Geliat Wisata Lombok di Tengah Gempa (1)

Bule-Bule Masih Bermotor Berkeliaran untuk Surfing

Penulis (kedua dari kiri) dan keluarga berfoto elevasi style memakai jasa foto anak pantai. (Foto-Foto: Makruf/CoWasJP)

COWASJP.COMLombok. Terbayang di benak Anda gempa, semua bangunan roboh, dan para pengungsi. Benarkah demikian? Benar. Tapi tidak semuanya. Karena dampak gempa yang sangat parah memang berada di wilayah Lombok Utara. Bagaimana wilayah Lombok yang lain? Hari ini saya berkunjung berwisata ke Lombok di tengah gempa.

***

Saya dan keluarga (istri dan dua anak) harus berwisata ke Lombok Minggu 9 September 2018, karena 'terpaksa'. Bagaimana tidak. Kami sudah booking wisata ini di travel agent sejak tiga bulan lalu. Ketika Lombok belum terkena gempa. Jadi sebelumnya kami fine saja dan happy.  Kami malah tak sabar menunggu hari H ke Lombok segera tiba.

Lombok pun diguncang gempa kali pertama pada 29 Juli dengan 6,4 scala richter (SR). Saya tidak percaya. Kok gempa. Saya dan rekan peserta mulai was-was. Lombok diguncang gempa kali kedua pada  5 Agustus. Saya dan peserta lain yang tergabung dalam WAG (grup WA) Lombok Tour mulai keder. Kami harus pergi ke Lombok sesuai schedule atau diundur. 

Bagaimana, guys, lanjut atau diundur?'' kata Mbak Shanti, dari Travel Agent Shanti Mega Tour, EO Lombok Tour di WAG. 

makruf9.jpgLombok International Airport di Praya Lombok Tengah mulai menggeliat.

Kami belum bisa menjawab saat itu. Karena kondisinya di Lombok benar-benar diguncang gempa dan menjadi headline pemberitaan online, elektronik, dan printed terus menerus.

Di tengah kegalauan itu, pada 14 Agustus, ada share di WAG, press release dari  Gubernur NTB, Zainul Majdi atau lebih dikenal TGB, Tuan Guru Bajang, tertanggal 12 Agustus 2018 dalam bahasa Inggris. Isinya antara lain gempa pada 5 Agustus 2018 dengan daya 7 scala richter mengguncang Lombok. Episentrum berada di Sembalun, kawasan Lombok Utara. Kawasan lahan pegunungan dan desa-desa terpencil, menjadikan bantuan darurat sulit masuk kali pertama. 

Pulau-pulau dengan nama Gili, Gili Trawangan, Gilimeno dan Giliair adalah kawasan berdampak parah. Sekitar 4.600 penduduk dan wisatawan harus dievakuasi keluar pulau setelah gempa. Sebagian besar korban tewas dari Lombok Utara. Korban meninggal karena kejatuhan reruntuhan bangunan rumah. Tidak ada korban wisatawan asing. Ditekankan, kerusakan terbesar berada di Lombok Utara, sedangkan kawasan Lombok yang lain tidak terimbas.

Kawasan wisata seperti Kuta dan pantai selatan, dan barat daya tidak terkena dampak gempa. Maka kunjungilah.  Dan, Gubernur atas nama pemerintah NTB tetap menyambut wisatawan berkunjung ke Lombok untuk menjaga rakyatnya bisa bekerja dan mempercepat recovery Lombok akibat gempa.

Dengan press release itu, sedikit melegakan kami, peserta. Tapi kemudian Lombok diguncang gempa lagi pada 19 Agustus dengan kekuatan 6,5 SR yang melanda Lombok Timur. Meski demikian, niat kami wisata ke Lombok pantang mundur. Maka kami pun berangkat wisata ke Lombok pada Minggu, 9 September 2018.

Menurut saya, Lombok harus dihidupkan lagi. Berita tidak melulu gempa, tapi harus berita positif. Lombok masih aman untuk berwisata.

Rombongan kami terdiri enam KK yang berjumlah 16 orang. Kami meninggalkan Bandara International Juanda dengan Lion Air, JT 0952 T, sekitar pukul 06.55 WIB, dengan  pesawat Boeing 737-800 NG berkapasitas 189 penumpang. Saya lihat penumpang sekitar 98 persen. Hampir semua kursi penuh meski tempat duduk di sebelah saya kosong. 

Cuaca cukup bagus. Matahari bersinar terang. Penerbangan lancar. Satu jam kemudian, pesawat mendarat mulus di Lombok International Airport di Praya, Lombok Tengah. Bandara ini mulai dioperasikan 1 Oktober 2011 menggantikan bandara lama Selaparang.
 
Setibanya di bandara, arus penumpang pagi itu belum terlihat banyak. Tapi aktivitas bandara mulai hidup, normal. Terlihat beberapa wisatawan bule satu-dua orang.
'Seminggu ini tamu mulai banyak, Pak. Alhamdulilah. Kedatangan penumpang ya... sekitar 70 persen. Saya mengantar barang relawan dan juga wisatawan. Meski wisatawan belum banyak,'' kata M. Ilyas, porter Bandara.

makruf1.jpgSuasana Lombok International Airport terlihat sepi tapi mulai menggeliat.

Ilyas mengakui usai Lombok digoyang gempa, kedatangan wisatawan menurun tajam. Dia berharap kondisi ini segera berakhir. ''Lombok harus dihidupkan lagi, Pak. Ya..supaya kami bisa makan,'' ujarnya 

Kami keluar Bandara. Di luar, juga ramai penjemput dan orang menawarkan taksi dan hotel. Kondisinya terlihat normal.  Tak lama, kami melihat penjemput kami. Lelaki bertubuh gendut dengan memakai udeng dan bawahan sarung dengan celana seperti pakaian adat lelaki Bali. "Selamat datang di Lombok. Nama saya Muhamad Ali,'' sapa penjemput dan juga guide kami. 

Kami kemudian diarahkan ke kendaraan jet bus Elf warna ungu. Kami masuk kendaraan dan meluncur ke tujuan pertama kami, yakni Tanjung A'an. Dalam perjalanan ke wisata tujuan, saya mengamati lalu lintas dan bangunan di sekitar kanan kiri jalan. Ternyata saya tidak melihat rumah atau gedung-gedung roboh. Arus lalu lintas lancar dan normal.

Menurut Pak Ali, yang juga mengemudikan Elf, kondisi wisata Lombok mulai normal. Dalam seminggu ini, dia mulai banyak menerima tawaran untuk mengantar tamu lokal.
''Alhamdulilah mulai ramai, Pak. Meski tidak seramai ketika normal,'' katanya.

Hari itu udara Lombok begitu panas. Sawah dan kebun di kanan kiri jalan mulai "ketawa" "Maksudnya ketawa tanahnya mulai retak-retak. Bukan karena gempa, tapi karena kemarau,'' ujarnya.

Dalam perjalanan itu, Pak Ali bercerita gempa Lombok memang menyedihkan. Karena kejadian ini mengguncang juga bisnis pariwisata. Tapi tidak semua wilayah Lombok kena gempa. Lombok Tengah, Lombok Selatan dan Barat tidak kena gempa. "Yang bikin menangis adalah Lombok Utara. Hampir semua bangunan rata dengan tanah,'' katanya.

Daerah-daerah yang aman dari gempa masih dikunjungi para wisatawan. Tapi kunjungannya tidak seramai ketika normal. Karena warga luar Lombok masih menduga semua Lombok kena gempa. Padahal yang terkena Lombok Utara.

Pantai Tanjung Aan

Tapi yang menarik, meski ada gempa, kata Ali, wisatawan bule sebagian besar dari Australia kelihatannya tak terpengaruh. Mereka tetap berdatangan dan menginap di home stay dan hotel-hotel kecil dekat pantai. Mereka menyewa motor boncengan berpasangan dan meluncur ke Tanjung Aan untuk surfing. "Mereka tidak takut gempa. Bandel saja mereka,'' katanya..

Ketika kendaraan mendekati Tanjung Aan, saya melihat segerombolan bule pria dengan mengendarai empat motor berpasangan melaju menuju pantai. Mereka terlihat membawa peralatan surfing dan mengenakan kaos ala kadarnya.

makruf3.jpg

Kami tiba di pantai Tanjung Aan, disambut anak-anak pantai menawarkan jasa photo selfie. ''Mana pak saya fotokan. Saya bisa bikin foto bapak seakan-akan mendorong batu, bapak bisa melayang dan bapak bisa menjadi dua. Mari-mari pak,'' kata seorang perempuan menawarkan jasanya. Terlihat ada sekitar 10 anak berusia 10-12 tahun, perempuan dan laki.

Pantai Tanjung Aan terlihat bagus. Laut biru dan pantai berpasir putih merica (butih pasir sebesar biji merica). Saya lihat ada tiga mobil pengunjung. Sayangnya jalan access langsung ke pantai banyak berlubang. ''Pemda setempat tidak bisa memperbaiki karena areal pantai milik swasta. Nanti akan dibangun hotel. Bila terbangun, ya pantai tidak bisa dinikmati secara umum,'' kata Pak Ali.

makruf4.jpgSuasana pantai Tanjung Aan yang masih tetap alami dan indah.

Menariknya di Tanjung Aan selain ombak besar dan cocok untuk surfing, dua pantai yang dibatasi tanah perbukitan ternyata memiliki pasir putih berbeda. Satu pantai berpasir putih merica dan satunya berpasir lembut. Pengunjung bisa membawa oleh-oleh dua pasir pantai berbeda ini dengan memanfaatkan botol kecil air mineral. "Pasir merica ini di Jakarta dijual,'' kata Pak Ali 

makruf5.jpg

Bagaimana dengan anak-anak pantai Tanjung Aan? Ternyata mereka cukup lihai menggunakan kamera android untuk selfie pengunjung. Saya dan keluarga mencoba menggunakan jasanya. Hasilnya, memuaskan. Saya bisa difoto dengan gaya elevasi seperti terbang. Saya dan istri bisa difoto dobel. Kok mereka pintar memainkan kamera? ''Mereka dulu ada yang melatih. Lumayan jasanya bisa untuk bayar sekolahnya. Tarifnya beri Rp 5000 saja pak,'' katanya.

Bukit Merese

Setelah berkunjung ke Pantai Aan, kami melanjutkan perjalanan ke Bukit Merese. Bukit ini letaknya bertetangga dengan Pantai Tanjung Aan. Hanya perjalanan sekitar 10 menit, sudah tiba di tujuan.

Tiba di lokasi, terlihat empat mobil terparkir. Kami disambut penjual kaos dan anak-anak menawarkan jasa photo. Kami tidak menghiraukanya dan langsung naik ke bukit. 

makruf7.jpgBukit Merese yang kering dan merangas tapi tetap memunculkan keindahannya.

Pemandangan bukit saat itu kering. Rumput rumput coklat meranggas kering. Bila kunjungan  di bukit ini pada September, kondisinya kering. "Coba bulan Januari atau Februari, maka rumput menghijau dan pemandangannya indah sekali," kata Pak Ali 

Saya dan dua anak saya naik ke puncak tertinggi. Di ketinggian, kami bisa memandang luas pantai biru Tanjung Aan dengan pasir putihnya dan hamparan laut luas biru yang berbatasan dengan wilayah laut Australia. ''Laut ini berbatasan dengan kawasan laut Australia,'' kata Pak Ali. 

makruf8.jpg

Matahari bersinar sangat terik dan hawanya sangat panas. Kami tidak ingin lama-lama di puncak, dan turun. Sekitar 5 menit kami sudah tiba di parkiran. Pintu masuk bukit kini dipasang portal. Portal ini untuk menghalangi kendaraan bermotor naik. ''Biasanya terlihat sepeda motor trail masuk lokasi,'' kata seorang penjual es depan setempat. Kami kemudian lanjut ke Pantai Mandalika Kuta. (Bersambung)

Penulis: mantan wartawan Radar Surabaya.

Pewarta : Makruf
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda