SCBD, Fenomena Liar yang Meresahkan

Andi Atthira, penulis, menyorot tajam fenomena SCBD. (FOTO: Dok. Andi Atthira)

COWASJP.COM – TIDAK membicarakan SCBD rasanya kayak kurang up to date dengan fenomena paling mutakhir di ibukota. SCBD bukan Senayan Central Bussiness District, kawasan yang keren itu. SCBD disini adalah Sudirman, Citayam, Bojong, Depok, sebutan terbaru bagi kawasan Dukuh Atas, dekat stasiun MRT, stasiun Commuter Line dan stasiun kereta bandara, yang sebenarnya termasuk kawasan TOD (Transit Oriented Development). 

Bagi saya pribadi, satu kata untuk fenomena ini adalah MERESAHKAN.

Sekitar akhir April, kurang lebih 4 bulan lalu, saya menginap 3 hari di kawasan Sudirman bersama anak dan istri, sekadar melepaskan jenuh setelah berbulan bulan di rumah saja, kebetulan situasi covid sudah mulai mereda. Hari itu, kebetulan malam minggu, saya jogging malam dari Sarinah sampai ke Karet, sekadar membuang keringat. 

Menjelang pukul 11 malam, saya melewati seputaran stasiun Dukuh Atas, tempat yang lagi viral itu. Ramai sekali. Saya sempat heran kenapa banyak anak alay kumpul disitu? Saya berpikir, oh mungkin karena malam Minggu, sehingga banyak anak anak urban dari pinggiran datang main kesana. Kapan lagi mereka main ke tengah kota ? Berhubung saya selalu penasaran dengan sesuatu yang baru, saya sengaja berhenti sebentar, sekalian rehat mengeringkan keringat. 

Semakin malam makin ramai saja. Banyak abang abang penjual minuman keliling yang dagangannya laris, Kopi Janji Jiwa pun masih buka dengan antrian. Kisaran anak anak yang nongkrong disana rata rata 13-16 tahun. ABG tengah malam berada di jalanan. Tidak jauh dari sana, terlihat ada yang masih malu malu pacaran, dicomblangin teman, didorong dorong agar duduk berdekatan, berduaan, sampai akhirnya ke tempat gelap. Yang pacarannya sudah khatam juga banyak. Semua bisa jadi tontonan disana.

Yang orang liat saat ini mungkin hanya fashionnya yang unik. Bukan unik sih menurut saya, cenderung alay, jorok dan bebas. Bekas minuman, tissue, plastik berserakan dimana mana. Saya tidak tahu apakah setelahnya langsung dibersihkan atau menunggu petugas kebersihan keesokan harinya.

Mendengarkan celotehan mereka, lebih mengejutkan. Seluruh kata kata jorok mengandung alat kelamin dan nama hewan, sepertinya hal biasa di komunitas ini. ”Woi, Njing... buru, kereta terakhir bentar lagi, lo mau ketinggalan,”, “Sabar nape kon**, masih 15 menit lagi, ngen**,” kata kata itu disebutkan dengan fasih dan penuh tekanan, menandakan itu dialog sehari-hari buat mereka. Saya yang mendengarnya ya sudah biasa juga. 

Dari omongan mereka, saya menangkap, kalau tidak sedikit yang memiliki bermalam disana sampai pagi, dengan berbagai alasan ketinggalan kereta terakhir ke Bojong, Depok, Bogor, asal mereka, atau ada juga yang sengaja mau ikut Car Free Day keesokan harinya, padahal saat itu CFD masih tutup. Mereka tidur ala kadarnya, campur baur laki laki dan perempuan. 

Saya sempat berpikir, orang tuanya pada kemana? Apa memang sudah biasa? Yes. Jawaban pertama adalah sudah biasa. Anak anak disana itu sudah biasa keluyuran, sudah biasa tidak pulang, sudah biasa merdeka dan sudah biasa PERGAULAN BEBAS. Saya tekankan pada Pergaulan Bebas disini, karena begitulah kenyataannya, minimal yang baru terjun, akan mengarah kesana. 

athia1.jpgAndi Atthira telah bepergian ke berbagai negeri. Salah satu fokusnya adalah mengamati kehidupan ABG di ruang bebas merdeka. (FOTO: Dok Andi Atthira)

Fenonema SCBD ini, akan menjadi trend bagi ABG sekitaran ibukota. Tidak gaul kalau belum kesana. Sosmed mereka belum sempurna kalau belum foto alay disana.  

Sekitar tahun 2004, saya pernah melakukan investigasi kehidupan malam anak jalanan di Jakarta. Biasanya saya keluar jam 12 malam, tujuan saya bukan ke diskotik atau ke tempat pelacuran, tapi di kolong kolong jembatan dan kolong tol. Saya shock, ternyata di Jakarta ada Sex Bebas anak anak jalanan. Ini fakta. Jadi jangan harap anak anak jalanan laki perempuan yang jualan tissue atau mengamen mencari uang, hidupnya baik baik saja. 

Bahkan ada anak yang usianya 15 tahun sudah menggendong anak, itu anaknya sendiri. Rata rata tidak ada yang mau bercerita secara terbuka, tapi setelah dikasih uang Rp 50.000 informasi apa saja yang saya butuhkan bisa saya dapatkan malam itu juga. Kehidupan bebas di Jakarta ternyata tidak hanya ada di level atas, ketemunya di hotel, tapi juga sampai ke kolong tol dan jembatan. Namanya anak jalanan, tarifnya juga secukup buat makan. Bisa gratis katanya, kalau suka sama suka. 

Jika melihat aura anak anak tanggung yang berkumpul di SCBD itu, umumnya mereka seperti anak jalanan, mungkin yang berani tidur disitu termasuk dalam golongan ini. Selebihnya mungkin banyak anak baik baik yang diajak temannya, akhirnya terjebak dalam komunitas itu. Ini yang saya maksud meresahkan. Kehadiran anak anak tanggung sampai tengah malam di SCBD bukan fenomena yang sehat. 

HARUS DITERTIBKAN

Sebelum fenomena ini bisa menular ke tempat tempat lain bahkan mungkin ke kota lain, sebaiknya harus ditertibkan, bukan dilegitimasi dengan kehadiran pejabat, youtuber, artis, gubernur bahkan tamu asing. Okelah yang terlihat hanya fashion weeknya, tapi apakah mereka memahami bagaimana resahnya orang tua anak anak itu. Kalau anda punya anak gadis, usia 13 dan seterusnya yang sering berada disana, jangan pernah berpikir mereka akan baik baik saja. 

SCBD yang menjadi fenonema sekarang, bukan sesuatu yang sehat, apalagi kreatif. 

Mau seperti Harajuku di Tokyo, atau Gangnam dan Myeongdong di Korea? JAUH. Level atas mau fashin show dimana pun enak dipandang. Mereka yang berkumpul di Harajuku atau Gangnam, terlahir dengan fashion yang sudah keren, bukan tempat anak jalanan atau anak pinggiran rel kereta api berkumpul. Kalau niatnya agar ramai dibicarakan, sesuatu yang lagi rame seperti ini memang bagus untuk didatangi. Tidak heran, para youtuber, artis dan pejabat pun memanfaatkan fenonena ini, agar dibicarakan dan jadi tontonan.

Saya tidak alergi dengan fenomena seperti ini. Saya bahkan sudah sangat terbiasa. Fenomena SCBD justru buat saya tidak mengejutkan. Yang  bikin saya terkejut kenapa tiba tiba ada. Mereka umumnya adalah anak anak tanggung yang ingin mengekspresikan diri, merealisasikan kebebasan mereka di depan orang banyak. Mereka seolah mengekspresikan diri tidak ingin diseragamkan dengan pakaian sekolah atau pakaian tertutup dan lain lain. 

Saya sendiri sebenarnya sudah terbiasa melihat pergaulan anak anak usia belasan tahun di Manila dan Thailand. Malam minggu di Roxas Boulevard di sepanjang pantai teluk Manila adalah contoh sejenis SCBD ini. Itu sudah lama. SCBD malah ketinggalan zaman. Kemerdekaan dan kebebasan pergaulan bebas ABG ABG Manila ya disana tempatnya. Mereka tidak sekadar ciuman, tapi lebih dari itu sudah menjadi hal yang biasa. 

Anak anak remaja di Thailand khususnya di Bangkok, Pattaya bahkan Chiang Mai, atau di Manila dan Cebu City di Philippine sudah lama terjebak pergaulan bebas. Semua dimulai dari nongkrong di jalan. Lebih dari 80 % anak anak setara SMP, baik di Philippine dan Thailand sudah melakukan hubungan badan beda jenis atau sesama jenis. Sekarang hal itu sudah dianggap sesuatu yang jamak, bukan hal tabu lagi.

Citayam Fashion Week jika dilihat dari sisi positifnya, memang menarik. Para kreator sosial media bisa berkarya disana, bisa pamer fashion, soal semini apa pakaiannya tidak jadi masalah, selama tidak pake bikini saja, karena itu bukan pantai. Pelaku UMKM, tukang bakso, abang abang pedagang Starling alias Starbucks Keliling kecipratan cuan. Bahkan pejabat juga bisa makin terkenal jika menyeberang disana.

Okelah, jika warga Jakarta memang siap menerima fenomena ini sebagai sesuatu yang positif dengan mengabaikan sisi negatifnya, juga tidak masalah. Yang penting orang tua pandai pandai saja mengawasi anak anaknya, agar tidak terjebak ke perilaku bebas karena sering berada disana sampai larut malam. Tidak masalah. Kehidupan bebas ABG di jalanan sudah menjadi sesuatu yang lumrah di kota kota besar di negara lain, tergantung kita siap menerima, menghentikan, atau membiarkannya menjadi hal yang wajar juga. Semua kembali pada kita. Tapi jika Citayam Fashion Week dianggap memajukan tren fashion di Indonesia, ya nggak bener juga. Fenomena CFW justru menjatuhkan level fashion week yang sebenarnya. (*)

Penulis: ANDI ATHHIRA, Mantan Wartawan Jawa Pos Group.

Pewarta : -
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda