opini

Olahraga Mempersatukan Bangsa

Foto-Foto: Istimewa

COWASJP.COM – Hanifan Yudani Kusumah, salah satu peraih medali emas Asian Games dalam cabang pencak silat, layak dicatat dalam sejarah. Berkat perannya, dua orang yang kini menjadi pusat pembicaraan di Indonesia bersatu dalam pelukan. Usai menerima medali emas, Hanifan minta presiden RI Joko Widodo dan  Presiden Persekutuan Pencak Silat Antarbangsa (Persilat).Prabowo Subianto berangkulan dalam balutan bendera merah putih. Ketiganya pun berangkulan dalam suasana penuh bahagia campur haru.

Dua orang yang selama ini oleh khalayak dikesankan bermusuhan, ternyata mau bersatu ketika sama-sama untuk kepentingan bangsa. Jokowi dan Prabowo saat ini secara politis memang berada dalam posisi saling berlawanan, karena keduanya terlibat dalam kontestasi pemilihan presiden tahun depan. Keduanya sudah terlanjur dikesankan sebagai musuh bebuyutan, bukan hanya dalam pilpres tahun depan, tapi sudah terjadi sejak pilpres 2014.

Setelah kekalahan dalam pilpres 2014, Prabowo dan pendukungnya menempatkan diri sebagai oposisi. Saat itulah dimulai perseteruan yang sangat sengit dalam berbagai arena, politik, pemerintahan dan kemasyarakatan. Khalayak seolah-olah terbelah menjadi dua kubu, kubu Jokowi dan kubu Prabowo. Perseteruan berlanjut dalam Pilkada serentak tahun ini, ketika partai pendukung dua orang ini saling berhadapan dalam pertarungan politik. Perseteruan semakin tegang dengan hadirnya media, baik mainstream maupun media sosial. Banyak yang cemas, perseteruan kedua kubu ini akan semakin meruncing dalam hajatan pilpres tahun depan.

Tapi apa yang terjadi di arena Asian Games itu setidaknya menghapus kekhawatiran akan munculnya gesekan yang membahayakan. Momen dua orang itu berangkulan dalam balutan merah putih menjadi pembicaraan nasional. Semua media memberitakan dengan porsi yang besar. Diskusi politik terjadi mulai dari gedung parlemen sampai jagongan di warung kopi. Mayoritas mengapresiasi momen tersebut sebagai sinyal positif menghindari konflik pendukung dua tokoh ini. Kalau kedua pemimpinnya bisa rukun, seharusnya para pendukung yang di bawah bisa melakukan hal yang sama.

Untuk konteks saat ini, hanya olahraha yang mampu menyatukan dua kubu yang sebelumnya bersaing keras. Bukan hanya dalam level nasional, Asian Games Jakarta juga mampu menyatukan dua negara di semenanjung Korea yang  sudah lama tidak saling sapa. Korea Selatan dan Korea Utara, sudah lama memisahkan diri dan bermusuhan karena perbedaan ideologi, yang utara komunis dan selatan nonkomunis. Di ajang Asian Games ini kontingen dua negara itu bersatu. Tentu ini imbas dari keinginan pemimpin dari dua negara itu yang sudah mulai melakukan pendekatan untuk rujuk.
Itulah sifat universalitas olahraga yang menghilangkan sekat politik, ideologi dan kebangsaan. Dalam multieven seperti Asian Games ini, masing-masing negara berkumpul dalam barisan sendiri. Biasanya, saat penutupan barisan bukan berdasar negara tapi sesuai cabang olahraganya, sehingga saat itu atlet dari berbagai negara berkumpul dalam satu barisan cabang olahraga.

POLITIK DAN OLAHRAGA

Banyak yang alergi dan memisahkan antara politik dan olahraga, tapi dalam konteks tertentu keterlibatan politik dalam olahraga tidak bisa dihindarkan. Salah satu contoh yang sedang aktual adalah Asian Games di Indonesia. Sebagian politisi negeri ini ikut terlibat di dalamnya, baik sebagai penyelenggara maupun sebagai pemimpin organisasi cabang olahraga. Maka tak heran bila momen ini digunakan untuk pertunjukan politik. 

Saat opening ceremony, khalayak dihebohkan dengan aksi presiden Jokowi yang mengendarai motor ke stadion. Tak lupa dalam video itu ditunjukkan aksi akrobatik presiden dalam mengendarai motor – belakangan diketahui aksi itu menggunakan stunt man. Aksi itu menimbulkan kehebohan. Ada yang bangga dengan aksi heroik tersebut, meskipun tetap saja ada yang nyiyir menyebut sebagai aksi berlebihan dan membohongi publik. Apapun alasannya, Jokowi berhasil memanfaatkan momen olahraga itu untuk popularitasnya. Itulah politisi,momen apa pun bisa dimanfaatkan untuk kepentingan dirinya.

Bagaiamana dengan Prabowo ? Setali tiga uang. Keberhasilan tim pencak silak menyapu bersih medali dalam Asian Games tidak bisa dilepaskan dari kiprah ketua Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI). Bahkan beberapa peraih medali emas menyatakan terima kasihnya kepada Prabowo atas keberhasilan tersebut. Nama Prabowo pun berkibar di arena Asian Games. Tak ayal dia menjadi superstar atas sukses Indonesia menempati peringkat empat perolehan medali. Indonesia berada di bawah Cina, Jepang dan Korea. 

Dari medali emas yang diperoleh Indonesia, hampir 50 persen disumbang dari cabang pencak silat. Wajah Prabowo pun berseri-seri. Dia hadir dalam beberapa partai final, baik untuk mengalungkan medali maupun untuk mendampingi pejabat negara. Selain ketua IPSI, Prabowo juga presiden pencak silat internasional. Dia berkepentingan secara organisatoris untuk mendampingi atlet binaannya berlaga dalam even besar membela nama bangsa. Sebagai politisi dia juga memanfaatkan momen itu untuk kepentingan pilpres tahun depan.

Memang sulit memisahkan olahraga dari politik. Sebenarnya bukan soal persaingan dalam politiknya, tapi bagaimana olahraga mampu menyatukan orang atau kelompok dalam satu kesatuan. Jokowi dan Prabowo saling berpelukan karena keduanya punya kepentingan yang sama, membawa nama bangsa ini ke kancah internasional. Keduanya melupakan kepentingan politik – yang berpeluang untuk saling berpecah belah – dan mengutamakan kepentingan bangsa. 

Kalau Jokowi dan Prabowo rukun dalam satu kekuatan merah putih, seharusnya para pendukung di lapisan bawah bisa melakukan hal yang sama. Bukankah para pemimpin negara dan politik itu adalah panutan. Pemimpin harus bisa memberi contoh yang baik kepada pengikutnya. Kedua pemimpin itu sudah memberi contoh untuk bersatu, seharusnya para pengikutnya melakukan hal yang sama. Hentikan caci maki, sumpah serapah dan saling menjelekkan satu dengan yang lain. Lihatlah para atlet itu, mereka berjuang bekerja keras untuk membawa harum nama bangsa. Jerih payah mereka berhasil menyatukan perbedaan dalam satu Indonesia. (*)

Pewarta : Husnun D Juraid
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda