Dialog soal Gangguan Pendengaran

Dipasang Alat Bantu, Risih dan Dibuang

Laksma (Pur) Sulantari sedang dialog dengan Junaidi, orang tua Asifahl Aulia Purnama yang gangguan pendengaran. (Foto-Foto: M Nasaruddin Ismail/CoWasJP)

COWASJP.COM – "Dokter. Dulu anak saya dipasang alat bantu dengar. Tapi, ditarik-tarik, dan akhirnya tidak digunakan lagi," kata Junaidi, asal Moyo Utara, Sumbawa, saat dialog dengan Laksma (Pur) dr Sulantari,  pada seminar gangguan pendengaran di RSUD NTB, Minggu siang 9 September 2018. 

"Kalau sudah begitu, yang disalahkan siapa? Anaknya atau orang tua?" jawab Sulantari, dokter spesialis THT yang getol menangani gangguan pendengaran di RS TNI Angkatan Laut (Rumkital) dr Ramelan,  Surabaya. "Harusnya orang tua yang bisa menjaga. Selama masa penyesuaian, pasti anak-anak merasa tidak enak," tambah Sulantari lagi. 

Hadir pada kesempatan itu, Prof Dr dr Zainul Djafar Sp THT-KL (Konsultan) otologi yang sekarang RS THTKL Proklamasi, dr Soekirman Soekin Sp THTKL, ketua Perhati KL Indonesia, dan sejumlah dokter THT dan dokter umum di Lombok. 

Sulantari1.jpg

Junaidi asal Sumbawa itu,  datang bersama Asifah Aulia Purnama, usia 5 tahun 6 bulan, putri sulungnya yang mengalami gangguan pendengaran sejak lahir. 

Pasangan Junaidi dan Ratna Dewisari ini telah melakukan berbagai upaya. Ke Lombok dan Bali pun telah dilakukan untuk mengobati putrinya. Namun,  belum membuahkan hasil. 

Menurut Sulantari, bila memasang alat bantu,  yang proaktif adalah kedua orang tua. Dengan demikian, baru alat tersebut bisa digunakan oleh putra-putrinya. 

Sulantari2.jpg

Setelah mendengarkan penjelasan dr Sulantari, banyak orang tua yang ingin datang konsultasi di Jalapuspa Rumkital dr Ramelan Surabaya. 

Bahkan M Nasaruddin, anggota Rotary Club Surabaya,  yang biasa ikut mengampanyekan penanggulangan gangguan pendengaran, menjanjikan untuk menjemput pasien gangguan pendengaran di Bandara Juanda. Selanjutnya mengantarkan ke Jala Puspa. Bahkan mempersilahkan untuk menginap di rumahnya,  bila sedang terapi di Surabaya. (*)

Pewarta : M Nasaruddin Ismail
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda