Reuni Cowas JP IX di Jogja (22)

Mbah Maridjan Berteman Akrab dengan Bangsa Lelembut

COWASJP.COM – Banyak pelajaran yang bisa diambil dari dari liburan Lava Merapi Tour Cowas JP di Jogjakarta 11-12 Agustus lalu.

Ide mengunjungi desa Kinahrejo Umbuharjo, Cangkringan, Sleman merupakan terobosan baru di tubuh Cowas JP dalam menggelar reuni ke-9 sekaligus HUT ke-3 itu. 

Liburan dalam bentuk reuni bisa disebut wisata sejarah sarat edukasi. Tak hanya hura-hura dan berkangen-kangenan semata. Tetapi ada banyak pesan moral di dalamnya. 

Reuni yang digelar di desa Pentingsari menjadi kegiatan benar-benar "penting" dalam merefleksikan sejarah adanya tokoh penting terhadap kesetiaan dalam mengemban tugasnya.

Erupsi Merapi menjadi perhatian tidak hanya nasional. Melainkan internasional. Besarnya korban jiwa mencapai 300 orang lebih dengan ribuan warga mengungsi, membuat batin teriris. Tahun 2010 merupakan erupsi Merapi terbesar selama 100 tahun. 

Dan, panitia reuni kang Erwan Widiarto, kang Adib Lazwar dan utamanya pak Aqua Dwipayana menyuguhkan fasilitas liburan yang tidak saja nyaman, enak ditonton. Tapi juga banyak tuntunan yang layak kita teladani bersama. Utamanya saya. Salah satu pelajaran penting tidak lain, memperbanyak silaturahim dengan ciptaan Illahi Robbi. Silaturahim itulah yang membuat Mbah Maridjan punya banyak teman dari berbagai kalangan. Tidak hanya manusia belaka. Melainkan bangsa jin dan lelembut

panitai.jpgPanitia Reuni CoWasJP berfoto bersama Aqua Dwipayana (keempat dari kanan) dan Mas Ero (ketiga dari kanan)

Teman-temannya inilah yang selalu membantunya dalam banyak hal. Tentu saja terkait dengan pekerjaannya sebagai juru kunci Merapi.

Pasca dilantik sebagai juru kunci secara resmi oleh Hamengku Buwono IX tahun 1982, Mbah Djan--demikian keluarganya menyapa--selalu jadi jujukan pecinta alam (PA) dan para pendaki gunung  yang hendak melakukan aksinya. Biasanya, sebelum naik, para PA sowan lebih dulu ke Kinahrejo. Mertamu ke rumah Mbah Maridjan untuk minta ijin naik ke Merapi. 

BACA JUGA: "Bertemu" Mbah Marijan Yang Tetap Rosa​

Tidak segan, Mbah Djan menanyakan berapa jumlah rombongan dan nama-nama yang ikut mendaki. Banyak wejangan yang disampaikan pada mereka. Utamanya apa yang boleh dan yang tidak boleh dilakukan. 

SENTONG

Sebelum memberikan sinyal boleh, kadang Mbah Djan masuk ke dalam "sentong" yang ada di dalam kamar rumahnya. Inilah komunikasi yang dilakukan Mbah Djan dengan rekan-rekannya di atas. Jika diijinkan, semua boleh naik. Tetapi jika tidak, jangan sekali-sekali melanggar, kalau tidak ingin pulang tinggal nama saja. 

Perilaku inilah, yang membuat Mbah Djan mendapat julukan khusus. Dukun sakti Merapi oleh banyak kalangan. Tidak hanya itu. Mbah Maridjan  juga jadi sahabat tim SAR jika ada kecelakaan atau bencana hilangnya pendaki. Hal ini dilakukan, jika tim resmi bentukan pemerintah tidak menemukan korban di saat melakukan pendakian. Ucapan Mbah Djan titis (tepat). Apa yang disampaikan selalu tepat. 

Pernah ada kejadian pendaki hilang selama seminggu. Teman sesama pendaki bersama tim SAR sudah mencari bersama. Karena hasilnya nihil, tim inipun mendatangi Mbah Maridjan untuk minta bantuan. Komunikasi dengan sahabat-sahabat ghoibnya dilakukan dengan caranya. Masuk ke dalam "sentong" yang ada di dalam rumahnya. 

mbah-ponirah.jpgPenulis saat berbincang dengan Mbah Ponirah (kanan isterinya almarhum mbah Maridjan)

Hasilnya, jos!  Korban ditemukan dalam kondisi seperti yang disampaikan. Lengkap dengan jam dan lokasi yang harus didatangi. Anehnya, sebelum itu tim SAR sudah "mengobok-obok" lokasi yang disebutkan mbah Maridjan. Subhanallah. 

Kebanyakan, pendaki yang hilang atau mengalami bencana,  ini tidak minta ijin terlebih dahulu. Khususnya pada abdi dalem Kraton yang menuruni profesi bapaknya tersebut.  Bisa pula yang melanggar aturan yang sudah disampaikan sebelum naik. Itulah yang menjadikan Kinahrejo jadi sentral pendakian kala itu.

Titisnya Mbah Djan dalam bertutur-kata membuat banyak kalangan mencarinya. Tidak sekedar menemukan pendaki, tetapi juga hal lain. Mulai pilihan lurah,  kepala daerah maupun hingar bingar politik era Orba.

BALE LABUHAN DALEM

Tetapi yang paling penting, tugas Mbah Djan menjaga masyarakat Jogjakarta dari bahaya erupsi Merapi. Tugas yang diberikan HB IX. 

Amanah itulah yang membuat bapak 10 anak ini harus sering naik ke Bale Labuhan Dalem. Terlebih,  jika Merapi sudah menunjukkan aktivitasnya. 

Bale Labuhan Dalem merupakan sebuah tempat tertinggi yang jaraknya kurang lebih 500 meter dari kawah. Di tempat berupa pelataran di puncak Merapi itu menyerupai  bale-bale dari batu gunung.  Kabarnya batu besar dikuasai sosok ghaib bernama Prabu Jagad. Di tempat leter (datar) itulah, Mbah Djan berdoa khusus agar masyarakat terhindar dari letusan yang datang antara 2-5 tahun sekali.

mbah-marijan.jpgPetilasan Mbah Maridjan

Bale ini jugalah, yang dijadikan tempat upacara/ritual besar secara rutin. Setahun ada 2 kali upacara besar. 

Salah satu acara besar, memperingati penobatan Sri Sultan Hamengkubowono I di tahun 1755. Upacara labuhan dilakukan di 3 tempat. Gunung Merapi, Gunung Lawu dan Pantai Parangkusumo. 

Ritual di Gunung Merapi dipimpin langsung oleh Raden Ngabehi Surakso Hargo1 dengan busana lengkap. Bersorjan, kain batik dengan blangkon mondolan. Sedangkan para perempuan mengenakan kemben, sinjang kain batik motif tertentu, tanpa alas kaki. 

Biasanya, ritual besar dilakukan  25 bakda mulud secara serentak di tiga lokasi itu. Benda yang dilabuh cukup banyak ragamnya. Di antaranya sinjang (kain panjang) motif limar, motif Cangkring, kain penutup dada, penutup kepala, kemenyan, ratus, param, uang, juga beberapa barang bekas milik Sri Sultan (lorodan agem dalem), serta beberapa jenis makanan tradisional, termasuk apem. 

Mbah Maridjan memimpin upacara  dengan doa-doa khusus. Baik doa dalam bahasa Arab mapun Jawa.

Uniknya, di lokasi tertinggi dari Merapi cukup terjal. Peserta labuhan tidak hanya orang tua. Melainkan remaja dan kadang juga anak-anak. Seluruh peserta wajib mengenakan baju tradisional. Tidak memakai alas kaki pula. Bisa dibayangkan, betapa ribetnya ...!!! 

Tetapi mereka enak saja. Naik dan turun lembah terjal nan curam dilalui dengan mudah. Tanpa lelah. 

Sumardi Mardisoekismo (85) pelopor Desa Wisata Pentingsari mengatakan, jika tugas yang diberikan Ngarso Dalem pada sahabatnya itu karena Mbah Mardijan linuwih (punya kelebihan) sejak kecil.

mbah-udi27e9d7.jpg

 "Ngarso Dalem itu kalau menunjuk seseorang tidak sembarangan. Beliau tahu  siapa-siapa yang harus diberi mandat," tuturnya berkisah tentang sahabat yang telah mendahului.

Makanya, kata Sumardi lebih lanjut, banyak orang heran dengan sikap sahabat yang juga seniornya itu.  Ketika Merapi "batuk" Mbah Maridjan malah naik ke atas seorang diri.  Mendekati pusat lava untuk "berkomunikasi" dengan "temannya" . Menanyakan apa yang harus dilakukan agar masyarakat sekitar terhindar dari bencana. 

Dekatnya, Mbah Mardijan dengan "penguasa" Merapi itulah yang menjadikan Desa Kinahrejo aman-aman saja, ketika Merapi "ngamuk" puluhan kali. 

Padahal, lokasi Kinahrejo yang hanya 4 km dari puncak menurut Dinas Vulkanologi sebagai kawasan terlarang. Inilah yang membuat Mbah Maridjan jadi panutan warga, jika Merapi mulai mengeluarkan aktivitasnya. 

"Bagi kami Merapi itu sahabat kita semua. Abunya jadi pupuk warga yang kebanyakan bertani," terang Sumardi lagi. 

Hanya saja, katanya lebih lanjut, warga harus waspada terhadap awan panas yang populer disebut wedhus gembel. Karena panasnya bisa menghanguskan apa saja. Termasuk Mbah Maridjan yang ikut jadi korban dalam erupsi 2010 lalu. 

Ditanya apakah, hancurnya Kinahrejo dan sekitarnya karena sahabatnya itu "cidro janji"?  Sumardi menggeleng. "Itu kehendak Tuhan. Semua yang ada di bumi milik Engkang Murbeing Jagad. Jadi ya, pasti kembali. Cuma, caranya berbeda-beda. Kang Djan "kembali" dalam mengemban amanah dari HB IX," terang lelaki yang pernah menjadi atlet Timnas Sepakbola Ganefo 1963 pada penulis.

MBALELO MENEPI KE SRIMANGANTI

Gigihnya mengemban amanah dari junjungannya HB IX menjadikan Mbah Maridjan mbalelo saat HB X memerintahkan seluruh warga yang masih di atas merapi turun gunung menuju pengungsian, Oktober 2010 lalu. 

Pasalnya, Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi kegunungapian (BPPTK) Jogja, menyatakan awan panas bersuhu 600-800 derajat celsius berkecepatan 300 km/jam sewaktu-waktu turun. 

Utamanya, juru kunci Merapi mbah Maridjan yang jadi panutan warga masih bertahan di rumahnya Kinahrejo.

Permintaan yang disampaikan melalui utusan khusus kepada Maridjan tidak hanya dilakukan sekali. Melainkan dua kali.

mbah-marijan-oye.jpg

 Permintaan sekaligus perintah penguasa tertinggi kerajaan ditolak mentah-mentah oleh Maridjan. Sebaliknya, bukan mengindahkan Rajanya, 
sang "Rosa" malah naik ke Merapi. Tepatnya ke Srimanganti. 

Sebuah tempat yang jadi pos pertama pendakian gunung berapi terbesar di Jawa itu.  Tempatnya berupa dataran berhiaskan beberapa batu besar muntahan dari perut gunung. Hampir sama dengan lokasi Batu Alian yang kini jadi salah satu spot wisata paling populer. 

Konon Srimanganti merupakan pintu gerbang utama menuju kraton Merapi yang dijaga dua mahluk ghaib. Informasinya tempat ini sekaligus tempat peristirahatan pendaki, setelah Kinahrejo. 

Kabarnya, penjaga gerbang kerajaan ghoib bernama Eyang Permono dan Eyang Permadi. Dua sahabat inilah yang diajak berkomunikasi akan adanya "hajat besar" kraton Merapi. 

"Percaya atau tidak tentang mahluk ghoib, monggo saja. Bukankah Tuhan Yang Maha Kuasa menciptakan golongan manusia dan jin, " tambah Sumardi seraya menyitir Al Quran.
Sebelum naik ke Srimanganti, Mbah Maridjan minta seluruh penduduk, tidak terkecuali keluarganya untuk turun dan mencari perlindungan. 

Selain mengikuti anjuran pemerintah, Mbah Maridjan minta agar warga menyelamatkan diri terhadap akan datangnya awan panas dan lahar. Inilah yang diartikan sebagai  gawe besar kraton Merapi. Makanya bunyi bergemuruh.

NDAK DIGUYU PITHiK

Mbah Udi (83)--adik bungsu mbah Maridjan membenarkan, jika dirinya dan anak-anaknya diminta turun.

 "Kowe muduno nduk, karo anak-anakmu. Aku tak nang kene wae. Mengko ndak diguyu pithik, nek aku mudun. Wong aku diutus Ngarso Dalem IX njogo, je," tutur mbah Udi sambil menggoreng ketan. 
(Kamu turun saja dengan anak-anakmu. Aku di sini saja. Nanti ditertawakan ayam, kalau saya turun. Karena saya ditugasi Sultan Hamengku Buwono IX untuk menjaga).

mbah-udi151cbc.jpgMbah Udi di tengah menggoreng jadah di warung miliknya. Serta pelopor desa wisata Pentingsari...

Kalimat "ndak diguyu pithik" itulah yang selalu terngiang di telinganya hingga saat ini. Sambil berkata demikian, kakak tertuanya berpesan agar selalu memegang amanah terhadap kepercayaan yang diberikan siapa pun. 

Ucapan yang jadi wasiat kakak tercinta itu kemudian diabadikan dalam sebuah banner yang dipasang di atas petilasan sang penunggu gunung Merapi. 

Ucapan itu berbunyi "Ajining Manungso iku Gumantung Ono Ing Tanggung Jawabe Marang Kewajiban" (kehormatan manusia dinilai dari tanggung jawab terhadap kewajiban).

Kalimat itu kerap kali diucapkan kakaknya pada siapa pun. Tidak terkecuali pada tim penyelamat maupun utusan Raja saat membujuk orang "kuat" Merapi itu turun dan mengungsi.

"Insya Allah, kami akan menjalankan sekuat tenaga, mengingat itu wasiat Kang Djan," ujar Mbah Udi seraya melap air matanya yang hendak menetes dengan lengan bajunya.

Berbagai cerita tentang sosok Mbah Maridjan dari keluarga dan sahabatnya, sebagai penulis, banyak yang bisa ditiru. Kesetiaan akan amanah. Ketulusan menjalankan tugas, merupakan hal yang harus diteladani. Kendati seorang Maridjan tak mengenal pendidikan tinggi. 

sumardiok.jpg

Kini, delapan tahun sudah RNg Suraksohargo1 sudah kembali pada Sang Pemilik Jagad. Meski pemilik jargon Rosa..Rosa..Rosa itu telah tiada, tetapi nafas dan dedikasinya tetap abadi. Rosa..Rosa..Rosa akan selalu diteriakkan pengunjung yang berwisata di Lava Tour Merapi. 

Kalimat Rosa..Rosa..Rosa seolah menyuarakan kekuatan mengemban amanah, kendatipun nyawa taruhannya. Sugeng tindak Mbah Maridjan. Merapimu akan selalu memberi kehidupan dan penghidupan warga, kendati ragamu menyatu dengan tanah. Al Fatehah (bersambung)

Pewarta : Ita Siti Nasyi’ah
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda