juga didukung Mas Aqua. “Pak Dirman, nanti di Bandara Juanda staf Sriwijaya Air, Mas Zayyadi yang akan membantu Bapak. No HP beliau 081364431075. Tolong voucher-nya diberikan kepada beliau. Makasih banyak Pak Dirman,” demikian pesan singkat lewat WA yang saya terima saat akan berangkat ke Bandara Juanda.

Apa yang disampaikan Mas Aqua tersebut benar. Di konter Sriwijaya Air, saya sudah disambut seorang karyawati yang memakai seragam Sriwijaya Air. Wanita yang memakai seragam dan selendang merah tersebut seperti peragawati, yang sedang jalan di atas catwalk. 

Dia langsung menunjukkan konter untuk mengambil tiket. Tanpa saya sadari di belakang saya sudah siap Mas Zayyadi. Pria yang tinggal di kawasan Juanda tersebut menegur saya sambil berkata: “Pak Dirman, mana tasnya saya bantu membawa ke ruang tunggu”. 

“Terima kasih Mas, nggak usahlah tas saya kecil dan ringan kok,” jawab saya. 

ika1.jpgPigura di ruang tamu rumah mas Aqua

Ketika saya menerima dua tiket agak terkejut, karena seat yang saya terima di kursi bagian depan, yaitu nomor 3 A dan 3 B. Di ruang tunggu saya ditemani Mas Zayyadi beberapa saat.

Saya kembali ke Surabaya Minggu sore (9 September 2018). Ketika check in, saya mendapat seat no 29 B dan 29 C. Namun, sebelum di ruang tunggu ada panggilan. Saya dan istri diminta petugas konter depan gate 3. 

“Mana tiketnya Pak,” kata petugas konter yang langsung mengganti seat saya 3 A dan 3B. 

Lo, kok seatnya diganti Bu?” tanya saya 

“Ya. Ini atas perintah pimpinan,” kata petugas konter tersebut tanpa menyebut nama pimpinan yang dimaksud. Kelancaran menumpang Sriwijaya Air tersebut berkat hasil Silaturahim Mas Aqua dengan maskapai penebangan Sriwijaya Air Group. 

Mak Ti dan Dua Putrinya

Penerbangan Sriwijaya Air hari itu lancar. Surabaya – Jogja ditempuh dalam waktu 45 menit. Tapi ketika perjalanan dari Bandara Adisutjipto ke kompleks Perumahan Sawitsari jalanan macet. Malam itu memang lagi weekend. Baik di ring road Jogja atau jalan aternatif juga mengalami kemacetan. Perjalanan dari Bandara Adisutjipto ke Sawitsari yang biasanya ditempuh dalam waktu 30 menit, malam itu sampai tempat tujuan satu jam lebih. Ditambah lagi sopir Grab yang tak paham kompleks perumahan Sawitsari Condong.Catur.

Sopir Grab melihat Google Map di HP-nya berulang-ulang. Namun, masih belum juga menemukan alamat yang dituju. Apalagi di sepanjang jalan PJU (Penerangan Jalan Umum) tidak begitu terang. Saya terpaksa mengontak HP milik Netik (anak Mak Ti). Sopir yang tak tahu alamat tersebut dipandu Netik sampai ke rumah Mas Aqua. 

Begitu sampai di Jalan Cempedak Blok H 1, di depan rumah Mas Aqua, sudah disambut Mak Ti (Sumarti) bersama dua anaknya. “Ini P Dirman dan ibu ya?” sapa Mak Ti kali pertama. Dua tas pakaian yang saya bawa langsung dibawa dua anak Mak Ti masuk ke dalam rumah. 

Wah…. Rumah Mas Aqua yang terletak di pojok jalan (hook) berlantai dua memang bagus dan asri. Di halaman depan dan samping ditanami tanaman perdu, sehingga kelihatan segar. 
Nama Mak Ti  jadi terkenal di Cowas JP lantaran tulisan Cak Fuad. Ketika tulisan Cak Fu (panggilan akrab Fuad Ariyanto) diikutkan lomba, berhasil meraih juara pertama. Mak Ti yang menjadi asisten rumah milik Mas Aqua memang orangnya ramah. Berkali-kali Mak Ti mengatakan, “Kalau menginap di sini jangan ada perasaan sungkan. Bapak Aqua memang menyiapkan rumah ini untuk teman-teman Bapak. Yang menginap di sini ada pejabat PLN. TNI, beberapa pramugari dari Garuda dan lain-lain. Pokoknya semua teman dan sahabat Bapak yang ke Jogja dipersilahkan menginap di rumah ini”, katanya.

Di ruang tamu malam itu sudah tersedia teh dan air mineral. Di meja ada kripik khas Magelang, kacang, rengginang. Di kamar sebelah ruang tamu sudah tertata rapi. Kamar yang saya tempati tak ubahnya seperti kamar hotel. Handuk, sajadah, selimut sudah sudah siap dalam almari dekat tempat tidur. 

Di dalam kamar ada TV  dan AC.  Pokoknya kamar yang disiapkan membuat nyaman tamu yang menginap di rumah tersebut. 

Saya, istri dan Mak Ti ngobrol di ruang tamu hingga larut  malam.Mak Ti banyak cerita mengenai aktivitas dan kegiatan sosial Mas Aqua. “Bapak itu orangnya tulus dan ikhlas bila menolong orang dan didatangi tamu. Semua dihormati tanpa memandang siapa yang datang ke rumah ini” katanya. Sementara istri  bercerita mengenai pengalaman saya sewaktu kerja di Jawa Pos. “Mak Ti, waktu masih bekerja di Jawa Pos bapak tiap hari pulang larut malam. Alhamdulillah , dan bersyukur sampai sekarang masih sehat,” ujar istri saya.

Usai salat subuh, saya agak kaget. Bau bumbu masakan menyengat hidung. Saya keluar kamar. Mak Ti sudah didapur memasak untuk menyiapkan sarapan pagi. Mak Ti pagi itu memasak oseng-oseng krecek, mie, telur dadar dan menggoreng tempe khas Jogja. Piring dan garpu sudah tertata rapi di meja panjang ruang makan. Sarapan pagi di rumah Mas Aqua layaknya di hotel berbintang. 

“Pak Dirman dan Ibu silakan sarapan dulu. Ayo jangan sungkan, santai aja. Sudah menjadi kewajiban dan tugas saya melayani tamu teman-teman Bapak Aqua”, katanya.

Saya memang tak terbiasa sarapan pagi. Tapi kali ini tak bisa menolak ajakan Mak Ti. Masakan yang tersedia kali pertama yang saya “SERBU”  adalah oseng-oseng krecek. Masakan krecek, yang diolah Mat Ti memang oke. enak dan sedap. Saya sampai beberapa kali mengambil oseng-oseng tersebut. 

Setelah sarapan pagi, saya menerima pesan singkat lagi melalu WA dari Mas Aqua. “ Aww, siap Pak Dirman. Alhamdulillah. Hari ini bapak n ibu mau jalan-jalan ke mana? Jika mau pakai mobil silakan saja. Di garasi ada dua mobil. Makasih banyak Pak Dirman”

Saat itu juga kiriman pesan WA dari Mas Aqua saya jawab: “Mau ke Bringharjo. Naik Grab aja Mas. Gak berani pakai mobil, takut nggak tau jalan dan jalan macet. Terima kasih banyak atas atensinya.” 

Selama dua hari di Sawitsari, saya mendapat perhatian penuh dari Mas Aqua. Begitu juga dari Mak Ti dan dua anaknya. Di garasi memang ada dua mobil yang jarang dipakai. Ada Toyota yang masih gress. Kedua mobil ini juga dirawat oleh Mak Ti. Dua hari sekali dibersihkan dan mesinnya dipanasi. Pekerjaan Mak Ti rumah Sawitsari memang luar biasa. Kalau ada tamu menyiapkan makanan dan lain-lain. Nah, pengalaman Mak Ti menjadi asisten rumah tangga di kediaman Mas Aqua akan saya tulis di edisi berikutnya.(*)

Penulis: adalah Cowaser dan sekarang masih bekerja di Majalah Jayabaya (Jawa Pos Group).

Pewarta : K. Sudirman
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda