Wisata Keluarga Panitia Reuni IX CoWasJP di Bali (9)

Doa Terjawab di Courtyard Marriott

Penerimaan hadiah. Dari kiri: Erwan Widyarto, Aqua Dwipayana, Anisah, Fuad Ariyanto, Mak Ti, dan Nurcholis MA. Basyari. (Foto-Foto: Fuad Ariyanto/CoWasJP)

COWASJP.COM – Tepuk tangan bergema ketika saya dan istri memasuki ruang VIP Meat Shop restaurant Courtyard Marriott Hotel, Seminyak, Bali. 

Sabtu malam itu, 1 September 2018, merupakan puncak acara wisata keluarga Panitia Reuni IX CoWasJP di Jogjakarta. Yakni, penyerahan hadiah kepada pemenang pertama lomba karya tulis Reuni IX. Kebetulan saya penerima hadiah itu.

Sebetulnya sejak siang saya sudah menempati kamar suit di hotel itu. Namun, karena Pak Gaspar —driver yang mengantar kami-- harus mengambil door prize dan lain-lain di bandara, maka saya dan istri agak terlambat datang ke tempat acara.

GASPAR.jpgGaspar Ladep.

Diawali makan malam ala hotel bintang lima, kemudian acara dibuka Erwan Widyarto sebagai master of ceremony. (Cerita lengkapnya baca 7 Hal Istimewa Wisata Keluarga Panitia Reuni IX Cowas JP)

BACA JUGA:  7 Hal "Istimewa" di Acara Wisata Keluarga Panitia Reuni IX CowasJP

Semua berlangsung seperti perkiraan. Hanya ada selipan kecil semisal hadiah untuk yang berulang tahun bulan ini, pemberian door prize, dan lain-lain.

Yang sungguh membuat saya surprise adalah hadiah tambahan dari bro Aqua Dwipayana berupa umroh gratis. Wouww…

BACA JUGA: Mak Ti dengan Jins Baru dan Sepatu Kanvas​

Istri saya mengaku tercekat mendengarnya. Beberapa detik napasnya tertahan. Maklum, selama ini dia getol mengajak saya pergi umroh. Tapi, saya agak enggan. Sebab, saya dan istri sudah pernah berhaji pada 2004. ''Sudah cukup memenuhi kewajiban,'' pikir saya. Jika ingin umroh atau berhaji lagi mungkin lebih banyak untuk penawar rindu baitullah.

CAK-AQUA.jpgPenulis (kanan) dan DR Aqua Dwipayana

 Istri saya, Anisah, sudah menabung untuk keperluan ke Mekkah itu. Perhitungannya, tabungan tersebut hanya cukup untuk diri sendiri. Sementara anggaran untuk saya belum tahu dari mana.

Saya sudah menganjurkan agar Bu Anisah berangkat umroh sendiri. Tapi, dia bersikeras agar bisa beribadah bersama. Hampir tiap hari Bu Anisah berdoa agar kami berdua bisa melihat Ka'bah lagi.

BACA JUGA: Karya Kecil Berhadiah Heboh​

Betul, rezeki datang tidak terduga. Hadiah dari bro Aqua merupakan jawaban doa panjang bu Anisah. ''Di hotel ini Gusti Allah menjawab permohonan saya,'" katanya berbisik.

Di Meat Shop itu dia memang tampak tegar. Antara lain, karena saya berusaha selalu cengengesan agar dia tidak larut dalam kejutan itu. Tapi, di waktu-waktu tertentu, dia terhanyut, tenggelam dalam perasaannya. Misalnya, ketika berada di Pantai Kuta, bro Aqua menanyakan kesan-kesannya tentang hadiah kejutan yang saya terima. 

SAMBUTAN-CAK-FU.jpgSambutan setelah menerima hadiah.

Dia yang semula bercandaria, akhirnya tak mampu juga menahan air matanya. Dia menjawab sambil terbata. Bersyukur, sungguh bersyukur. '"Nikmat manakah yang engkau dustakan?" Dia berbisik menyitir surah Ar-Rahman.

BACA JUGA: Seorang Driver Belajar Ikhlas​

Hadiah tersebut memang memberi peluang bagi saya dan Bu Anisah untuk melakukan umroh bersama. Insya Allah bersama teman-teman lain yang tergabung dalam jamaah the Power of Silaturrahim (POS) III.

Patwal Koboi Drivers Lihai

Bukan hanya pemenang karya tulis yang mendapatkan hadiah kejutan malam itu. Tiga drivers, satu provos, dan satu petugas patwal (patroli dan pengawalan) dengan istri masing-masing, juga mendapatkan hadiah. Yakni, jalan-jalan ke Jogja. Tranpor pesawat PP, akomodasi, konsumsi, plus uang saku dari bro Aqua. '"Tolong Anda berembuk, tentukan harinya, lalu hubungi saya,'' kata Aqua.

BACA JUGA: Membeli Kebahagiaan​

Hubungan Patwal, drivers, dan Provost dengan rombongan memang bagus. Apalagi, di setiap perjalanan Patwal dari PJR Polda Bali, Aiptu Subiyono, yang berada di depan bus selalu atraktif dalam menyibak deretan mobil di depan.

Patwal kelahiran Desa Janti Ganggong, Perak, Jombang itu hampir tidak pernah memegang setir motor dengan kedua tangannya. Kiri-kanan bergantian meminta mobil-mobil menepi. Sekali-kali dia menggunakan pelantang suara di motornya.

Jalanan Bali yang sempit hanya cukup untuk dua deret mobil satu jalur. Untuk membuka jalan, pria 54 tahun biasa menyibak dari tengah dengan Yamaha 900 CC-nya. Meminta mobil sebelah kiri menepi ke kiri, yang kanan menepi ke kanan. Dengan demikian bus bisa lewat tengah. 

SUBIYONO.jpgSubiyono (kiri) dan Wayan.

Kadang, dia menjalankan motornya dengan zig-zag. Memelototi sopir-sopir mobil yang bandel. Tapi, Subiyono juga tidak segan mengacungkan jempol pada pengemudi mobil yang memberikan jalan.

Sebelum tiba di perempatan pria dengan kumis tebal itu selalu mengontak Polantas yang bertugas di sana. Dengan demikian, kendaraan rombongan hampir tak pernah berhenti di perempatan.

Sejak muda Subiyono memang terobsesi membawa motor. Lulus SPN (Sekolah Polisi Negara) Singaraja pada 1987/1988, dia bertugas di PRC (Polisi Reaksi Cepat). Hanya setahun kemudian dipindah ke PJR (Patroli Jalan Raya).

Kali pertama dia bertugas dengan motor kecil, 250 CC. Kemudian meningkat 400 CC, 500, 600, 700, dan kini membawa motor gede 900 CC. Subiyono bahkan pernah membawa motor 1.000 CC.

SUBIONO.jpgSubiyono.

Mengawal rombongan tidak mudah. Antara Patwal dan driver yang dikawal harus seirama. Jarak harus konstan agar yang dikawal tidak tertinggal.

Dia mengaku baru sekali itu mengawal bus Korem 163/Wira Satya dengan driver Wayan Sulastra. '"Dia (Wayan) hebat. Saya lihat cara dia ngerem, cara belok, ok. Wees cocok,'' katanya sambil tersenyum. 

WAYAN-BUS.jpgWayan di depan bus yang membawa rombongan.

Dengan kumis tebal, apalagi memakai kaca mata hitam, Subiyono memang tampak sangar. Tapi, sebetulnya dia sangat santun dan ramah. 

Ada tiga kendaraan yang dikawal Subiyono. Bus dengan driver Kopka Wayan Sulastra plus Provost Syahrudin, Toyota Rush dengan driver Kopka Gaspar Lede, dan Toyota Innova yang dibawa Koptu Mes Ahmad Wahyudi dari Lanal Denpasar.

PENGAWAL1.jpgDari kiri: Wayan Sulastra, Ahmad Wahyudi, Syahrudin, Gaspar Ladep, dan Subiyono.

Mereka memuji Subiyono yang kreatif membuka jalan. Ketika menuju Tanah Lot misalnya, satu jalur jalan penuh kendaraan dan berhenti di perempatan. Tapi Subiyono jalan terus menggunakan jalur kendaraan dari arah berlawanan. Dia mengambil jalan sebelah  kanan tugu yang berada di perempatan dan menghentikan lalu lintas dari kanan untuk memberi jalan pada rombongan. "Gila bener bapak (Subiyono) itu, suka saya. Kalau Patwal lain mesti berhenti kita,'' kata Wayan.

Pria asli Singaraja itu mengaku senang meski kadang dia ngebut, berbelok tajam (ngepot), rombongan tetap menikmati tanpa protes. 

Pria 34 tahun itu kadang memang membuat terkesiap. Misalnya, dalam perjalanan ke Bedugul yang menanjak, tiba-tiba bus berjalan zig-zag. ''Wayan ini ngantuk apa bagaimana,'' pikir saya yang duduk paling depan.

''Saya tidak sedang bergaya Din'', katanya pada Syahrudin. ''Ini namanya teknik mengayuh. Kalau nggak gini bus nggak jalan,'' lanjutnya.

Aqua Dwipayana, pemrakarsa sekaligus penyandang dana wisata keluarga itu mengucapkan terima kasih kepada Danrem 163/Wira Satya Denpasar Kol Arh Suharyadi yang telah menugaskan driver terbaik untuk rombongan.  Demikian juga pada Danlanal Bali Kol Laut (P) Henricus Paska, serta Kapolda Bali Irjen Pol Petrus Reinhard Golose yang telah menugaskan Patwal terbaiknya. (Habis)

Pewarta : Fuad Ariyanto
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda