Reuni Cowas JP IX di Jogja (16)

"Bertemu" Mbah Maridjan Yang Tetap Rosa

Ita Nasyi'ah (penulis) saat mewawancarai mbah Ponirah istrinya almarhum Mbah Marijan (kanan). (Foto: CoWasJP)

COWASJP.COM – Semilir angin dan sejuknya hawa pengunungan sangat terasa tatkala jeep yang saya tumpangi bersama rombongan CowasJP sampai di perbatasan desa Umbulharjo menuju dusun Kinahrejo - populer saat erupsi Merapi tahun 2010 lalu.

Ramahnya alam nan hijau, seramah senyum warga dusun di mana sang juru kunci gunung berapi tinggal dan menghabiskan waktunya, hingga ajal menjemput.

Kendati Kinahrejo luluh lantak tersapu lahar panas Merapi 8 tahun silam, tetapi senyum ramah warga dusun tak pernah lekang. Kendati rumah dan harta benda yang mereka miliki luruh, tetapi keramahan tak pernah luntur.  Itulah salah satu tinggalan abadi dari Mbah Maridjan, juru kunci gunung berapi yang memiliki ketinggian 2930 meter DPL (di atas permukaan laut).

Abdi dalem Kraton Yogjakarta kelahiran 5 Februari 1927. Tahun yang sama dengan kelahiran Persebaya -- tim sepakbola legenda Surabaya. Maridjan  tak hanya mengemban tugas berat dari junjungannya Sultan Hamengku Buwono IX.  Lebih dari itu, amanah itu diemban terkait dengan kraton yang didirikan Pangeran Mangkubumi tahun 1755 pasca perjanjian Giyanti.

Mbah Maridjan diberi nama Mas Penewu Suraksohargo oleh Sultan Hamengku Buwono IX lengkap dengan pin lencana kerajaan. Tepatnya Maret 1982 lalu dengan embel-embel gelar Raden Ngabehi. Profesi mulia itu diperoleh dari sang bapak yang juga jadi kuncen gunung berapi paling gagah di tanah Jawa.  

Maridjan cilik sudah jadi abdi dalem kraton. Pisowanan maupun acara Ngabekten selalu dilakukan pada Ngarso Dalem menemani sang bapak yang jadi juru kunci Merapi. Baru tahun 1970 Maridjan resmi jadi mantri kuncen sang bapak. 

Banyak yang diajarkan Mbah Maridjan kepada warga sekitarnya. Mituhu atau memegang amanah adalah ajaran yang sangat dipegang teguh. Terbukti, saat Merapi erupsi besar tahun 2010 Mbah Maridjan tetap kekeh tidak meninggalkan desanya. Nyawa jadi taruhannya. Jenazah  Mas Penewu Suraksohargo ditemukan sujud di dapur rumah yang kini dilestarikan sebagai petilasan. 

bonita1.jpgPetilasan Mbah Marijan

Jenazah mbarep (sulung) empat bersaudara itu dimakamkan di TPU Desa Srunen, Glagahrejo, Cangkringan, Sleman. Bersebelahan dengan pusara sang kakek Parto Sutikto.

NGAYAHI TUGAS

Ponirah, 78 tahun, istri Mbah Maridjan mengatakan, suaminya sangat teguh pada tugas dan kewajiban yang diberikan Ngarso Dalem. 

"Saat wedhus gembel turun, saya ajak bapake lare-lare mandap, tapi mboten purun (saya ajak bapaknya anak-anak turun, tapi tidak mau). Kulo kale cah-cah (Saya dan anak-anak) yang dipaksa turun sambil mengatakan aku ngayahi (mengemban) tugas. Kowe wae muduno (Kamu saja yang turun)," kata mbah Pon -- sapaan istri Mbah Maridjan yang masih terlihat sehat di usianya yang tidak muda lagi. 

Sambil berkisah dalam bahasa jawa, mata Mbah Pon tampak berkaca-kaca.  Beberapa kali, Mbah Pon menunjukkan tempat pertemuan terakhirnya dengan sang suami yang telah memberikan 10 anak, 11 cucu dan 6 orang cicit. Sebuah bangunan berbentuk joglo yang kini dijadikan petilasan. 

Dulunya, rumah yang ditinggali seperti rumah warga desa kebanyakan. Berdinding gedek (anyaman bambu), beralas tanah degan atap genteng. Rumah semi permanen dibuat suaminya sendiri yang uangnya dari hasil bertani. 

Mbah Pon juga berkisah, jika puluhan kali Merapi njebluk (meletus) desanya selalu terhindar dari marabahaya. Padahal desa di bawahnya, seperti Glagahharjo, Kepuharjo dan Umbulharjo yang sama-sama berada di Cangkringan kerap rusak parah. Bahkan, tidak sedikit jatuh korban jiwa. Entah cacat tubuh hingga tewas. Jika warga desa lain mengungsi, jika Merapi "batuk" tidak demikian dengan warga Kinahrejo.
Pengalaman inilah yang menjadikan suaminya jadi panutan. Rumahnya juga kerap jadi jujukan warga. Kalimatnya jadi petunjuk warga.

Suami yang kerap puasa itu dikenal publik secara luas, saat Merapi erupsi di tahun 2006. Kala itu suaminya mulai banyak didatangi wartawan. Tidak sekedar diwawancarai tentang letusan, tetapi juga apa yang membuatnya lelaki bertubuh kecil itu bertahan. Dampaknya, nama mbah Maridjan tidak hanya dikenal menasional bahkan menginternasional. Mengingat, saat erupsi bertepatan dengan even Piala Dunia (sepakbola). Kemunculan Mbah Maridjan seolah ditunggu penonton terkait kesaktian Mbah Maridjan yang bisa membaca gejala alam di sekitarnya.

MBAH MARIDJAN BANGUN DESA

Popularitas Mbah Maridjan tidak hanya mengalahkan tayangan  bola yang laganya ditunggu seluruh jagad. Nama besar inilah yang dimanfaatkan Irwan Hidayat pengusaha jamu untuk menjadiknnya sebagai bintang iklan. 
Awalnya, menurut Mbah Pon, suaminya menolak. Tawaran itu datang dari staf perusahaan jamu yang bermarkas di Semarang yang datang ke rumahnya  berulang kali. Sampai akhirnya bos jamu Sido Muncul itu datang sendiri. 

"Bapak akhirnya mau tapi ada syarat yang harus dipenuhi. Yaitu mau membangun desa terdampak Merapi," terang Mbah Pon terkait kemunculan suaminya sebagai bintang iklan untuk pertama kalinya.

Benar saja. Kalimat "Rosa" yang berarti kuat dilontarkan dari mulut lelaki yang rutin melakukan ritual di puncak Merapi tersebut.

Dusun-dusun yang kesulitan air bersih, dibuatkan sumur. Fasilitas umum dibangunkan. Tak terkecuali jalanan desa yang rusak juga dibenahi oleh perusahaan jamu tersebut.

ROYALTI IKLAN RP 150 JUTA

Tahun 2006-2007 nama Mbah Mardijan melejit bak meteor. Pendekar dari Gunung Merapi ini benar-benar jadi selebritis. Terbukti, tidak hanya anak-anak saja yang mengenal jargon "Rosa-Rosa" dalam iklan yang ditayang berbagai channel televisi. 

Mbah Maridjan juga kebanjiran penggemar. Terbukti, undangan tampil di kota-kota besar mengangtri. Pejabat, artis, politisi hingga kepala daerah memburu untuk berfoto bersama dan berkenalan. Tidak hanya itu. kehidupan Mbah Maridjan sontak berubah. 

bonita2.jpgDari kiri: Ny Roso Daras, Ita Nasyi'ah, Anita, Mbah Sumardi, Suherman, Dhimam Abror Djuraid, Roso Daras, Jusak Sunaryo.

Rumahnya juga mulai ada pesawat televisinya. Juga radio dan peralatan elektronik. Kata Mbah Pon itu semua pemberian orang. Pesawat televisi dihadiahkan seseorang selain untuk melihat perkembangan erupsi, juga untuk hiburan warga sekitar rumahnya.

Istimewanya, iklan dengan bintang Mbah Maridjan benar-benar "rosa". Selain penjualan meroket, Mbah Maridjan kembali mendapat tawaran iklan dari perusahaan yang sama untuk produk lain. Kali ini, sang penjaga Merapi diduetkan dengan Yohannes Christian John, juara dunia tinju asal Indonesia kelima setelah Ellyas Pical, Nico Thomas, Ajib Albarado dan Suwito Lagola.

Sebagai bintang iklan, Mbah Maridjan berhak atas royalti uang sebesar Rp 150 juta atas produk baru jamu instan. Produknya langsung diburu masyarakat akibat kalimat "Rosa-Rosa" yang dilontarkan kakek 11 cucu tersebut.

Bagi warga desa, royalti Mbah Mardijan sangatlah tinggi. Terlebih sebagai abdi dalem, gajinya dari kraton jumlahnya hanya bisa dihitung dalam puluhan ribu saja. Bak bumi dan langit.

Kendati demikian, Mbah Maridjan tidak serakah. Uang royalti, hasil sebagai pelakon, diserahkan pada dua desa. Masing-masing Rp 50 juta, untuk dua pedukuhan. Sisa yang Rp 50 juta untuk membangun Masjid Al Amin yang dibangun di atas tanah miliknya.  

Selain sebagai penunggu Gunung Merapi, Mbah Maridjan juga sebagai takmir masjid yang letaknya hanya beberapa jengkal langkah dari tempat tinggalnya
Kabarnya, sisa uang tidak seberapa itu juga untuk memperbaiki rumah pribadinya. Tujuannya tidak lain, jika ada wartawan dan tamu yang menginap di rumahnya lebih nyaman. 

RUMAH MBAH MARIDJAN TERSAPU ANGIN

Sumardi Mardisoekismo, pelopor Desa Wisata Pentingsari, Umbulrejo, Cangkringan, mengisahkan, saat mendengar Mbah Mardijan membangun rumah dari hasilnya menjadi bintang iklan, buru-buru mendatangi rumahnya.

Tujuannya tidak lain mengingatkan akan tujuannya semula agar tidak melenceng. 

"Kang Djan, rasane kok yo ra tepak toh, nek njenengan itu ikut membangun rumah (Kakak Djan, rasanya koq tidak tepat kalau Anda ikut membangun rumah). Ojo sampek posomu badal kang (Jangan sampai puasamu batal, kakak)," tuturnya saat itu dalam bahasa Jawa. 

Seperti halilintar di siang bolong, Mbah Maridjan kaget.  "Waduh, iyo toh kang. Piye maneh kang. Wis kadung, ki (Aduh betul Kak. Bagaimana lagi ini sudah terlanjur) ," ujar Mbah Maridjan seperti yang ditirukan Sumardi.

Tidak sampai satu bulan rumah Mbah Mardijan setelah direnovasi, suatu siang, tiba-tiba ada angin puting beliung yang hanya berputar di rumah Mbah Maridjan. Bangunan barunya itu ludes. Rata dengan tanah. 
Sumardi berkisah tentang nasib sahabatnya dengan mata sayu. Ada kesedihan yang dalam, mengenang kehidupan sahabatnya.

Istimewanya, Mbah Maridjan melakukan kontak  dengan Sumardi dua minggu sebelum Merapi memuntahkan lava 26 Oktober 2010 hingga Mbah Maridjan ditemukan tewas.  Juru kunci Merapi itu menitipkan seluruh "penghuni" Merapi di Pentingsari. Sebuah desa yang terlihat subur hanya berjarak 15 kilometer dari Kinahrejo. 

"Sekarang ini  hewan, maupun "penghuni" Merapi lainnya ada di Pentingsari. Ada yang bisa dilihat kok. Ular, monyet, kijang, kelinci, ayam dan masih banyak lagi," ucapnya seraya terkekeh. 

Berbagai kisah seputar kehebatan penunggu Merapi disampaikan kepada penulis. Termasuk kata "Rosa" yang membuat Mbah Maridjan tak lagi Rosa (kuat) menghadapi keganasan gunung yang ditunggui bertahun-tahun. 

 "Kita ini manusia. Banyak kelemahan. Ayo, ojo adigang, adigung, adiguno (jangan sombong). Ayo saling mengingatkan, " tambahnya mengurai banyak kisah mistis di balik Merapi.

Mbah Sumardi mengaku punya banyak kenangan indah dengan Mbah Maridjan. Ketika masih bersama. Kenangan itu dikisahkan di sela menyambut rombongan HUT ke-3 dan Reuni CowasJP ke-9 di wilayahnya. Rombongan para mantan Jawa Pos Group. Di rumahnya yang cukup besar. Dengan lingkungan asri, bersih dan teduh. (Bersambung)

Pewarta : Ita Siti Nasyi’ah
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda