Reuni Cowas JP IX di Jogja (20)

Transformasi Spiritual Tofan Mahdi

Tofan Mahdi (kanan) dan Dono Marwoto

COWASJP.COM – Minggu petang 12 Agustus 2018, ketika sebagian Cowasers sudah kembali ke tempat masing-masing, ketika rasa penat mulai mendera tubuh, Aqua Dwipayana, panitia sekaligus penyandang dana Reuni IX CoWas JP di Jogjakarta, mengajak makan malam.

Delapan orang Cowasers yang belum pulang serta panitia dan keluarganya diangkut dengan dua minibus ke rumah makan Handayani. 

Delapan Cowasers itu, Abdul Muis (amu), Joko Intarto (jto), Sulaiman Ros (ros), Tofan Mahdi (fan), Husnun Nadlor Djuraij (nun), Ahmad Sukmana, Uha Bahaudin, dan saya.

ero.jpg

Sedangkan pihak panitia, selain Aqua dan putranya Savero, ada Erwan Widyarto beserta anak-istri, Adib Lazwar Irchamni beserta anak-istri, Mas Darmadi, pendamping Savero, dan dua driver.

Jumlah tempat duduk di ruang VIP itu pas dengan tamu yang hadir. Tak lama kemudian, Tofan spontan memberikan sambutan. Kesan mendalam rangkaian acara yang dikemas apik dan kerja keras panitia yang rapi, tampaknya membuat Tofan ingin segera berkomentar.

tofan-mahdi1.jpg

Mulai penempatan peserta di rumah-rumah penduduk, kembulan bareng di pendopo desa, senam pagi yang menyenangkan, serta wisata lava yang menantang, tak pelak membuat Cowasers makin akrab dan terkesan.

Cindera mata berlimpah dan door prize membeludak yang jatuh tepat sasaran juga membuat suasana sentimental. Haru, gembira, bahagia.

Tofan memuji kerja ekselen panitia yang profesional dan bersih. Tak terdengar satu pun keluhan dari peserta. Hal itu tentu tak terlepas dari sikap dan perilaku Aqua yang mengedepankan persaudaraan dan silaturrahim. 
 Vice President of Communication Astra Agro Lestari itu mengaku belum lama kenal dekat dengan Aqua. Bahkan, ketika kali pertama mendengar kiprah motivator itu, dia berseberangan pikiran.

Namun, ketika Aqua meluncurkan sentuhan silaturrahim ke titik rawannya, hati Tofan pun meleleh. Bahkan, interaksi aktif dengan Aqua belakangan, menginspirasinya untuk berbuat serupa. Silaturrahim dengan hati bersih tanpa pamrih, berbagi, menyantuni.

aqua-dwipayana-ok.jpg

Yang cukup mengagetkan, kini Tofan mengaku sedang mengalami fase transformasi spiritual.  Selama ini Tofan menjalani hidupnya berdasarkan logika. Merancang, mengkalkulasi peluang, menjalani, dan mengambil keputusan murni dengan perhitungan logika.

Namun, pengalamannya mengajarkan bahwa tak selamanya logika mampu menjawab obsesinya. Kalkulasi secara logika bisa masuk, eh…ternyata mbeleset. Mengapa? 

Di sinilah buah interaksi dengan Aqua berperan. Dia mengurangi peran logika. Jika selama ini logika di-gas pol, kini mulai di-rem. Dia ganti mengedepankan peran hati. Sabar, pasrah kepada Allah, berbagi, silaturrahim, doa, dan sebagainya. Ternyata hasilnya ekselen. Masya Allah.

ero4.jpg

Bahkan, kini Tofan bertekad mengikuti jejak Aqua. Suatu saat dia akan bekerja mandiri, jadi bos diri sendiri. Sebagaimana banyak diketahui, sebelum menjadi motivator terkenal, Aqua bekerja sebagai wartawan kemudian jadi karyawan PT Semen Cibinong (kini Holcim). 

Saya yakin kalkulasi Tofan mantap, on the track. Aqua mengapresiasi ungkapan hati Tofan tersebut. Dia yakin Tofan bakal berhasil memenuhi cita-citanya. Dia cerdas, pikiran terbuka , dan tak segan belajar dari orang lain.

 Silaturrahim yang intens dilakukan Aqua diakui memudahkannya mencari sponsor, door prize, bantuan tranportasi, dan lain-lain. Hampir semua perusahaan swasta maupun BUMN yang dikontak via WA tak ada yang menolak. Bahkan, panitia yang menolak sponsor maupun door prize karena berlebih. 

Sekadar tahu, ketika Jawa Pos menunjuk Zainal Muttaqin (Zam) sebagai pemimpin redaksi (pemred), dia meminta saya membantunya sebagai wakil. Saya juga diminta mencari seorang lagi sebagai rekan karena Zam --sebagai bos Kaltim Post-- lebih banyak di Balikpapan. Saya pilih Tofan .

ero2.jpg

Pertimbangan saya, Zam tak akan lama sebagai pemred, sementara saya menjelang uzur sehingga Tofan lah pemred yang akan datang. Ternyata, takdir punya jalur sendiri. Kepemimpinan kami —Zam, saya, dan Tofan— hanya berjalan sekitar tiga bulan. Zam kembali ke Kaltim, Tofan melompat ke Astra, sementara saya dengan sabar menunggu pensiun..hehe..

 Selain Tofan, testimoni lain malam itu diungkapkan Ustad Husnun. Sekitar 1990-an Nun yang waktu itu belum berpredikat ustad, bertugas di Jawa Pos biro Semarang. Suatu saat dia ditugaskan ke Malang.

Mungkin karena kesibukan masing-masing, para wartawan biro Malang tak bisa segera melayani Nun. Tiba-tiba seorang wartawan yang tampak culun menghampirinya, mengajak ngobrol, kemudian mengantarnya ke tempat tujuan Nun dengan motor Suzuki butut. Wartawan itu, ternyata Aqua.

ero1.jpg

 Intinya, perilaku Aqua yang gemar menolong itu tidak hanya dilakukan ketika dia sudah kaya raya. Tapi, kala tak punya apa-apa pun dia dengan iklas memberikan pertolongan. Persis yang diakukan Mak Ti —kepala rumah tangga Aqua di Jogja—sekarang.

Baca JugaBak Disambar Petir, Semua Serasa Mimpi

Masukan tak kalah seru datang dari Jto (Joko Intarto). Pria yang suka memukau dengan pembicaraan duit gede itu melihat kerja panitia sangat professional. Karena itu, sangat pas jika diresmikan sebagai perusahaan event organizer (EO). 

 Aqua tanggap. Pada waktunya nanti akan dibentuk usaha EO. Erwan Widyarto sebagai direktur, Adib sebagai wakil direktur, sementara Aqua sebagai komisaris. Maka, tepuk tangan pun memenuhi ruangan itu.

ero3.jpg

 Usai makan malam, Tofan dan Jto harus mengejar pesawat untuk kembali ke Jakarta. Sementara yang lain pindah ke kafe. Ada Savero nyanyi duet dengan Sylvia, putri Adib, disusul Ustad Husnun mengalunkan May Way, kemudian ditutup Sulaiman Ros mendendangkatn dangdut. Semua bergoyang. Ketika rombongan keluar, pintu resto langsung ditutup. Tampaknya mereka hanya menunggu rombongan pulang. (*) 

Pewarta : Fuad Ariyanto
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda